Sabtu, 19 Mei 2018

Posted by hilmi Posted on Mei 19, 2018 | 1 comment

Masuki Era Big Data, Ini Kiat Muhadjir pada Muhammadiyah

Muhadjir Effendy dalam Kajian Ramadhan PWM 1439H
Malangmu.or.id -  Era sekarang sudah bergerak dinamis dan bahkan revolusioner. Hanya dengan pemahaman dan menguasai teknologi digital, Muhammadiyah bisa cepat mengantisipasi zaman dan menjadi persyarikatan yang diperhitungkan di masa datang. Tak ada cara lain kecuali kita harus meningkatkan kepekaan atas gejala di sekitar kita.

Demikianlah, pendapat inti dari Prof. Dr. Muhadjir Effendy, MAP (ketua PP Muhammadiyah) saat mengisi acara Kajian Ramadhan 1439 H di UMM Dome (20/5). Muhadjir juga mewanti-wanti agar jajaran pimpinan Muhammadiyah meningkatkan kepekaan atas perubahan di sekitarnya. Karena pimpinan yang akan menjadi petunjuk dan tenaga penggerak kemana Muhammadiyah ini akan dibawa.

“Dunia  sekarang sudah memasuki era big data. Kita harus mampu memanfaatkan ini. Revolusi digital harus dipahami orang Muhammadiyah. Coba misalnya, manfaatkan jaringan untuk membangun big data ini.  Universitas terkemuka di Jatim seperti UM Malang, UM Surabaya, UM Sidoarjo berkumpul untuk memetakan dan menyongsong era digital ini, “tegas Mendikbud itu.

Lebih lanjut dia menjelaskan, big data ini akan ikut menentukan dan memperkuat jaringan. Dalam Muhammadiyah membangun jaringan  ekonomi itu lebih mudah. Warga persyarikatan tentu akan mendukung kebijakan. Misalnya jaringan bank. Jadi, sumber-sumber ekonomi akan mengalir ke Muhammadiyah khususnya dan dimanfaatkan masyarakat umumnya.

Muhadjir kemudian juga memberikan contoh bagaimana Donald Trump itu menang di era big data. “Trump menang karena big data. Dengan big data bisa melacak kecenderungan sekelompok warga. Kemudian merencanakan kampanye yang menguntungkan kelompok itu jika suatu saat dia terpilih.  Jadi masing-masing calon pemilih sudah bisa dipetakan kecenderungan politiknya dan apa yang harus dilakukan urnuk mengantisipasi itu”.

“Rumah saya itu bisa dideteksi berapa jumlah HPnya. Bahkan pembicaraan dalam group WA saja bisa diketahui bagaimana kecenderungannya. Misalnya dengan mengetik kata kunci teror. Akan kelihatan kecenderungan pembicaraan, positif atau negatif. Jadi kita juga perlu hati-hati memanfaatkan teknologi. Era big data mempermudah kita tetapi membuat kita tetap harus peka perubahan, “tegas mantan Rektor UMM ini.
Doktor lulusan Unair itu juga menekankan pentingnya kepekaan pengembangan amal usaha. Muhammadiyah  selama ini sudah kuat di amal usaha. Membangun amal usaha bagi Muhamamdiyah sangat mudah. 4 orang saja bisa mendirikan sekolah. Karena Muhammadiyah organisasi jam’iyah bukan jamaah. Gerakannya tersistem dalam organisasi. Muhammadiyah  bukan organisasi massal yang mengandalkan pada  pengikutan. Maka, Muhammadiyah menekankan pada jam’iyah. Muhammadiyah lebih kuat pada amal usaha bukan anggota.

Ia kemudian mencontohkan pengalamannya saat menjadi Mendikbud,  “Saat saya di Timika ada kasus menarik. Di Timika, ada 8 keluarga Muhammadyah, tapi sudah punya sekolah. SD berjalan baik, sekarang mau membangun SMK. Kiatnya apa? Kapitalisasi harus mendasari amal usaha. Ia tak hanya mengandalkan member.  Ia harus mampu mengembangkan ke anggotaannya pada level partisipan. Kalau inti saja, jumlahnya tidak banyak. Melalui jaringan dan usaha itu. iini belum dilaksanaan dengan baik pengelola amal usaha. Bagaimana misalnya, orang tua wali murid yang sekolah di Muhammadiyah bisa menjadi anggota Muhamamdiyah, minimal tidak memusuhi, lah”.

Pengurus PP Muhamamdiyah itu juga berpesan tidak saja peka pada revolusi digital tetapi juga peka politik. Bagaimana politik seiring dan sejalan dengan Muhamamdiyah. Dinamika bangsa ini tidak akan bisa dilepaskan dari Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan (nrd).
Categories:

1 komentar:

  1. Setuju dengan pak Muhajir. Muhammadiyah, khususnya pada pemimpinnya harus technologi friendly.

    BalasHapus