Sabtu, 08 September 2018

Posted by hilmi Posted on September 08, 2018 | No comments

Jamroji, Sosok Dibalik Flash Mob Pesmaba UMM 2018


Malangmu.or.id -- Ada sosok penting dibalik hadirnya mahakarya tujuh formasi flashmob Pengenalan Studi Mahasiswa Baru (Pesmaba) 2018 Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Flasmbob itu kemudian menjadi viral di Media Sosial (Medsos).  Itu semua tak lepas dari  peran  dosen Prodi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UMM Jamroji, M.Comms.

Berkat kreativitasnya, pria alumni Curtin University Australia ini berhasil menciptakan gambar dan tulisan dengan menggerakan lebih dari 7.500 mahasiswa baru (Maba) dalam sejumlah formasi. Hebatnya untuk membentuk ketujuh formasi tersebut yakni “Merah-Putih”, “KH Ahmad Dahlan”, “Logo UMM”, “Students Today, Leaders Tomorrow”, “Peta Indonesia dan Pray for Lombok”, Jamroji tak perlu ilmu khusus. Ia mengaku hanya punya persiapan selama 30 menit. Juga,   hanya belajar secara otodidak.

“Saya belajar flashmob otodidak. Saya menemukan sendiri cara yang efektif, efisien dan presisi membuat formasi itu. Waktu yang diberikan panitia juga sangat mepet,” terang Jamroji, Rabu (5/9).

Menjadi flashmob yang keempat, Jamroji mengaku persiapan yang dilakukan pada tahun ini terbilang pendek, total hanya membutuhkan waktu selama enam hari. Dengan dibantu 20 orang mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, ia pun mengeksekusi konsep yang disetujui pihak kampus untuk direalisasikan.

“Karena ini sudah yang keempat dan tempatnya sama, maka bisa dibilang waktu persiapannya singkat. Saya dapat surat tugas 20 Agustus 2018, lalu saya mulai membuat enam sketsa di komputer dalam waktu dua hari. Setelah sketsa disetujui, saya dan tim melakukan griding di Helipad,” ujar pria yang juga menjadi inisiator Kampung Warna-Warni Jodipan Malang yang melegenda secara nasional tersebut.
            
Meski bukan yang pertama kali, diakui Jamroji, tidak mudah menyempurnakan sebuah flashmob. Dalam mengeksekusi proyek ini, ia perlu melibatkan sekitar 20 orang mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM untuk membantu mulai dari proses desain hingga penataan posisi Maba. Hal tersulit menurutnya, ada pada proses mencocokkan sketsa formasi dengan grid di excel.

Selain itu proses griding di Helipad juga memiliki tantangan tersendiri, karena membutuhkan ketelitian dan ketelatenan dalam memasang lebih dari 7.000 lakban sebagai penanda formasi. “Yang tak kalah sulit adalah menata barisan untuk ribuan Maba ini,” imbuhnya.

Memiliki kekhasan dibanding flashmob lain, UMM tetap mempertahankan tradisi tanpa alat bantu peraga. Flashmob UMM hanya memanfaatkan atribut yang sudah melekat pada mahasiswa baru, yaitu seragam putih-putih, almamater dan topi. Inilah sebabnya mengapa flashmob UMM disebut sebagai Jas Merah Mob.

Tak hanya sekedar membuat formasi, Jas Merah Mob juga berbagai membawa pesan yang ingin disampaikan pada khalayak luas. Salah satunya “Pray for Lombok” yang juga diikuti oleh aksi donasi untuk Lombok. “Ini untuk menunjukkan kepedulian pada negeri ini. Donasi nantinya akan kami salurkan melalui Lazismu,” pungkas pria kelahiran Karanganyar ini.

Sukses menciptakan karya kreatif melalui Flashmob Pesmaba dan Kampung Warna-Warni Jodipan, Jamroji kini tengah mempersiapkan mega proyek lain yakni Discover Gresik dengan target merubah sebuah kawasan biasa menjadi daerah dengan berbagai konsep wisata (hms/nrd).
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar