Minggu, 27 Mei 2018

Prof. Dr. Zainuddin Maliki dalam Kajian Ramadhan PDM kab. Malang 1439H, Ahad 27/05/18

Malangmu.or.id – “Muhammadiyah sejak berdiri tidak pernah terlepas dari politik. Tetapi, Mulai berdiri hingga sekarang tidak pernah mendeklarasikan dirinya sebagai partai politik, melainkan sebagai organisasi dakwah. Organisasi yang memfokuskan diri dalam pengembangan di bidang dakwah dan penguatan di bidang kultural.” Demikian pernyataan Prof. Dr. Zainuddin Maliki dalam mengawali taushiyahnya pada Kajian Ramadhan 1439H Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten Malang, Ahad 27 Mei 2018.

Pada acara yang digelar di Aula SMK Muhammadiyah 01 Kepanjen itu, Zainuddin –nama panggilannya- mengupas persoalan hubungan Muhammadiyah dengan politik. Menurutnya, Muhammadiyah tidak pernah berpengalaman di bidang kepesertaan pemilu. Muhammadiyah tidak memiliki pengalaman secara langsung sebagai partai peserta pemilu. Hal ini, jelas Dosen Unesa ini, tentu saja memiliki kelebihan dan sekaligus kekurangan. Apa itu?

Kelebihannya adalah Muhammamdiyah tidak dikalkulasikan sebagai lawan politik. Papar Zainuddin. Karena, dalam politik itu pola hubugannya adalah siapa mendapat apa? Pola hubungan demikian ini tidak pernah terjadi dalam gerakan dakwah Muhammadiyah.

Dikarenakan Muhammadiyah membatasi diri untuk tidak terlibat secara langsung dengan urusan politik praktis maka,menurut wakil ketua PWM Jatim, ini akan mendapatkan kesempatan yang luas untuk menyalurkan energinya di dalam pengembangan yang bersifat kultural, jelasnya. Muhammadiyah itu gerakan kultural, kaya akan gerakan sosial juga sekaligus gerakan spiritual. Modal kultural, sosial dan spiritual menjadi fokus garapan Muhammadiyah. Tegasnya di depan peserta Kajian Ramadhan PDM kab. Malang.

Zainuddin menilai bahwa sebenarnya, modal kultural, sosial dan spiritual jika dikalkulasi maka akan menjadi modal politik. Karenanya tidak sedikit personal atau individu Muhammadiyah yang dilirik dan dijadikan sebagai aktor politik, bagian dari kekuasaan yang dipercaya oleh penguasa.

Inilah sesungguhnya bukti bahwa Muhammadiyah cenderung memilih berpolitik tidak berpolitik. Tidak berpolitik itu ya politik, tegas Pria kelahiran Tulungagung ini. Berpolitik yang tidak berpolitik inilah merupakan strategi politik Muhammadiyah yang bisa mewarnai dunia politik.

Sedangkan kelemahan politik yang tidak berpolitik ini adalah pengalaman berkuasa tidak ada, tegasnya. Dengan demikian kemampuan bersiasat masih rendah. Pola memainkan peran dalam panggung kekuasaan perlu banyak belajar, tambahnya. (hil)

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar