Senin, 17 September 2018

Posted by Ridlo Posted on September 17, 2018 | No comments

Aparat Keamanan Perlu Belajar dari Teladan Kiai Ahmad Dahlan


Drs. Nadjib Hamid, M.Si dalam Pengajian Daerah Muhammadiyah Kab. Malang, Ahad (16/09/18)
Malangmu.or.id -BULULAWANG- Dikisahkan, ketika Kiai Haji Ahmad Dahlan akan melaksanakan dakwah di daerah Banyuwangi Jawa Timur, beliau mendapatkan surat kaleng yang isinya berupa ancaman pembunuhan. Jika Dahlan tetap pergi di kota Gandrung, sebutan lain Banyuwangi, maka sekelompok orang-orang disana akan siap menghadang untuk membunuhnya.

“Kalau Dahlan nekat ke Banyuwangi, maka pulang akan tinggal nama dan istrinya akan dijadikan pelayan”, diantar bunyi ancaman yang dikirimkan. Ini adalah cerita Drs. Nadjib Hamid, M.Si, Wakil Ketua PWM Jawa Timur ketika berceramah di Pengajian Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang yang berlokasi di lapangan Bululawang (16/9).

Najib melanjutkan ceritanya. Namun ancaman itu tidak membuat Dahlan bergeming, karena beliau yakin dan ikhlas berjuang untuk Islam hanya dengan Ridho Allah. Bahkan Dahlan berangkat bersama istrinya ke kota Banyuwangi dengan naik kereta api. Sesampainya di stasiun kota Banyuwangi, sudah disambut oleh sekelompok yang sudah siap untuk menghadang dan membunuhnya dengan dikawal beberapa aparat keamanan. Ketika Dahlan turun dari kereta beberapa aparat menghampirinya dengan bermaksud mencegah Dahlan agar mengurungkan niatnya melanjutkan perjalanan. Tapi, Dahlan justru mengatakan, “Saya ini akan menyebarkan kebaikan dan kebenaran, kok justru tidak boleh. Lha mereka itu jelas jelas kelompok yang mau membunuh saya kok malah dibiarkan?”, jelas Dahlan sebagaimana dikutip Najib.

Akhirnya karena tidak bisa menjawab pertanyaan Dahlan, maka mereka tidak bisa mencegah untuk tetap melanjutkan perjalanannnya menuju lokasi pengajian. Lanjut cerita Nadjib yang membuat seribuan jamaah pengajian Muhammadiyan kabupaten Malang terkesima menyimaknya.

Dalam paparannya, Nadjib menyebutkan beberapa hal menarik dan mengejutkan setelah Kiai Dahlan memberikan pengajian di Banyuwangi. Pertama, ternyata orang yang membuat surat kaleng, konon namanya Abdullah, adalah orang yang pertama kali masuk Muhammadiyah setelah mengikuti ceramah Dahlan. Justru dia menjadi pioneer pergerakan Muhammadiyah di Banyuwangi waktu itu. Hal tersebut sesuai dengan buku sejarah berdirinya Muhammadiyah Banyuwangi. Ini membuktikan bahwa dakwah Dahlan yang gigih penuh keikhlasan dan keberanian menjadi bukti pergerakan dan kemajuan Muhammadiyah sampai sekarang.

Kedua, sadarnya aparat keamanan jaman dulu akan penting memutuskan tindakan yang benar, sehingga bisa menentukan mana yang hak dan mana yang bathil. “Harusnya aparat keamanan sekarang ini mestinya mencontoh apa yang telah dilakukan Kiai Ahmad Dahlan seabad yang lalu. Bila aparat sekarang ini memberikan perlindungan kepada pihak yang menolak pengajian pengajian maka akan bahaya kedepan mereka yang menolak akan merajalela karna bila ada pengajaian yang tidak sealiran maka akan lebih melakukan aksi aksi lagi, ”tegas Nadjib yang diwakafkan Muhammadiyah untuk maju menjadi calon anggota DPD RI Dapil Jawa Timur.

Nadjib berharap semoga aparat keamanan sekarang benar-benar bisa mencontoh apa yang telah dilakukan Kiai Dahlan seabad yang lalu. Kejadian yang sama terjadi lagi di akhir akhir ini, namun sikap aparat sudah beda dengan yang lalu. “Semoga mereka segera bisa memilih dan bersikap yang benar, mementingkan yang haq dan menyingkirkan yang bathil serta tidak adanya campur tangan pihak-pihak tertentu untuk menjaga kemaslahatan umat Islam di Indonesia, “pungkas Nadjib diwarnai applause jamaah pengajian yang memadati area lapangan Bululawang (rid/nrd).
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar