Minggu, 05 Agustus 2018

Posted by hilmi Posted on Agustus 05, 2018 | 1 comment

Merah Putih Tutupi Masjid K.H. Ahmad Dahlan Malang

Bendera Merah Putih tutupi bagian atas masjid KH Ahmad Dahlan, Karang Ploso kab. Malang
Malangmu.or.id -- Bendera Merah Putih raksasa di stadion saat pertandingan timnas Indonesia mungkin sudah biasa. Tetapi, ada yang berbeda di bangunan Masjid KH Ahmad Dahlan Ngijo Karangploso Kabupaten Malang, yang tertutup Merah Putih raksasa.

"Dipasangnya Merah Putih ini sebagai wujud kepedulian terhadap NKRI dalam menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-73," kata Sugiyanto, ketua Takmir Masjid KH Ahmad Dahlan Ngijo Karangploso, Sabtu (5/8).

Ia berharap, bendera yang dipasang di masjid KH Ahmad Dahlan tersebut juga mengingatkan agar jama'ah khususnya, dan masyarakat tidak lupa bahwa kita berada di wilayah NKRI dan bisa sumbangsih terhadap kemerdekaan yang diraih dengan banyak pengorbanan. Bendera Merah Putih raksasa ini rencananya dipasang selama bulan Agustus 2018.

Bendera Merah Putih ini berukuran 25 x 6 meter, dan sudah dipasang mengelilingi dua sisi bagian atas bangunan masjid sejak 1 Agustus lalu. Masjid KH Ahmad Dahlan sendiri berada komplek Perum Griya Permata Alam blok O Karangploso di atas tanah wakaf warga Sidoarjo seluas 180 meter persegi.

Menurut Sugiyanto, masjid KH Ahmad Dahlan Ngijo Karangploso ini berdiri sejak Juni 2012. Di lantai satu gedung masjid, sudah ada TPQ Aisyiyah dan Taman Pengasuhan Anak Cita Sakinah. Pihaknya juga merencanakan pengembangan dengan dana  pembangunan sekitar Rp 40 miliar yang di lahan dekat masjid yang berjarak 200 meter.

"PC Muhammadiyah Karangploso akan mengembangkan juga gedung untuk dunia pendidikan. Insya Allah kami akan mendirikan pesantren berbasis vokasi, dengan rancang bangun gedung lima lantai," pungkasnya. (amn)
Posted by hilmi Posted on Agustus 05, 2018 | No comments

Workshop Manajemen Sukses Usaha KADOMU

Workshop Manajemen Sukses Usaha KADOMU, Ahad, 5/08/18
Malangmu.or.id -- WORKSHOP "Manajemen Sukses Usaha Kambing Domba (KADO-MU)" yang diselenggarakan oleh Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah kabupaten Malang, Ahad 5 Agustus 2018 / 23 Dzulqo'dah 1439H berlangsung lancar dan sukses. Acara yang digelar di Masjid Al-Hilal Pondok Bestari Indah ini dilengkapi dengan hidangan menu konsumsi Nasi Kabuli khas Arab.

Lengkap dg analisis BISNIS KADO qurban & Perah, dan Pembentukan "KOMUNITAS PETERNAK KADOMU" di Masjid Al Hilal Pondok Bestari Indah. Menu konsumsi Nasi Kabuli khas Arab (masjid Nabawi):

Diikuti oleh peserta sebanyak 30 orang dan dihadiri oleh Wakil Ketua PDM yang membawahi 3 majelis (MPM, MEK, dan MLH). Dihadiri pula oleh ketua Majlis MEK bapak Bachtiar  sebagai bentuk riil sinergi MPM-MEK PDM Kab. Malang.

Pada Workshop ini, Peserta diberikan pengetahuan  teori dan praktek manjemen KADO-MU. Selain itu, terbentuk komunitas pengusaha "KADOMU" yang diketuai Bpk. Nur Khozin S.Pt. Rencana jangka pendek komunitas ini adalah akan membuat kemitraan usaha penggemukan domba dengan mengumpulkan saham dari warga Muhammadiyah. Jelas Ketua MPM PDM kab. Malang, Bpk. Achmad Wahyudi. Adapun jangka panjangnya adalah insyaallah akan membentuk jejaring usaha peternakan kambing perah sistem inti plasma. Imbuhnya. (hil)

Jumat, 03 Agustus 2018

Posted by hilmi Posted on Agustus 03, 2018 | No comments

Jihad Digital Muhammadiyah, Edukasi Warganet Bermedsos Santun

Prof. Dadang Kahmad ketika memberi sambutan penutupan acara Temu Warganet Muhammadiyah di LPMP Yogyakarta, 03/08/2018
YOGYAKARTA - Persyarikatan Muhammadiyah memiliki sejumlah agenda besar di bidang informasi. Memberikan edukasi menggunakan media sosial secara positif menjadi salah satu prioritas jihad informasi Muhammadiyah.

Hal ini mengemuka dalam Temu Nasional Warganet Muhammadiyah yang dilangsungkan di Yogyakarta, 2-3 Agustus 2018 ini. Forum ini mempertemukan delegasi aktivis Muhammadiyah se Indonesia yang selama ini bergelut di bidang literasi, yakni Majelis Pustaka dan Informasi (MPI).

"Ada keprihatinan PP Muhammadiyah terkait banyaknya masalah hukum akibat yang dilakukan di medsos. Cantohnya adanya aktivis yang terlibat Muhammadiyah yang diduga melakukan perbuatan tidak menyenangkan dan penyebaran hate speech yang menyinggung Presiden Jokowi," ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Bidang Pustaka dan Informasi, Prof Dr Dadang Kahmad, Kamis (2/3) malam.

Ditegaskan, edukasi bermedsos menjadi penting terlebih juga kini muncul fenomena keberagaman post-truth, yakni anggapan kebenaran dan realitas obyektif yang tidak penting bagi publik dunia maya.

"Ahlak dalam memanfaatkan sosial media sangat penting diperhatikan dan tidak bisa dikesampingkan. Bermedsos secara santun harus tetap menjadi karakter warga Muhammadiyah" tegas Prof Dadang.

Peserta Temu Nasional Warganet Muhammadiyah juga dibekali materi UU Informasi dan Transaksi Elektronik dan perundangan lainnya agar tidak terjebak dalam penyalahgunaan medsos.

Dr Sonny Zuihuda, narasumber lainnya menegaskan, perlunya internalisai nilai-nilai masyarakat digital agar medsos tetap digunakan secara positif dan tidak serampangan. Dikatakan, teknologi informasi hanya alat untuk mencapai tujuan dan tidak bebas nilai. Fungsinya hanya membantu, bukan menggantikan manusia.

Pria yang juga ketua PCM Istimewa Malaysia ini juga mengingatkan agar tidak sembarang data atau konten dituliskan di medsos.

"Data ibaratnya adalah mata uang. Hal privat dalam data yang dimunculkan di medsos, akan mudah diakses (dicuri) dan dimanfaatkan untuk kepentingan yang merugikan dan tidak bertanggung jawab," tegas Sony.

Menurutnya, cara terbaik malawan maraknya konten negatif adalah dengan membuat konten positif sebanyak-banyaknya.

"Internet dan media alam maya juga bisa dijadikan medan dakwah Muhammadiyah dengan konten-konten kebaikan," pungkasnya. (amin)
Posted by hilmi Posted on Agustus 03, 2018 | No comments

Temu Warganet Muhammadiyah Gagas Medsos Berkemajuan

Dr. Sonny Zulhada ketika memberikan materi Etika Bermedsos dan UU ITE di Temu Warganet Muhammadiyah, Jogjakarta 2 - 3 Agustus 2018
Jogjakarta -- MEDSOS Berkemajuan menjadi trending topik pada acara Temu Warganet Muhammadiyah se-Indonesia di Jogjakarta, 2-3 Agustus 2018. Acara yang digagas oleh Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini dihadiri oleh sekitar 200 peserta. Mereka adalah utusan dari PWM dan PDM se-Indonesia yang membidangi MPI.

Bertempat di Aula gedung Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan Jogjakarta inilah para penggerak Medsos Muhammadiyah digembleng selama 2 hari. Acara ini menghadirkan Pemateri yang handal baik dari kalangan akademisi, praktisi dan Birokrat.

Kepala Pustekkom Kemendikbud RI yang diwakili oleh Machhendra Setyo Atmaja sebagai pemateri Media Sosial dan Karakter Bangsa mengatakan, ada dua hal penting yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah dalam berkiprah di dunia Medos ini. Pertama adalah harmonisasi. Menjalin hubungan yang erat antara Pusat hingga Ranting terutama dalam kaitannya dengan informasi. Jika terjalin hubungan yang harmonis, maka apapun aktifitas, kegiatan, agenda dan proyeksi ke depan bisa disikapi dengan bijak.

