Senin, 25 Desember 2017

Posted by hilmi Posted on Desember 25, 2017 | No comments

Lima Doktrin Muhammadiyah yang Harus Diingat

Foto bersama, dari kiri: Dr. Mursidi, Dr. Pradana Boy, Nur Cholish Huda, M.Si, Alfie Nurhidayat, M.T dalam acara Workshop CMM di Tumpang, Senin 25/12017
Malangmu.or.id -- Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Nur Cholis Huda, M.Si menyampaikan lima doktrin Muhammadiyah di depan peserta Workshop Corps Muballigh Muhammadiyah (CMM) sektor 2 di masjid Al-Furqan Tumpang, 25 Desember 2017.

Menurutnya, ada lima doktrin Muhammadiyah yang wajib diingat dan dipegang oleh warga, anggota, pengurus dan terutama yang tergabung di CMM ini. Pertama adalah Muhammadiyah dalam memahami Islam berdasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah. Tidak terikat dengan aliran teologis, madzhab fikih, dan tariqat sufiyah apapun. Walaupun secara de facto ahlus sunnah. Muhammadiyah menganut fikih manhaji, mementingkan dalil dibanding pendapat para imam mazhab. Paham agama dalam Muhammadiyah bersifat independen, komprehensif, dan integratif. Namun Muhammadiyah sama sekali tidak anti terhadap alirah theologi, mazhab, dan tasawuf.

Kedua, Muhammadiyah mencirikan diri sebagai gerakan tajdid. "Dalam Anggaran Dasar disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid." Tegasnya. Tajdid yang diusung oleh Muhammadiyah terbagi menjadi purifikasi dan dinamisasi. Keduanya harus berjalan seimbang. "Purifikasi dalam hal akidah (pemurnian dari syirik), ibadah (pemurnian dari bid’ah), dan akhlak (pemurnian dari yang menyimpang)." Jelasnya di acara yang bertema "Penguatan Ideologi Persyarikatan dan Pencerahan Dakwah Berkemajuan" ini.

Sementara, kata Nur Cholis Huda, dinaminasi atau modernisasi dilakukan dalam hal urusan keduniawian. Sehingga ajaran Islam dapat diaplikasikan secara aktual dan fungsional. Oleh karena itu, bid’ah hanya ada dalam ibadah mahdhah, dalam wilayah budaya tidak ada bid’ah.

Doktrin ketiga adalah Muhammadiyah memposisikan diri sebagai Islam moderat atau wasatiyah. Muhammadiyah tidak radikal dan tidak liberal. Muhammadiyah memegang teguh prinsip  tawasut (tengah-tengah), tawazun (seimbang) dan ta’adul (adil).

Muhammadiyah itu berkemajuan, dalam artian berorientasi kekinian dan masa depan. Muhammadiyah sedikit bicara banyak bekerja. Walaupun sedikit warganya tapi amal usahanya tumbuh di mana-mana, sehingga mandiri dan tidak bergantung pada kekuasaan  kemandirian ini menjadi pengokoh sikap independensi Muhammadiyah di hadapan penguasa.

Sedangkan doktrin keempat adalah Muhammadiyah menjaga kedekatan yang sama dengan semua partai politik. Muhammadiyah bukan dan tidak berafiliasi kepada salah satu partai mana pun. Muhammadiyah menganut politik etis atau high politic atau politik adiluhung.

Terahir, doktrin kelima adalah Muhammadiyah bertujuan untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah tidak bertujuan untuk mendirikan negara syariah atau khilafah islamiyah. Dalam rangka mencapai tujuannya, Muhammadiyah lebih menggunakan pendekatan kultural dibandingkan dengan pendekatan struktural (kekuasaan). Dalam pendekatan kultural, Muhammadiyah mencerdaskan masyarakat dari bawah dengan dakwahnya yang berkemajuan, mencerahkan, dan membebaskan. (Alfie/hil)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar