Selasa, 17 Oktober 2017



Saad Ibrahim ketika memberikan kajian di Padepokan HW Malang, Senin (16/10)


Malangmu.or.id -- Mengawali kajian rutin “Ketarjihan” pada periode 2017-2018 ini, Senin 16/10/17, Padepokan Hizbul Wathan (HW) menghadirkan Ketua PWM Jatim Dr. Saad Ibrahim, MA sebagai narasumber perdana untuk memberikan pencerahan kepada seluruh “santri” Padepokan HW. Dihadapan hampir 100 peserta kajian yang terdiri dari Angkatan Muda Muhammadiyah (IMM, HW, Mahasiswa PPUT) dan juga sebagian dari warga Muhammadiyah, Ketua PWM Jatim itu memberikan materi selama 2 jam lebih (19.45 sd 22.00Wib).

Acara yang berlangsung di dalam masjid Padepokan HW ini, Saad Ibrahim mengawali kajian dengan berkisah tentang awal mula munculnya majelis yang fokus membahas Tarjih dalam Muhammadiyah, "Muhammadiyah adalah ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad yang bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah. Jalan kebenaran untuk sampai kepada Allah SWT satu-satunya adalah Islam", ujar Saad dihadapan peserta yang rata-rata masih muda itu. "Oleh karena itu, jika sudah menyatakan berserah diri, masuklah ke dalam Islam secara kaffah, bukan sekedar manusia berserah diri kemudian tidak berbuat apa-apa", tegasnya.

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan tidak boleh berpandangan sempit,  tidak hanya sekedar membaca, tapi memahami, dan melaksanakan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Sunnah. "Inilah gelombang awal yang diciptakan oleh KH Ahmad Dahlan dalam gerakannya dengan munculnya sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dsb.", terangnya memberikan contoh kongkrit gerakan Muhammadiyah.

Setelah gerakan itu berjalan, selanjutnya dirumuskan gelombang tarjih, dengan diawali adanya berbagai macam masalah munculnya gesekan perbedaan-perbedaan dalam jamaah pengajian Muhammadiyah, kata Pria yang berdomisilidi di Dau ini. Tarjih dalam pandangan Saad adalah pedoman atau cara memandang mana dasar yang lebih kuat dalilnya, hingga sekarang. Namun jika dalam perjalanannya  ditemukan dalil yang lebih baik dan kuat maka akan dikaji dan diperbaharui lagi. "Tetapi, hal ini harus diselesaikan secara organisasi dalam Muhammadiyah", tegasnya.

Dalampaparannya yang panjang serta mendalam tentang wacana ketarjihan itu, Saad menyinggung tentang kesimpulan hukum halal dan haram dari hasil keputusan ulama yang dilakukan dalam rangka mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara tersebut adalah 'tidak bisa menyatakan mutlak', melainkan dengan pernyataan 'kebanyakan haram ataupun kurang halal'.

Begitu juga fenomena yang lagi marak adalah tentang nama syariah yang dipakai label di setiap usaha, seperti hotel, villa, perbankan dan lain sebagainya. Dengan nada yang tegas, Saad mengatakan "Oleh karena itu jika sekarang istilah syari'ah banyak digunakan dibeberapa dunia bisnis, ada hotel syari'ah, guest house syari'ah, bank syari'ah, dan sebagainya, belum tentu dalamnya benar-benar syari'ah". Saad berkisah ketika berkunjung ke sebuah hotel syari'ah, namun didalamnya ditemukan ada etika yang tidak syar'i, dan cenderung tidak sopan, tidak sedap dipandang.

Diakhir kajian itu, Saad mengajak dan berpesankepada peserta yang serius menyimak "Untuk urusan dunia, lakukan apa saja tentang hal tersebut, namun jika ditemukan ada ke-tidakbenar-an maka berhentilah cari lain yang tidak menentang kebenaran, jadi kerjalah secara sungguh-sungguh saat menuntut kebahagiaan dunia, dan ber-ibadah-lah secara sungguh-sungguh pula seakan kamu mati besok ", pungkasnya. (Zudin/Hil)

0 komentar:

Posting Komentar