Kedua adalah Konsolidasi. Konsolidasi dalam dunia maya atau medsos penting dilakukan. Contoh, satu orang bicara tentang suatu hal, tidak akan menjadi apa-apa jika dibandingkan dengan sepuluh ribu orang yang menyuarakan suatu hal. Kekuatan konsolidasi inilah yang akan mengantarkan medsos yang dikelolah bisa berkembang dan menguasi jagat maya.

Lebih lanjut menurutnya, Salah satu faktor Bapak Mendikbud, Muhadjir Effendy yang menekankan pendidikan karakter adalah semakin minimnya literasi di tingkat anak didik. Kecenderungan untuk ketergantungan anak kepada Medsos yang masih banyak nilai negatifnya, menjadi keresahan dunia pendidikan. oleh karenanya, menguasai Medsos menjadi mendesak untuk dilakukan Persyarikatan Muhammadiyah agar masyarakat di semua lapisan mendapatkan pencerahan.

Senada dengan itu, Dr. Agung Danarto menyampaikan bahwa Muhammadiyah sudah seharusnya mampu menguasasi jagat media ini. Kemampuan secara intelektual, Skill/keahlian dalam IT sudah tidak diragukan lagi, begitu juga soal finansial. Tetapi, harus diakui, sampai saat ini dunia medsos masih dikuasi tetangga sebelah. inilah keprihatian kita sebagai organisasi yang dibilang modern, tetapi ternyata ketinggalan, keliatan tradisional.

Adapun Ketua MPI Pusat, Dr. Muchlas, M.T berharap kepada seluruh Jajaran MPI baik ditingkat Pusat, Wilayah dan Daerah bangkit secara bersama-sama untuk membangun Muhammadiyah lewat dunia Digital ini. Media Sosial harus kita rebut, jadikan Medsos sebagai lahan dakwah. Hadirkan Narasi Alternaitf dalam bermedos yang berkemajuan. Bukan sekedar tulisan yang tidak berbobot, tetapi sebaliknya. narasi edukasi yang berkualitas dan mencerahkan. (hil)

Kamis, 02 Agustus 2018

Dr. Agung Danarto, M.Ag ketika membuka Acara Temu Warganet Muhammadiyah di LPMP Jogjakarta, 2 Agustus 2018

YOGYAKARTA - Maraknya serbuan konten dan praktik penyalahgunaan media sosial saat ini menjadi keprihatinan Muhammmadiyah. Agar tepat dan positif dalam bermedsos, netizen Muhammadiyah duduk bersama dalam Temu Nasional Warganet Muhammadiyah di Yogyakarta, 2-3 Agustus 2018 ini.

Dalam kesempatan membuka acara temu nasional yang dilangsungkan di LPMP Yogyakarta ini, Wakil Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr Agung Danarto MAg menegaskan, dunia maya sejatinya sekarang adalah dunia nyata yang dihadapi semua orang. Teknologi informasi bahkan telah mendisrupsi di segala aspek kehidupan kita.

"Saat ini eranya post-truth, realitas obyektif tidak lagi dominan dalam memengurihi opini publik dunia maya," kata Agung Danarto, Kamis (2/8) sore.

Saat ini, lanjutnya, bisa jadi kebenaran yang dikirim tidak terlalu penting, tapi bagaimana reaksi dan respon dengan cepat diperoleh dari netizen, sehingga akan mudah memengaruhi opini publik. Akan tetapi, kata Agung, semakin banyak dishare, kebenaran dan realitas obyektif akan menjadi mainstream jiga disampaikan terus menerus dan sesering mungkin.

"Tafsir terhadap realitas (kebenaran) bisa direbut dari publik muslim di Indonesia. Jadi, netizen Muhammadiyah juga harus bisa memenangi persingan konten digital," tegasnya.

Sementara itu, ketua MPI PP Muhammadiyah Mukhlas menegaskan, Temu Nasional Warganet ini diikuti setidaknya 132 delegasi MPI PDM kabupaten/kota dan 22 PWM se Indonesia.

"Kami berharap forum Warganet Muhammadiyah ini akan menghasilkan narasi alternatif konten digital dan cetak biru yang bisa dipedomani bersama-sama pengelola jejaring media Muhammadiyah," kata Mukhlas. (amin)