Langsung ke konten utama

Ada Empat Nilai Mendasar yang Ditanamkan Dalam Famgath

TR. Sengkaling UMM, Lokasi Famgath ke-7, 29-30 Des 2018
Malangmu.or.id -- Sabtu, 29 Desember 2018 adalah hari dimulainya Family Gathering (Famgath) Muhammadiyah Jatim  ke-7 yang bertempat di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Acara yang bakal dilaksanakan hingga Ahad, 30 Desember 2018 ini memiliki makna penting bagi persyarikatan muhammadiyah.

Apa maksud dan tujuan diaelenggarakan Famgath hingga terlaksana di tahun ke-7 ini? Berikut tulisan Nadjib Hamid selaku Koordinator utama kegiatan ini.

Famgath merupakan bentuk kegiatan perkaderan kultural, yang melibatkan keluarga aktivis, bernuansa rekreatif dan bermuatan ideologis. Tujuannya, merawat keluarga kader Sang Surya agar tetap solid dan dapat mewujudkan nilai-nilai ke-Islaman dalam kehidupan keseharian, di lingkungan keluarga. Sekaligus untuk menjaga kesinambungan antargenerasi, agar tidak terputus dengan generasi kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kehadiran model perkaderan yang kali pertama diadakan pada 2011 ini, merupakan wujud ikhtiar jama’i, untuk menjaga dan merawat Keluarga Kader Sang Surya. Karena sifatnya yang kultural, kepesertaannya tanpa dibatasi oleh latar historis seseorang, ataupun jabatan yang sekarang disandang.

Siapa saja yang berminat, asalkan punya komitmen kuat dan kontributif pada gerakan dakwah, bisa bergabung. Karena justru sisi positif dari para “muallaf” seperti itu, kerap lebih militan dibanding yang mengaku kader asli.

Semula yang mengikuti terbatas, hanya sekitar 40 peserta dari 10 keluarga. Dalam perjalanannya menarik berbagai kalangan luas. Bukan saja dari daerah-daerah di Jawa Timur, tapi juga luar provinsi. Seperti Samarinda, Kaltara, Makassar, Jakarta, Klaten, dan Yogyakarta. Pada Famgath ke-6, lebih dari 450 peserta ikut memeriahkannya. Dan, tahun ini sudah terdaftar lebih dari 650 orang.

Banyaknya peserta yang hadir secara sukarela, menepis sinyalemen adanya krisis kader di lingkungan Muhammadiyah. Karena sejatinya memang banyak kader, cuma belum terhimpun dengan baik. Terbukti, melalui kegiatan ini, tergali banyak kader potensial.

Desain kegiatannya, bernuansa rekreatif. Agar di tengah kesibukan rutin masing-masing, kegiatan ini bisa menjadi alternatif refreshing bagi keluarga yang bersangkutan. Acaranya unik, berbeda dengan kegiatan formal, dan menggembirakan untuk semua usia, dipenuhi door prize menarik yang disediakan oleh sesama. Selain taushiyah, ada dongeng dan sulap, game, outbond, futsal, renang, dan lomba hafalan al-Quran. Penyelenggaraannya selalu di tempat terbuka, pada waktu liburan sekolah.
Materi acaranya, bermuatan Ideologis. Beberapa nilai ideologis coba ditanamkan. Antara lain:

Pertama, keteladanan. Semua peserta, tua muda, diajak shalat berjamaah, kemudian kultum bergantian. Dari forum ini, lahir gagasan segar, curhatan lucu, contoh-contoh amalan yang berkah. Juga kisah-kisah inspiratif mengenai perjumpaannya dengan Muhammadiyah.

Kedua, solidaritas sosial. Doktrin al-Ma’un mengenai kepedulian dan berbagi dengan sesama, dipraktikkan langsung. Misalnya, dari sisi pembiayaan. Seluruhnya ditanggung renteng oleh peserta sendiri dengan cara urunan sukarela sesuai kemampuan, tanpa mengganggu uang Persyarikatan. Ada yang nyumbang uang, barang konsumsi, dan aneka hadiah. Semua berlomba berbagi, menyumbangkan apa yang dipunyai. Jika lebih, disumbangkan untuk pemberdayaan kader.

Ketiga, kebersamaan. Tidak boleh ada yang merasa jadi tamu dan minta dilayani, tapi harus saling melayani. Peserta bisa tidur bersama di tempat sederhana, bersih-bersih bersama di ruang pertemuan, menyiapkan sarapan bersama, dan sebagainya.

Keempat, regenerasi. Seperti dinyatakan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Saad Ibrahim, masa depan Muhammadiyah harus bisa diproyeksikan sejak awal. Karena segala sesuatu tidak ada yang ujuk-ujuk. “Famget ini bagian dari proyeksi masa depan keluarga Muhammadiyah, atau gerakan untuk mendesain generasi masa depan.”

Famgath sebagai salah satu contoh model, diharapkan bisa mengilhami daerah-daerah untuk melakukan hal serupa, dalam bentuknya yang khas, sesuai kondisi lokal masing-masing.

Penting dicatat, meski Famgath adalah gerakan kultural, tapi tetap perlu *manajemen yang bagus* dan *menggembirakan*, bukan manajemen bisnis. Jangan sampai ada yang merasa terintimidasi, lalu tidak nyaman bergabung. Misalnya, gara-gara sering _diobrak-obrak_ soal kontribusi dana, lalu memilih tidak ikut. Padahal, dari awal diniatkan untuk saling membantu. Bagi yang punya kemampuan lebih, terketuk hatinya untuk membantu yang kurang mampu, dengan senang hati.

Siapkah kita semua menyukseskan Famgath ke-7 ini? Semoga!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Muhammadiyah Malang Buka Pesantren Putri

Malangmu.or.id -- Lembaga pendidikan pesantren yang dinanti-nanti oleh warga Muhammadiyah Malang kini telah hadir. Berlokasi di Kepanjen, Pesantren Muhammadiyah Al-Amin Putri mulai beroperasional. Tahun ajaran baru ini 2018/2019 dibuka pendaftaran dengan kuota yang terbatas.

Kelas terbatas, hanya 20 santriwati yang bakal menjadi santri perdana di pesantren ini. Didesain Program khusus yang bekerjasama dengan SMP Muhammadiyah 03 dan SMA Muhammadiyah 1 Kepanjen.

Ada banyak keunggulan yang ditawarkan dalam program ini, yakni:
1) Semua kegiatan pembelajaran terpadu dan terintegrasi di Pesantren.
2) Kurikulum nya mengikuti Sisdiknas dan KMI (Pondok modern).
3) Bahasa yang digunakan dalam kesehariannya adalah Inggris dan Arab.
4) Qiroatul Kutub (membaca kitab).
5) Tahfidz Qur'an.
6) Tahsin Al-quran.
7) Pengajar dan mentor alumnus pondok pesantren modern.


Adapun kegiatan ekstra kurikulernya adalah sebagai berikut:
1) Ketangkasan; memanah
2) Bela diri; tapak suci
3) Kepanduan; Hizbul Wat…

Reuni Veteran Pemuda Muhammadiyah, Bangkitkan Semangat Ber-Muhammadiyah

Bazar Meriahkan Pengajian Halalbihalal PDM di Kromengan

Malangmu.or.id -KROMENGAN- Mengawali syawalan 1440 H, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang menggelar pengajian dwi bulanan sekalgus Halal-bihalal di Cabang Kromengan (23/6). Salah satu Cabang Muhammadiyah yang terletak di penghujung perbatasan kabupaten Blitar ini, dipilih sebagai tempat pengajian, tepatnya di Masjid Al Ikhlas desa Kromengan kec. Kromengan. Kromengan adalah salah satu kecamatan di kabupaten Malang yang dikelilingi desa yang banyak non Muslim.

Seperti lumrahnya, pengajian daerah ini selalu dimeriahkan oleh Bazar Produk usaha Muhammadiyah yang dikoordinir oleh Majelis Pemberdayaan dan Ekonomi PDM. Beberapa aneka produk usaha seperti busana muslim, es puter cak rozi, makanan olahan, kecapmu, helm dan lain sebagainya ikut menghiasai stand stand bazar. Menurut Bahtiar, Ketua Majelis Pemberdayaan dan Ekonomi PDM Kab. Malang, event Bazar produk usaha Muhammadiyah selalu hadir dalam acara seperti pengajian daerah. Disamping untuk memberikan kesempatan kepada p…