Sabtu, 26 Mei 2018

Saad Ibrahim, Ketua PWM Jatim dalam Kajian Ramadhan PDM kab. Malang 27/05/18 (foto: Aqib)
Malangmu.or.id – “Kalau kita berbicara Kepemimpinan berarti kita bicara kekuasaan. Salah satu atribut Allah di dalam asmaul husna adalah kekuasaan. Nama-nama itu termaktub dalam al-Qodir, al-Jabbar, al-Qahar dan al-Aziz. Oleh karenanya, kita harus menyatakan secara esensisal bahwa kekuasaan itu milik Allah SWT.” Demikian ungkap Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim, M.A dalam Kajian Ramadhan ke-26 1439H di Kepanjen.
Kajian Ramadhan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten Malang di Aula SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen ini diikuti oleh seluruh Pimpinan Muhammadiyah dan ortomnya mulai tingkat Ranting hingga Daerah beserta para penggerak Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) se-kab. Malang. Sekitar 1000 peserta jamaah kajian memadati ruang Aula.
Sa’ad –panggilan akrab ketua PWM Jatim—menguraikan dengan panjang lebar tentang makna kekuasaan yang termuat dalam al-Qur’an. Seperti halnya yang disebutkan dalam Q.S. Al-Mulk ayat 1, yang bermakna  keseluruhan kerajaan adalah milik Allah. Adapun sebagian kekuasan diberikan kepada manusia, hal ini disebutkan dalam Q.S. Al-Baqarah ayat 30, yang menjelaskan tugas manusia untuk mengatur, memakmurkan bumi yang didasarkan kepada kekuasaan hanyalah milik Allah SWT.
“Pada hakikatnya, manusia mengabdi kepada Allah. Manusia bertugas mengatur di bumi ini sesuai dengan aturan-aturan Allah.” Terang Saad. Seluruh manusia itu kholaaif (pemimpin), jelas Saad. Hal ini sebagaimana disitir oleh hadits kullukum raa’in wa kullukum masulun 'an raiyyatihi yang memiliki arti, setiap kamu semua adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban. Tetapi, kata Saad, kekuasaan yang dimiliki oleh manusia itu pada dasarnya sekedar dipinjami. Karena atas dasar dipinjami oleh Allah, maka harus sesuai ketentuanNya. Demikian jelas Saad di depan peserta Kajian Ramadhan 1439H PDM Kab. Malang.
Dalam tataran praktis atau riil, berbagai macam bentuk kepemimpinan muncul, mulai teokrasi, demokrasi dan sebagainya itu adalah wujud implementasi dari teori-teori kekuasaan yang terungkap dalam Qur’an. Menurut Saad, di dalam Qur’an bukan persoalan bentuknya yang ada seperti monarki, demokrasi dan sebagainya itu, melainkan bagaimana sistem pemerintahan itu dijalankan. Apakah sistem itu sudah di jalankan sesuai dengan kaidah-kaidah atau nilai-nilai kepemimpinan dalam al-Qur’an atau belum? Sebab, kepemimpinan itu dipertanggungjawabkan bukan hanya secara horizontal, sesama manusia saja, melainkan yang paling utama adalah vertikal, kepada Allah SWT. (hil/Aqib)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar