Sabtu, 19 Mei 2018

Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum PP Muhammadiyah sedang menyampaikan materi tentang Politik Nilai dan Peradaban Bangsa
Malangmu.or.id - Muhammadiyah tidak mengejar kekuasaan, tetapi ia harus memengaruhi kehidupan politik. Muhammadiyah bukan speaker yang suka gembar-gembor banyak program. Speaker semua dibicara kan  ke publik. Muhammadiyah tidak seperti itu.  Muhammadiyah harus menyebar kader dimana-mana. Makanya ia harus membangun political network.


Demikianlah benang merah yang disampaikan oleh Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah dalam Kajian Ramadhan 2018 yang diselenggarakan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur di UMM Dome, Malang (19/5).


Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa Muhammadiyah tidak perlu terlibat dalam politik praktis tetapi harus mampu memengaruhi politik. Ini bukan berarti apolitis. Harus ada semangat amar ma’ruf nahi mungkar.


Ada beberapa kunci agar Muhammadiyah terlihat elegan terlibat dalam politik. “Pertama Muhammadiyah harus bisa jadi opinion maker. Ini bisa diwujudkan dengan gagasan politik dan kenegaraan agar lebih baik. Bagaimana negara ini dikelola dengan baik. Apa yang harus dilakukan Muhammadiyah bisa berperan lewat tanwir atau muktamar. Termasuk soal negara Pancasila sudah final. Sejak negara ini belum merdeka peran kita sudah kongkrit. Banyak orang mengatakan Pembukaan UUD 1945 itu khas rasa, bahasa yang mirip dengan karya tokoh Muhammadiyah Ki Bagus Hadi Kusuma. Karena memang  beliau memang terlibat dalam politik untuk kemajuan bangsa bukan sekadar keterlibatan praktis”, tegas mantan Ketua Pemuda Muhammadiyah tersebut.

Mu’ti melanjutkan peran kedua Muhammadiyah harus menjadi play maker bukan player. Tak perlu tampil di muka, tetapi memengaruhi banyak hal dalam politik. Tak perlu menanamkan orang tetapi memainkan orang. Muhammadiyah juga bisa menjadi kelompok lobi. Ia harus menjadi silent operation dengan pendekatan personal dan persuasif.  Ada kalanya ketemu dengan pengambil kebijakan,  bukan sebagai speaker yang bisanya gembar-gembor ke sana sini.

“Oleh karena itu, Muhammadiyah harus menampilkan politik garam bukan politik gincu. Garam itu menentukan rasa setiap makanan. Hambar kalau makanan tidak ada garam. Kurang dan kelebihan garam tentu tidak enak. Menuangkan garam juga tidak sembarang. Sementara gincu indah tapi tak berasa. Dan peran ketiga Muhammadiyah perlu jadi pressure group atau kelompok penekan. Kelompok penekan ini harus bisa membuat bagaimanaa negera ini lebih baik. Tidak melulu mendukung pemerintah tetapi harus mendukung untuk menegakkan negara, “ujar pria kelahiran Kudus itu.

Dalam kesempatan itu, Mu’ti memberikan kunci  urutan untuk memilih pemimpin di masa datang. Yakni ideologis dengan memenuhi kriteria madzab yang diyakini. Juga, strategis dengan memilih orang yang jelas kontribusinya dan mengakomodir kepentingan rakyat. Cara ketiga yakni pragmatis bukan pilihan yang baik. Pragmatis hanya mengedepankan NPWP (Nomor Piro, Wani Piro) (nrd).
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar