Minggu, 12 November 2017


K.H. A.R. Abdul Ghani, ketika memberi materi pada acara Upgrading PCM Dau, Sabtu (11/11/17)

Malangmu.or.id – Acara Upgrading Organisasi yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dau menghadirkan K.H. Abdurrahim Abdul Ghani sebagai testimoni yang memberikan wacana tentang Pola Kelola PCM&PRM yang Unggul. Dihadirkannya Kyai yang sukses membawa PCM Sepanjang sebagai PCM Unggulan Jawa Timur itu penting untuk memberikan semangat peserta yang mengikuti kegiatan ini.
K.H. A.R. Abdul Ghani sebagai pembicara utama dalam kegiatan yang diikuti oleh Pengurus PCM, PCA dan seluruh Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah serta AUM se Cabang Dau ini mula-mula menyampaikan bahwa untuk membangun PCM yang baik, bagus, unggul itu perlu membangun sistem yang baik pula. “Terus terang, tidak mudah, untuk membangun sistem yang baik itu harus ihlas, sabar, juga harus tahan banting” katanya. Karena, menurutnya, nanti akan berhadapan dengan mereka yang sudah terlalu lama menikmati sistem yang dibangunnya, entah bener atau tidak sistem itu, kemudian ada yang mau merubah, pasti ada yang tersinggung, “tertabrak” dan sebagainya, itu wajar.

Kyai yang di beberapa tempat dipanggil Ustadz Abdurrahim ini bertanya kepada para hadirin, Pimpinan Persyarikatan Cabang dan Ranting, siapa yang sebenarnya, “Pemilik” Rumah Sakit, sekolahan-sekolahan yang berada di Cabang itu? Direktur Rumah Sakit kah, Kepala Sekolah kah? Ini harus dipertegas, ini persyarikatan. Sebenarnya, juragannya ini siapa? PCM atau Kepala Sekolah? Pemiliknya adalah Persyarikatan, dalam hal ini PCM yang punya hak, bukan Kepala Sekolah atau DIrektur. Segala Amal Usaha harus tunduk kepada PCM. Kepala Sekolah, guru, Direktur RS adalah pegawai persyaraikatan. Tegasnya.

Di Sepanjang, segala “Investasi Hidup”, kegiatan-kegiatan yang bersentuhan dengan umat, diselenggaraan, diprogram oleh persyarikatan (PCM), termasuk mengatur pembangunan dan pengembangan sekolah-sekolah yang ada di sana. Sekolah tidak membangun sendiri-sendiri, tetapi diatur oleh PCM. Pungkas Ketua PCM yang telah menjalankan program sistem pelaporan keuangan terpadu ini.

Seringkali, dan terjadi di mana-mana, ketika PCM punya gawe (acara) seakan-akan meminta, “mengemis” kepada AUM. Di sinilah kemudian mengesankan PCM tidak punya wibawa. Katanya. Padahal, seharusnya dari AUM lah yang mensupport semua kegiatan Persyarikatan. Karenanya, mengingatkan para hadirin, jika PCM sudah solid, memiliki niat dan tekad yang kuat untuk merubah, membangun sistem yang baik, semua akan berjalan dengan baik pula. Hubungan PCM dengan Ranting dan AUM tetap berjalan harmonis seperti yang telah dilakukan PCM Sepanjang. (hil)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar