Jumat, 27 Oktober 2017

Dari kiri, Ahad Abdul Jalil (Ketua MPK), Alfie Nurhidayat (Wasek PDM) dan Ust. A. Fathoni dalam acara Baitul Arqam AUM (27-28/10/2017)
Malangmu.or.id - Dalam rangka meneguhkan Ideologi Persyarikatan, meningkatkan dan mengembangkan sumberdaya kader, Majelis Pendidikan Kader (MPK) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang mengadakan perkaderan formal Baitul Arqom Amal Usaha Muhammadiyah (BA-AUM). Kegiatan untuk kali kedua itu dilaksanakan  selama dua hari yaitu Jumat-Sabtu (27-28/10), bertempat di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Zamzam jln.Cakalang no.209 Polowijen Malang.

Ahad Abdul Jalil SAg MPd, selaku Ketua MPK PDM Kabupaten Malang mengatakan bahwa salah satu program MPK adalah perkaderan AUM tuntas. "Kami bertekad mengadakan Baitul Arqom AUM untuk semua karyawan dan guru", ujarnya saat sambutan pembukaan Baitul Arqom AUM ke 2.

Ahad melanjutkan bahwa kedepan kegiatan ini akan dikoordinasikan  dengan Dikdasmen PDM Kabupaten Malang berkaitan persyaratan untuk jenjang karir di AUM, "Perpanjangan SK atau kenaikan pangkat atau karir karyawan AUM akan diberlakukan wajib menyertakan sertifikat Baitul Arqom AUM", tegasnya.

Oleh karenanya, Ahad mengingatkan seluruh karyawan AUM harus memahami dan menjadi kader Muhammadiyah dengan sebenar-benarnya, "Untuk menjadi karyawan tetap di AUM harus memilikinya NBM, dan untuk memiliki NBM tersebut harus aktif dan mengikuti perkaderan formal di Muhammadiyah", tambahnya.

Selain itu Ahad juga menganjurkan kepada para guru dan karyawan AUM khususnya membuat grup atau jaringan tersendiri diperuntukkan menyikapi persoalan pendidikan dilingkungan Muhammadiyah, "Jaringan guru dan karyawan AUM yang di Dikdasmen Muhammadiyah harus memiliki grup sendiri boleh grup WA untuk membahas tentang persoalan terkait pendidikan di Muhammadiyah", pungkasnya sambil mengingatkan (zudin/hi)

Selasa, 17 Oktober 2017



Saad Ibrahim ketika memberikan kajian di Padepokan HW Malang, Senin (16/10)


Malangmu.or.id -- Mengawali kajian rutin “Ketarjihan” pada periode 2017-2018 ini, Senin 16/10/17, Padepokan Hizbul Wathan (HW) menghadirkan Ketua PWM Jatim Dr. Saad Ibrahim, MA sebagai narasumber perdana untuk memberikan pencerahan kepada seluruh “santri” Padepokan HW. Dihadapan hampir 100 peserta kajian yang terdiri dari Angkatan Muda Muhammadiyah (IMM, HW, Mahasiswa PPUT) dan juga sebagian dari warga Muhammadiyah, Ketua PWM Jatim itu memberikan materi selama 2 jam lebih (19.45 sd 22.00Wib).

Acara yang berlangsung di dalam masjid Padepokan HW ini, Saad Ibrahim mengawali kajian dengan berkisah tentang awal mula munculnya majelis yang fokus membahas Tarjih dalam Muhammadiyah, "Muhammadiyah adalah ajaran Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad yang bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah. Jalan kebenaran untuk sampai kepada Allah SWT satu-satunya adalah Islam", ujar Saad dihadapan peserta yang rata-rata masih muda itu. "Oleh karena itu, jika sudah menyatakan berserah diri, masuklah ke dalam Islam secara kaffah, bukan sekedar manusia berserah diri kemudian tidak berbuat apa-apa", tegasnya.

Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan tidak boleh berpandangan sempit,  tidak hanya sekedar membaca, tapi memahami, dan melaksanakan ajaran Islam yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Sunnah. "Inilah gelombang awal yang diciptakan oleh KH Ahmad Dahlan dalam gerakannya dengan munculnya sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dsb.", terangnya memberikan contoh kongkrit gerakan Muhammadiyah.

Setelah gerakan itu berjalan, selanjutnya dirumuskan gelombang tarjih, dengan diawali adanya berbagai macam masalah munculnya gesekan perbedaan-perbedaan dalam jamaah pengajian Muhammadiyah, kata Pria yang berdomisilidi di Dau ini. Tarjih dalam pandangan Saad adalah pedoman atau cara memandang mana dasar yang lebih kuat dalilnya, hingga sekarang. Namun jika dalam perjalanannya  ditemukan dalil yang lebih baik dan kuat maka akan dikaji dan diperbaharui lagi. "Tetapi, hal ini harus diselesaikan secara organisasi dalam Muhammadiyah", tegasnya.

Dalampaparannya yang panjang serta mendalam tentang wacana ketarjihan itu, Saad menyinggung tentang kesimpulan hukum halal dan haram dari hasil keputusan ulama yang dilakukan dalam rangka mempertimbangkan baik buruknya suatu perkara tersebut adalah 'tidak bisa menyatakan mutlak', melainkan dengan pernyataan 'kebanyakan haram ataupun kurang halal'.

Begitu juga fenomena yang lagi marak adalah tentang nama syariah yang dipakai label di setiap usaha, seperti hotel, villa, perbankan dan lain sebagainya. Dengan nada yang tegas, Saad mengatakan "Oleh karena itu jika sekarang istilah syari'ah banyak digunakan dibeberapa dunia bisnis, ada hotel syari'ah, guest house syari'ah, bank syari'ah, dan sebagainya, belum tentu dalamnya benar-benar syari'ah". Saad berkisah ketika berkunjung ke sebuah hotel syari'ah, namun didalamnya ditemukan ada etika yang tidak syar'i, dan cenderung tidak sopan, tidak sedap dipandang.

Diakhir kajian itu, Saad mengajak dan berpesankepada peserta yang serius menyimak "Untuk urusan dunia, lakukan apa saja tentang hal tersebut, namun jika ditemukan ada ke-tidakbenar-an maka berhentilah cari lain yang tidak menentang kebenaran, jadi kerjalah secara sungguh-sungguh saat menuntut kebahagiaan dunia, dan ber-ibadah-lah secara sungguh-sungguh pula seakan kamu mati besok ", pungkasnya. (Zudin/Hil)
Posted by hilmi Posted on Oktober 17, 2017 | No comments

Saad Ibrahim: Allah itu Melayani Kita


Ketua PWM Jatim, Saad Ibrahim, ketika memberikan sambutan dalam acara pelantikan Wakil Dekan di lingkungan UMM (17/10)
Malangmu.or.id -- Perlu diciptakan suasana batin dalam melaksanakan program-program di kampus. Manusia harus membangun tidak saja relasi antar manusia tetapi yang penting manusia dengan Allah. Itulah yang sering dinamakan dengan relasi teologis. Sebuah relasi ilahiah tetapi terjabarkan juga dalam hubungan antar manusia.

Demikian pesan penting ketua Pimpinn Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Saad Ibrahim saat memberikan sambutan dalam acara pelantikan Wakil Dekan (Wadek) di lingkungan UMM (17/10) masa bakti 2017-2021. Acara yang berlangsung khitmat itu dilaksanakan di Aula Biro Administrasi Umum (BAU), kampus 3 UMM. Hadir dalam acara pelantikan seluruh pejabat struktural UMM, ketua Badan Pembina Harian (BPH), Prof. Malik Fadjar, M.Sc, ketua PDM se Malang Raya, pengurus PWM Jatim dan dosen-dosen di lingkungan kampus UMM.

Saad yang saat memberikan sambutan dengan nada santai dan serius menekankan bahwa kita wajib membina relasi dengan Allah untuk melaksanakan program. Karena dengan itulah semua program yang dijalankan lebih bermanfaat.

“Sebenarnya, apa yang kita lakukan itu karena pertolongan Allah. Sebenarnya Allah itulah pembantu kita. Walaupun kita hamba Allah, tetapi Allah itu melayani kita. Allah akan mengabulkan semua keinginan kita sesuai prasangka hambanya. Mari membangun kampus dengan prasangka baik pada Allah dan juga pada sesama. Ini modal penting, “ tegas dosen Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang itu.

Bagi ketua PWM Jatim itu, Allah akan melayani kita tergantung suasana batin manusia. Suasana membuat Allah memberikan jalan, taiufik, hidayah cita-cita kita.

Hubungan manusia dengan manusia juga harus berdasarkan suasan batin. Ia menegaskan, “Wakil Dekan dengan Dekan harus juga punya suasana batin.  Dekanat harus dibangun dengan kepercayaan. Kepercayaan itu modal menciptakan suasana batin. Wakil Dekan melaksanakan program, Dekan memberikan dan bertanggung jawab pada kebijakan”.

Dalam kesempatan itu, rektor UMM, Fauzan, menekankan bahwa para Wakil Dekan dan Dekan harus bisa menjual fakultasnya. Semua harua mulai bekerja, memikirkan perubahan dan punya pikiran yang proyektif ke masa depan.

Sementara itu, Malik Fadjar berpesan, “Kita itu jangan banyak omong lagi. Saatnya kita bekerja. Bekerjanya yang mulai sekarang ini. Ke depan tantangan UMM semakin berat”.

Wadek yang dilantik sejumlah 30 orang dari 10 Fakultas di lingungan UMM (nrd).

Senin, 16 Oktober 2017

Posted by Ridlo Posted on Oktober 16, 2017 | No comments

Karpet Masjid Syeikh Zayed Terluas dan Terindah di Dunia

Penulis Pahri,  Principal SMKM 7 Gondanglegi berlatar karpet di pintu masuk utama Masjid Syeik Zayed Grand Masque.

Catatan Perjalanan Pahri/Principal SMKM 7 Gondanglegi (3)

Malangmu.or.id - UEA. Gagal menjadi masjid terbesar dunia,  tak menjadikan Syeikh Zayed patah arang.  Tempat ibadah umat Islam ini, ternyata menyimpan banyak keunggulan dan  keistimewaan yang tidak dimiliki masjid besar dunia lain-nya.  Diantaranya, lampu gantung masjid terbesar dan terindah serta karpet masjid terluas dan tereksotik tanpa sambungan.

Karpet Masjid Syeikh Zayed ini, luasnya satu kali lapangan sepak bola. Istimewa nya tanpa sambungan.  Warna dominan kuning keemasan dengan motif garis putih daun dan berbunga.  Ketebalan karpet sekitar 7 cm yang jika diinjak  terasa empuk dan elastis. Tubuh jamaah dimanja  saat dahi, hidung,  tangan, dengkul dan kaki menyentuh karpet saat sujud shalat.  Aduh nikmat nya shalat di Syeikh Zayed Masqoe.

Perlu diketahui, karpet masjid terbesar ketiga setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi Madinah ini, didatangkan khusus dari Iran.l Dikerjakan 1.300 pekerja wanita. Produsen karpet butuh waktu dua tahun untuk menyelesaikan pesanan.

Menghindari kesulitan pemasangan,  maka sebelum kubah masjid dipasang dan ditutup,  karpet dimasukkan terlebih dulu lewat jalur udara dengan melibatkan 5 helikopter.

Harga karpet masjid yang super istimewa ini sekitar 809 milyar. Dibayar dari uang negara,  tanpa melibatkan dana sumbangan dari rakyat Uni Emerat Arab.  Abu Dhabi sebagai ibu kota UEA memang kaya raya. Di kota ini,  sulit mencari orang miskin. 

Harga karpet yang super fantastis tersebut,  sebanding dengan kualitas produk: indah,  eksotik dan mempesona.  Demikian pula karpet ini,  seirama dengan luas area  dan arsitektur bangunan. Syeikh Zayed Masqoe benar-benar memotivasi dan menginspirasi (tamat).

Kantor KBRI Abu Dhabi,  15 Oktober 2017
Posted by Ridlo Posted on Oktober 16, 2017 | No comments

Ambisi Presiden UEA yang Patut Ditiru

Performance Masjid Syeikh Zayed Grand Masqoe dari depan.
Catatan Perjalanan Pahri/Principal SMKM 7 Gondanglegi (2)

Malangmu.or.id - UEA. Saat diangkat menjadi presiden pertama Uni Emirat Arab (UEA) 1971,  Syeikh Zayed punya mimpi besar dalam hidup-nya. Pertama,  membangun Masjid terbesar di dunia dan yang kedua menghijaukan tanah gersang nan tandus di Abu Dhabi (Ibu Kota UEA).

Mimpi besar pertama sang Syeikh akhirnya kandas,  karena Raja Abdullah Arab Saudi yang berkuasa saat itu kurang berkenan.  Rupanya Pelayan Dua Tempat Suci Umat Islam itu,  tidak ingin Masjidil Haram dan Masjid Nabawi tersaingi dengan Masjid yang akan dibangun Syeikh Zayed. "Cukup Masjidil Haram dan Masjid Nabawi yang menjadi pusat peradaban dan simbul pemersatu umat Islam dunia,  "begitu permintaan bijak Raja Abdullah pada sang Syeik.

Rupanya permintaan itu cukup ampuh, mampu melunakkan ambisi besar Syeikh Zayed. Walaupun gagal membangun Masjid terbesar dunia,  proyek itu tetap berjalan,  namun tidak sebesar seperti mimpi awal. Pembangunan Masjid baru dimulai tahun 2000 M atau 29 tahun setelah berkuasa. Masjid ini menempati lahan 680.000 m2, dengan luas bangunan 50.000 m2 atau lima kali lapangan sepak bola. Kapasitas Masjid, mampu menampung tujuh puluh ribu jamaah.  Halaman cukup luas dengan area parkir yang tertata rapi dan modern.

Masjid terbesar ketiga dunia ini --setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi-- dirancang khusus para insinyur dan arsitek terbaik Inggris.  Tak heran beberapa sudut, bernuansa bangunan Eropa.  Eksekusi lapangan dikerjakan pekerja dari India,  Pakistan dan Banglades. Sedangkan pengawas bangunan sebagian besar para insinyur UEA.

Belum sempat menyaksikan keindahan dan kemegahan Masjid,  Syeik Zayed berpulang kehadirat Allah SWT (2004). Pembangunan dilanjutkan putra mahkota,  Syeik Khalifa bin Zayed. Rampung dan terbuka untuk umum pada tahun 2010. Menghormati penggagas dan pencetus, Masjid ini diberi nama Syeik Zayed Grand Masqoe (Masjid Besar Syeik Zayed).

Sekalipun tidak lagi menjadi terbesar di dunia,  Masjid Syeik Zayed ini tergolong berani dan spektakuler. Terbuka untuk umum. Setiap hari dikunjungi ratusan ribu wisatawan,   tidak hanya umat Islam,  tapi juga yang non Islam. Pikiran Syeik Zayed sangat maju, dengan Masjid ia ingin menunjukkan ke mata dunia bahwa Islam itu indah dan Islam itu damai.  Islam itu bukan ISIS dan bukan pula teroris (bersambung).
Posted by Ridlo Posted on Oktober 16, 2017 | No comments

Anak Indonesia Tak Kalah Hebat dengan Negara Super Power

Penulis Pahri Principal SMKM 7 Gondanglegi (kiri) bersama Kabid SMA-SMK Provinsi Jawa, Timur, Dr.  Hudiyono,  M.Si (kanan)  berlatar Masjid Syeik Zayed Grand Masqoe Abu Dhabi UEA.


Catatan Perjalanan Pahri/Principal SMKM 7 Gondanglegi (1)

Malangmu.or.id - UEA. Kedatangan saya dan 45 Kepala Sekoleh Menengah Kejuruan (SMK) bersama Kepala Bidang SMA-SMK Jawa Timur, Dr.  Hudiyono, MSi., ke Uni Emerat Arab (UEA)  dalam rangka menghadiri undangan World Skill Competition (WSC). Kompetisi dua tahunan ini, bertempat di Abu Dhabi National Exhibition Centre (ADNC). Acara berlangsung 15-18 Oktober 2017.

Kompetisi akbar anak-anak SMK tingkat dunia ini,  diikuti 77 negara.  Satu diantaranya Indonesia.  Negara yang memiliki SMK terbanyak di dunia ini (13 ribu lebih), mengikutsertakan 29 dari 55 cabang lomba yang dipertandingkan.  Tujuh diantara peserta dari Jawa Timur.

Kepala Bidang SMA-SMK Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur,  Dr.  Hudiyono,  MSi., yang turut serta dalam WSC,  berharap anak-anak dari Jawa Timur bisa memberi sumbangan medali untuk Indonesia. Selain itu,  Hudiono, mengingatkan  kepala sekolah yang hadir,  untuk mengambil pelajaran setiap sisi dari pelaksanaan WSC. "Jangan lewatkan even akbar ini.  Kita belajar dan kita evaluasi kekurangan dan kelebihan pendidikan, agar kualitas SMK Jawa Timur dari tahun ke tahun semakin baik, "kata Hudiono yang selalu bersemangat bila diajak bicara dunia SMK.

Berada di tengah-tengah arena WSC Abu Dhabi,  ada rasa bangga sekaligus haru.  Bangga karena anak-anak Indonesia bisa berkompetisi di ajang sekolah vokasi berkelas dunia. Sejajar dengan negara-negara high tekhnologi, seperti:  Jerman,  Swiss,  Amerika, Belanda,  Prancis,  China,  Jepang, India  dan Rusia.

Terharu, karena menghadapi lawan tanding dari negara super power yang dimanja dengan sarana pendidikan,  namun demikian anak-anak Indonesia tidak berkecil hati. Tidak ciut nyali-nya.  Percaya diri mereka  tinggi, sekalipun fisik-nya tidak setinggi kompetitor dari Amerika dan Eropa.  Kontingen Indonesia yakin, di arena ini tak ada negara besar atau kecil.  Semua punya peluang yang sama untuk menjadi The Winner. 

"Sejauh ini,  hampir semua berjalan lancar, anak-anak bertanding dengan penuh semangat, penuh motivasi dan penuh keyakinan. Mudah-mudahan WSC Abu Dhabi 2017 mencapai hasil yang terbaik untuk Indonesia, "kata Kasubdit  Kesiswaan Direktorat PSMK Kemendikbud RI,  Dra.  Nur Widyani,  MM.,  kepada penulis via ponsel-nya di Abu Dhabi USA.

Pertandingan yang berlangsung selama lima hari dari jam 08.00 sd 16.00 waktu setempat terbuka untuk umum.  Masyarakat dunia bisa menonton kebolehan dan kehebatan siswa vokasi.  Mulai dari urusan masak-memasak (tata boga)  sampai pada urusan tekhnologi modern dan mutakhir (IT dan Otomotif). Panitia sangat profesional, gedung mendukung,  alat dan bahan lomba kualitas nomor satu,  lay out arena cantik dan mempesona, ruang yang bersih dan tertata rapi. Pendek kata,  pengunjung dimanja dengan aneka fasilitas WSC.  Abu Dhabi memang Oke.

Selamat bertanding. Selamat berkompetisi. Berikan yang terbaik.  Harumkan Indonesia dengan prestasi.  SMK bisa SMK Hebat (bersambung).

Abu Dhabi National Exhibition Centre (ADNC),  15 Oktober 2017.

Sabtu, 14 Oktober 2017

Posted by Ridlo Posted on Oktober 14, 2017 | No comments

Membanggakan, UMM Kembali Raih Akreditasi A dari BAN-PT


Poster selamat akreditasi A UMM yang menyebar di medsos.

Malangmu.or.id - UMM. Berdasarkan surat keputusan (SK) dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN PT) bernomor 3289/SK/BAN-PT/Akred/PT/IX/2017, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali mempertahankan akreditasi institusi A. Raihan ini jadi bukti  kepercayaan masyarakat pada kampus swasta terunggul di Jawa Timur (Jatim) itu.

Raihan itu disebut Rektor UMM, Drs H Fauzan MPd, merupakan buah dari corporate culture yang dibangun UMM. Menurut dia, kultur itu telah mendorong civitas akademika UMM, baik dosen, karyawan, maupun mahasiswa untuk bekerja dan berkaya lebih giat dan produktif. “Yang kami lakukan tidak hanya untuk prestise tapi bersifat strategis untuk kemajuan institusi, persyarikatan dan bangsa,” kata Fauzan.

Bagi Fauzan, prestasi yang diukir mahasiswa, dosen, maupun prestasi secara institusional berakar dari energi untuk memberi, sejalan dengan motto UMM, ‘Dari Muhammadiyah untuk Bangsa’. “Alhamdulillah, banyak karya mahasiswa dan dosen yang bisa dinikmati dan bermanfaat untuk masyarakat luas,” ujarnya.

Sementara Kepala Kantor Pengelola dan Pengendali Akreditasi (KPPA) UMM, Ainur Rofieq, mengatakan, keberhasilan ini lantara UMM telah memiliki pola Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang melebihi standar yang ditentukan oleh Kemenristekdikti.

“Semua standar mutu SPMI itu sudah beroperasi dengan baik sehingga tercipta budaya mutu, baik dari segi fungsi maupun tata kelola. Tak heran, ketika pelaksanaan SPMI UMM diaudit, BAN-PT memberi skor 368 atau nilai A,” ungkap Rofieq.

Langkah ke depan, kata Rofieq, untuk kurun lima tahunan ini, UMM ingin mewujudkan akreditasi internasional melalui berbagai lembaga pemberi akreditasi dunia seperti ASEAN University Network-Quality Assurance (AUN QA) dan Accreditation Board for Engineering and Technology (ABET).

Melalui AUN-QA, UMM telah menjadi associate member sejak Agustus 2016 dan tahun ini telah mendaftarkan sebanyak tiga prodi, yaitu Pendidikan Biologi, Peternakan, dan Manajemen untuk diakreditasi AUN-QA.

“Tahun depan, kami berencana mendaftarkan lagi tiga prodi lain untuk mendapatkan rekognisi dari AUN-QA,” papar Rofieq.

Untuk ABET, lanjutnya, tahun ini UMM telah mengikuti workshop di Amerika Serikat sebagai prasyarat mendapat rekognisi. “Sebagai awal akreditasi, pada 2017 ini, kami telah memilih tiga prodi dari Fakultas Teknik untuk menyelenggarakan akreditasi ABET,” kata Rofieq.

Selain itu, Rofieq meneruskan, UMM memiliki banyak program di bidang penelitian, kerjasama, pertukaran dosen-mahasiswa, pertemuan ilmiah, dan berbagai program lainnya berskala internasional yang mengalami peningkatan mutu dan jumlah penyelenggaraan.

Ketika dimintai pendapatnya, Wakil Rektor I, Prof. Dr. Syamsul Arifin, M.Si menyatakan kegembiraannya. Raihan itu akan menjadi daya dorong kampus untuk maju, terutama dalam menjaga warwah (kehormatan) lembaga.

Sebagaimana diketahui juga, UMM juga telah berhasil meraih Anugerah Kampus Unggul (AKU) selama 10 tahun terakhir dari Kopertis wilayah VII Jatim. (hum/nrd).

Kamis, 12 Oktober 2017

Posted by kholimi Posted on Oktober 12, 2017 | No comments

Olah Limbah, Mahasiswa UMM Juarai Siemens SciTech Competition

Tim Dome Universitas Muhammadiyah Malang
  TIM mahasiswa dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) meraih sukses bersaing di ajang Siemens SciTech Competition, yang digelar 9-11 Oktober 2017. Dua mahasiswa yang tergabung dalam tim Dome UMM ini unggul di bidang lomba pemrograman Human Machine Interface (PLC-HMI).

Keduanya adalah Een Hutomo Putra dan Ari Devianto, mahasiswa Teknik Elektro. Tim Dome UMM ini berhasil lolos hingga babak final kategori PLC-HMI dan akhirnya berhasil meraih juara 2.

Een Hutomo dan Ari Devianto akhirnya berhasil melalui babak terakhir dan menjadi juara 2 setelah menyelesaikan studi kasus pengolahan limbah. Waktu total pengerjaan soal studi kasus ini selama dua jam.

Ilham Pakaya, pembimbing tim yang mendampingi kompetisi mengungkapkan, untuk bisa meraih juara ini setiap tim harus melalui beberapa babak yang dibagi menjadi tingkat regional dan nasional.

"Dalam setiap babak, diberikan sebuah studi kasus yang berbeda yang harus diselesaikan dalam waktu tertentu", kata Ilham, Kamis (12/10).

Dikatakan, pada kategori Programmable Logic Controller Human Machine Interface (PLC-HMI) ini, Teknik Elektro UMM mengirimkan 2 tim peserta dan bersaing dengan 19 tim lainnya dari seluruh Indonesia.

Siemens SciTech Competition sendiri merupakan kompetensi nasional tahunan bergengsi yang diadakan oleh PT Siemens Indonesia. Tahun ini Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya menjadi tuan rumah tempat berlangsungnya kompetisi ini.

Selain kategori Programmable Logic Controller (PLC), dilombakan juga kelompok Human Machine Interface (PLC-HMI), Distributed Control Systems (DCS) atau sistem SCADA, serta Matematika dan Ilmu Pengetahuan. Kompetisi ini sendiri diikuti oleh 99 tim dari 22 universitas dan 8 sekolah menengah dan teknik dari seluruh Indonesia. (ask/min)
Posted by Ridlo Posted on Oktober 12, 2017 | No comments

Teknologi dan Pesan Liar Komunikasi

Nurudin, Ketua MPI PDM Kabupaten Malang.

Malangmu.or.id - MALANG. Permendikbud Nomor 23 tahun 2017  tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK)  sampai saat ini masih menimbulkan perdebatan dan bahkan penolakan. Aturan yang hakikatnya untuk memperkuat pendidikan karakter itu kemudian menjadi ruwet karena isu yang berkembang di masyarakat cenderung hanya fokus pada jumlah jam pelaksanaan di sekolah. Meski berkali-kali Mendikbud tidak menyebut dan tidak akan membuat Full Day School (FDS), opini yang berkembang sudah bergeser dari substansi. Permendikbud dikeluarkan juga sekaligus untuk   memperkuat Madrasah Diniyah (Madin).

Pada perkembangannya, penolakan Permendikbud itu sudah cenderung liar. Sementara itu, kebanyakan yang menolak belum tentu sepenuhnya membaca Permendikbud secara jernih dan detail. Padahal, penyusunan peraturan tersebut  juga sudah melibatkan menteri terkait (termasuk Kementerian Agama), namun penolakan  keras tetap ada pada Mendikbud. Beberapa waktu lalu bahkan beredar video demonstrasi penolakan FDS dengan teriakan anak-anak  “bunuh menterinya sekarang juga”.

Melihat dampak buruk yang akan ditimbulkan karena melibatkan anak-anak, sampai-sampai Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengeluarkan siaran pers yang menyayangkan ucapan kasar atau pelibatan anak-anak dalam demonstrasi itu.  Pesan penolakan menjadi semakin liar karena sudah cenderung politis.

Jarum Suntik
Perkembangan pesan yang liar sebagaimana di atas mengingatkan kita pada teori jarum hipodermik (hypodemic needle theory) atau teori peluru (bullet theory). Teori yang pernah populer pada tahun 40-an itu bisa kita kontekskan pada kasus saat ini. Teori jarum hipodermik sebagaimana pernah dikatakan Jason dan Anne Hill (1997) adalah efek langsung pesan yang “disuntikkan” ke dalam ketidaksadaran audience. Dengan kata lain,  apa pun pesan yang disebarkan oleh media, maka  akan diterima begitu saja oleh masyarakat.

Pertanyaannya, mengapa masyarakat menerima begitu saja pesan-pesan dari media? Menurut bullet theory, karena masyarakat diasumsikan sebagai kelompok yang tidak terdidik dan tidak berkomunikasi satu sama lain. Sehingga,  apapun pesan yang disebarkan oleh media akan diterima apa adanya tanpa mempertimbangkan baik buruknya.  Pesan yang diterima begitu saja itulah yang bisa digambarkan pada masyarakat kita saat ini.

Masalahnya sekarang adalah apakah masyarakat kita saat ini tidak terdidik sehingga menerima apa adanya pesan-pesan dari media? Nanti dulu. Masyarakat sekarang tentu saja sudah jauh terdidik dibandingan puluhan tahun yang lalu. Karena terdidik, maka masyarakat yang menerima pesan dari media asumsinya akan mempertimbangkan, mendiskusikan benar tidaknya dengan lingkungannya. Baru kemudian mereka bisa mempertimbangkan; menerimanya atau tidak sebagaimana disebarkan oleh media.

Namun demikian, analogi di atas ternyata tidak mudah dilakukan. Masyarakat kita (meskipun saat ini terdidik) juga cenderung menerima pesan secara membabi buta. Mereka tidak lagi mempertimbangkan kebenaran berita, tetapi cenderung menerima begitu saja karena pesan itu sesuai dengan kecenderungan dirinya, kata pemimpinnya atau sesuai dengan kepentingannya sendiri.
 Kenyataan pada masyarakat kita yang cenderung menerima pesan membabi buta tersebut bisa dijelaskan dalam kajian komunikasi massa dan disebut dengan selective perception (Black dan Whitney, 1988). Selective perception adalah kecenderungan seorang individu yang secara sadar akan mencari informasi yang bisa mendorong kenderungan dirinya (bisa pendapat, sikap atau keyakinan). Bisa dikatakan, individu akan aktif mencari informasi yang bisa memperkuat keyakinannya. Jadi, jangan heran jika seseorang akan mencari informasi yang mendukung FDS (jika dia setuju FDS), atau menolak FDS (jika dia menolak FDS).

Masalahnya adalah informasi yang didapat masyarakat itu memang benar adanya seperti itu atau sudah mengalami bias informasi? Dalam hal ini, masyarakat kita tidak terlalu mempertimbangkannya. Intinya, asal informasi itu sesuai dengan kecenderungan bahkan kepentingan dirinya ia akan menerima mentah-mentah, lalu menyebarkannya melalui media sosial.

Di tengah euforia pemanfaatan informasi yang semakin bebas di tempat kita, pesan komunikasi semakin liar tersebar. Lebih mengkhawatirkan lagi jika para pemimpin politik, karena kepentingannya, ikut bermain di air keruh itu. Kita bisa melihat berbagai macam informasi yang beredar kaitannya dengan FDS. Semua pihak merasa mengklaim kelompoknya yang paling benar. Kalau sudah begitu, informasi yang beredar hanya akan ‘diamini” oleh masyarakat umum. Bukan pada soal apakah informasi itu benar atau salah, tetapi karena sudah dikatakan oleh seseorang yang dianggap punya pengaruh dalam kelompoknya.

Dalam masyarakat paternalistik, perilaku seorang pemimpin ibarat “injeksi” jarum hipodermik yang masuk ke benak masyarakat dan mematuhinya tanpa sadar. Lebih ruwet lagi jika pesan yang disebarkan itu dikaitkan dengan politik. 

Kesantunan Berkomunikasi
Tapi apa boleh buat, sebuah pesan komunikasi yang sudah disebarkan akan terus menggelinding sampai menemukan sasaran kepentingannya, tak terkecuali soal FDS. Bahkan, ucapan “bunuh menteri” itu pun bisa jadi tidak sadar keluar dari mulut anak-anak. Pesan komunikasi dalam hal ini bersifat irreversibel (sesuatu yang dikeluarkan tidak bisa dicabut kembali atau tidak sama persis sebagaimana ucapannya belum  dikeluarkan). Dengan kata lain, pesan komunikasi yang dikatakan seseorang sudah melekat pada orang itu. “Saya minta maaf, karena kemarin saya mengatakan menolak FDS”, misalnya. Meskipun sudah minta maaf, kondisi masyarakat atau persepsi orang lain tidak akan sama sebagaimana saat ucapan penolakan belum dikeluarkan.

Apa pelajaran yang bisa dipetik dari polemik tentang Permendikbud Nomor 23 tahun 2017? Pertama, pesan komunikasi telah mengalami demassifikasi (perubahan penggunaan teknologi dari massal ke individual). Saat ini semua orang bisa memproduksi pesan, dengan cara apa saja, dengan tujuan apa pun dan pada siapa diedarkan. Apalagi era media sosial memberikan ruang yang luas untuk menyebarkan informasi, benar atau tidaknya informasi itu. Akibat dari demassifikasi, masyarakat tidak selektif menyebarkan atau memilih informasi yang diterimanya. Ini pulalah yang juga membuat pesan komunikasi semakin liar beredar.  Dalam hal ini seolah ada ada hukum, “I share, therefore I am” (Saya berbagi, maka saya ada).

 Kedua, masyarakat kita adalah masyarakat yang belum terdidik dan cerdas serta cenderung mengadopsi informasi lebih berdasar ikatan emosional sebagai buah dari masyarakat paternalistik. Adopsi informasi lebih berdasar pada siapa yang mengatakan dan bukan apa yang dikatakan.   Masyarakat dan bangsa ini membutuhkan kesantunan berkomunikasi yang selama ini hilang sebagai dari jati diri  masyarakat “ketimuran”. Bangsa ini sejak dahulu dikenal sebagai bangsa yang toleran, penuh pengertian, gotong royong dan mengutamakan musyawarah untuk mencapai tujuan.

Berbeda pendapat boleh, tetapi menyebar pesan yang mendorong tindak kekerasan adalah jangan. Tak bisa dipungkiri, teknologi komunikasi memang telah mendorong manusia ke peradaban yang lebih maju, tetapi tanpa hati-hati  pesan diedarkannya bisa menjadi pemicu tindak kekerasan di masyarakat. (NR/R)


Nurudin
Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); 
Ketua MPI PDM Kabupaten Malang;
Penulis buku Perkembangan Teknologi Komunikasi (2017)

Senin, 09 Oktober 2017

Posted by hilmi Posted on Oktober 09, 2017 | No comments

Perkuat Aqidah, Kokohkan Hubungan Sosialnya

Sukma Jaya, S.Ag ketika memberi materi pada acara BAD PDPM, Sabtu (07/10/17)
Malangmu.or.id -- "Aqidah yang benar, lurus dan kuat itu didasarkan pada sumber yang murni, yakni Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan tidak ada keraguan didalamnya dalam meyakininya", kata Ustadz Sukma Jaya, S.Ag dihadapan peserta Baitul Arqam Dasar (BAD) Pemuda Muhammadiyah, Sabtu (07/10/17).

"Ber-aqidah itu harus kokoh dan kuat, jangan muda terombang-ambing", tegasnya. Ber-aqidah diperlukan ketelatenan dan kesabaran, termasuk juga dalam mengajak orang lain untuk ber-aqidah", jelasnya pada acara yang diikuti oleh segenap pimpinan cabang pemuda Muhammadiyah se-kab. Malang.

Pada acara yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah 09 Kota Malang itu, Jaya -panggilan akrabnya- menceritakan kisah temannya. Waktu itu, temannya menjadi pengajar (ustadz) kebetulan dilingkungan lokalisasi Dolly Surabaya, yang setiap hari ngajar ngaji di lingkungan tersebut. Dia melakukannya dengan penuh ketelatenan dan kesabaran. Dalam waktu yang cukup lama, dia berprinsip, dakwah harus tetap dijalankan, dimana dan kapanpun berada, soal hasil, itu urusan Allah. Hidayah Allah yang akan memberikan jalan yang lurus. Meski orang tuanya belum tersentuh untuk beragama Islam dengan baik dan benar sapa tau anaknya nanti yang bisa ber-aqidah Islam yang baik dan lurus, kisahnya.

Wakil ketua PCM Dau yang membidangi pendidikan kader dan pengembangan ranting itu juga menjelaskan bahwa orang yang memiliki akidah yang kuat akan tercermin dalam aktifitasnya. Beribadah kepada Allah SWT (Hablum minallah) dengan sungguh-sungguh sekaligus hubungan antara sesamanya (Hablum minannas) juga baik. Selain itu, mereka juga gerta gemar menyantuni fakir miskin, anak-anak yatim, dan sebagainya. Pungkasnya.

Direktur Padepokan Hizbul Wathan yang berlokasi di Dau Malang ini mengibaratkan aqidah yang kuat itu bagaikan pohon yang berdiri kokoh dengan akar yang kuat, pohonnya memiliki daun yang rindang, serta berbuah lebat sehingga mampu memberikan kebaikan, kemanfaatan dan keberkahan bagi sekelilingnya. (Zudin/Hil)
Peresmian Jembatan Kaca karya mahasiswa UMM oleh walikota Malang Mochamad Anton (9/10)
Malangmu.or.id - JODIPAN. JEMBATAN kaca karya dua mahasiswa Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Khairul Ahmad dan Mahatma Aji Pangestu, kian mempercantik keberadaan kampung tematik, yakni Kampung Tridi di Kelurahan Kesatrian dan Kampung Warna-warni Jodipan (KWJ) di Kelurahan Jodipan, Kota Malang, Jawa Timur.
Diresmikan Senin (9/10), jembatan yang berdiri di atas Sungai Brantas ini sekaligus menjadi jembatan kaca pertama di Indonesia. Desain jembatan kaca yang dinamai Ngalam Indonesia ini dipercayakan pada Khairul dan Aji lantaran pengalaman mereka sebagai juara Kontes Jembatan Indonesia dan Kompetisi Bangunan Gedung Indonesia pada 2015.
Khairul dan Aji mulai mendesain jembatan pada Januari 2017. Langkah awal dimulai dengan meninjau lokasi Jodipan dan Kesatrian untuk mengetahui topografi. Dari hasil analisis lapang, Khairul dan Aji mulai mendesain jembatan dan kemudian dibangun pada April 2017.
"Kita menawarkan tiga bentuk jembatan, yang pertama tipe busur atau melengkung, tipe futuristik dan tipe cable stayed. Kemudian model cable stayed ini yang disetujui Rektor UMM karena ada segi estetikanya," pungkas mahasiswa yang pernah menjuarai Kontes Jembatan Indonesia (KJI) pada 2015.
Sebelumnya, mahasiswa UMM juga memainkan peran penting melalui inisiasi pendirian KWJ oleh delapan mahasiswa Ilmu Komunikasi UMM yang tergabung dalam kelompok praktikum Public Relations (PR) Guys Pro. Lahirnya KWJ selanjutnya menjadi inspirasi bagi berdirinya Kampung Tridi yang berada di seberang sungai. Sejak diresmikan September 2016, kedua kampung itu selalu padat pengunjung.
Wali Kota Malang Mochamad Anton mengaku salut dengan kreativitas mahasiswa UMM. "Dengan rampungnya jembatan ini, semoga saja minat wisata di Kota Malang khususnya KWJ dan Kampung Tridi semakin meningkat. Dengan begitu kan bisa meningkatkan perekonomian warga sekitar. Apalagi  jembatan kaca karya UMM ini pertama dan satu-satunya di Indonesia," ujarnya.
Jembatan yang mengubungkan KWJ dan kampung Tridi ini didominasi warna kuning emas, dengan panjang 25 meter dan lebar 1,25 meter sehingga bisa digunakan dua jalur atau dua orang yang berjalan berpapasan. Diestimasikan, jembatan dapat menampung sekitar 50 orang.
Sebelum jembatan dibangun, wisatawan yang ingin menikmati kedua sisi kampung harus menaiki puluhan anak tangga dan memutar lewat Jembatan Brantas. Munculnya Jembatan Kaca menjadi fasilitas baru bagi warga sekaligus alternatif bagi pengunjung. Diharapkan, selain mempermudah akses, kekerabatan antar kampung pun kian rekat untuk mempercantik Kota Malang.
Selain itu, lantaran berlantai kaca, warga dan pengunjung diajak menikmati pemandangan dasar sungai dari atas jembatan. Kaca yang transparan memiliki sensasi tersendiri layaknya Jembatan Kaca di Zhangjiajie Cina. Kini, jembatan kaca menjadi spot foto baru bagi netizen yang kerap mengunggah foto-foto menariknya di media sosial. (Humas UMM)

Minggu, 08 Oktober 2017

Kepala Delegasi ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste Cristoph Sutter memberikan penghargaan pada Subhan Setowara

KISAH dan pengalaman Muhammad Subhan Setowara sebagai minoritas Muslim di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), membuatnya menjuarai Humanitarian Essay Competition 2017 atau lomba esai nasional bertema "Konflik dan Krisis Kemanusiaan" yang diadakan oleh International Committee of the Red Cross (ICRC) bekerjasama dengan situs opini Qureta.

Peneliti Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini berhasil menyisihkan tujuh finalis lainnya yang merupakan hasil seleksi dari sekitar 350 peserta lomba se-Indonesia. Kompetisi berlangsung sepanjang 15 Agustus hingga 15 September yang ditutup dengan Malam Penghargaan pada 6 Oktober.

Pada kompetisi ini, Subhan menulis esai berjudul "Ingin Belajar Toleransi? Jadilah Minoritas". Sedangkan juara dua diraih Jessica Novia Layantara dengan esai berjudul "Pintu yang Terbuka" dan juara tiga diraih Gorba Dom dengan esai "Hak Asasi Manusia, Lingkungan, dan Etnis Rohingya".

Subhan Setowara saat tengah menjelaskan esainya pada Malam Penghargaan

Kepala Delegasi ICRC untuk Indonesia dan Timor Leste Cristoph Sutter mengaku bangga dengan banyaknya penulis muda Indonesia yang peduli pada persoalan konflik dan kemanusiaan. Hal itu menurutnya sejalan dengan misi ICRC.

"ICRC telah hadir di 80 negara membantu para korban konflik. Rasa peduli kita sangat penting karena itu membuat dunia lebih baik. Kalian generasi muda adalah para penerus yang ikut menentukan wajah dunia," kata Sutter pada Malam Penghargaan Lomba Esai 6 Oktober 2017 di Executive Lounge Hotel Grandhika Iskandarsyah Jakarta.

Sementara itu Subhan saat diwawancarai (8/10) mengatakan, tragedi yang menimpa minoritas Muslim Rohingya merupakan inspirasi utamanya menulis esai ini. Subhan mengakui, menjadi minoritas adalah hal yang sungguh berat, tak boleh sembarangan menyuarakan aspirasi karena bisa-bisa akan berbenturan dengan kepentingan dan relasi kuasa kaum mayoritas.

"Saya ini lahir di Kupang, ibukota NTT yang merupakan provinsi dengan persentase populasi Muslim terendah di Indonesia dan satu-satunya yang di bawah dua digit, yaitu 9,05 persen. Saya juga pernah belajar di sekolah Kristen. Bagi saya, konflik dan ketegangan bisa terjadi karena mayoritas yang terlalu angkuh atau minoritas yang tak sadar diri," kata alumni Muslim Exchange Program (MEP) Australia dan editor ahli web malangmu.or.id PDM Kabupaten Malang ini.

Sekalipun begitu, Subhan mengaku beruntung karena minoritas Muslim di Kupang bisa hidup dalam harmoni bersama penganut Kristen dan Katolik. Subhan mengatakan, kekerasan antaragama
pada November 1998 telah mengajarkan mereka, tak ada yang menang dalam sebuah konflik. "Kalaupun menang, menang jadi arang kalah jadi abu," ujarnya.

Subhan menuturkan, hancurnya masjid di kampung halamannya, Desa Oebufu, Kupang, pada 30 November 1998 masih terekam jelas dalam ingatan keluarganya. "Kejadian yang membuat kami harus mengungsi sementara waktu. Sekarang, 19 tahun setelah peristiwa itu terjadi, kami tidak lupa, tetapi tidak ada dendam. Kami belajar dan bertumbuh dari pengalaman itu," kisahnya.

Subhan pun berharap, konflik di masa lalu yang melibatkan minoritas Muslim di Ambon, Poso, dan Tolikara menjadi pelajaran bagi bangsa untuk tak memberi ruang bagi prasangka dan intoleransi. Subhan juga menegaskan perlunya kehati-hatian, lantaran fenomena dan isu sensitif di tingkat nasional seperti gerakan anti-pemimpin non-Muslim, keinginan mendirikan negara khilafah, terorisme, hingga penggunaan term kafir secara salah kaprah, dapat berdampak pada kebencian terhadap minoritas Muslim di tingkat daerah.

"Melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengajak umat Islam Indonesia yang terbiasa menjadi mayoritas, untuk sesekali, jika ada waktu, belajarlah menjadi minoritas. Dengan begitu, siapa tahu kita lebih menghargai indahnya damai dan harmoni dalam perbedaan," pungkas aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) ini.

Karena dipandang sangat menarik dan inspiratif, tulisan Subhan ini rencananya akan diterjemahkan pihak ICRC melalui Jessica Sallabank, penulis internasional untuk isu-isu kemanusiaan, khususnya di Asia Tenggara. ICRC berharap esai Subhan dapat dibaca secara luas oleh kalangan internasional. (Humas UMM)
Posted by hilmi Posted on Oktober 08, 2017 | No comments

Harapan dan Pesan Mursidi pada Pemuda Muhammadiyah

Dr. Mursidi, MM ketika memberikan sambutan Baitul Arqam, Sabtu, 07/10/17
Malangmu.or.id -- Sebagai kader sekaligus pimpinan Pemuda Muhammadiyah harus memiliki loyalitas tinggi, dapat dipercaya, dan menjadi tauladan yang baik. Hal tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang Dr. Mursidi, MM pada acara pembukaan Baitul Arqom Dasar (BAD) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Malang, Sabtu (7/10) di SD Muhammadiyah 9 kota Malang Jln. Tumenggung Suryo kota Malang.

Pemuda Muhammadiyah menurut Mursidi, harus memiliki loyalitas tinggi karena pemuda merupakan generasi penerus Persyarikatan Muhammadiyah, "Marilah kita pupuk loyalitas terhadap Persyarikatan Muhammadiyah, karena pemuda merupakan penerus, pelangsung sekaligus pewaris pergerakan Muhammadiyah", Ujarnya kepada peserta.

Pemuda Muhammadiyah juga diminta untuk menjadi orang yang dapat dipercaya, "Pemuda harus menjadi orang yang dapat dipercaya, karena dalam rangka ini adalah membawa nama baik Pemuda Muhammadiyah juga Persyarikatan", lanjutnya sambil mengingatkan.

Selain itu, Pemuda Muhammadiyah juga harus menjaga ketauladanan dan citra baik, "Pemuda harus bisa menjaga ketauladanan dan citra baik, menjaga nama baik pribadi maka insyaa Allah nama baik organisasi juga otomatis akan baik pula, jika tidak maka akan mencoreng nama baik pribadi juga organisasi", tambahnya.

"Pemuda Muhammadiyah di kabupaten Malang ini sangat hiterogen, ada yang menjadi guru, dosen, pebisnis, petani, karyawan atau pegawai, meski begitu harus terus belajar dan menuntut ilmu", tuturnya.

Terakhir Mursidi mengajak untuk terus ber-amar ma'ruf nahi mungkar, "maka marilah kita berdakwah amar ma'ruf nahi mungkar dengan semangat lillahi ta'ala", pungkasnya. (Zudin/hil)

Sabtu, 07 Oktober 2017

Posted by Ridlo Posted on Oktober 07, 2017 | No comments

MPI Belajar Produksi Audiovisual dan Media Konvergensi

Jamroji, Wakil Ketua MPI sebagai pemateri  dan tim MPI ketika mengikuti workshop di SMK MUTU Gondanglegi (8/10) 

Malangmu.or.id -SMK MUTU- Untuk mempersiapkan sumber daya yang handal bidang produksi media audiovisual, tim Majelis Pustaka dan Informasi PDM Kabupaten malang mengikuti workshop Produksi Audiovisual dan Media Konvergensi yang diadakan oleh Lembaga Informasi PWM Jawa Timur (8/10/17). Bertempat di Ground Tinanium Building SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, acara ini diikuti oleh perwakilan daerah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di Jawa Timur. Ini adalah kegiatan road workshop yang keempat  yang diadakan oleh LIK PWM, yang sebelumnya bertempat di Surabaya, Gresik dan terakhir Ponorogo pada minggu yang lalu (1/10/2017).

Pada sesi pembukaan, Cholid AS, ketua LIK PWM Jatim mengungkan tentang maksud dan tujuan kegiatan workshop adalah sebagai persiapan pendirian televisi Muhammadiyah Jawa TImur yang bernama pwmu.tv. Untuk mendukung itu, maka dibutuhkan SDM kontributor daerah dalam memenuhi konten rubrik di tv milik Muhammadiyah Jatim nanti. Dr. H. Mursidi, Ketua PDM Kab Malang yang hadir  membuka acara ikut memberikan support workshop ini. Hal ini dikarenakan betapa pentingnya media audiovisual untuk mensyiarkan Muhammadiyah dan dakwah Islam melalui media televisi. “Semoga akan muncul kontributor handal untuk mensukseskan televisi Muhammadiyah Jatim “pwmutv” sebagai media ummat yang memberikan tayangan tauladan dan Islami,” pintanya disela-sela sambutan pembukaan.

Tim MPI PDM Kabupaten Malang yang hadir di SMK Mutu adalah Jamroji, Ridlo Setyono, Khilmi Arif, dan Choirul Amin. Jamroji, Wakil Ketua MPI  yang juga Kepala Laboratorium Komunikasi UMM ini ternyata juga sebagai pemateri workshop. Materi yang disampaikan mengenai news reporting dan presenting.

Sesuai jadual yang telah disebar di media Muhammadiyah, materi materi yang diberikan mengenai sosialisasi rubrik pwmutv, metode pengambilan gambar  video dan audio, dan news presenter. Peserta tidak hanya mendapatkan materi saja tetapi juga mempraktekannya dipandu oleh pemateri dari LIK PWM Jawa Timur. (Rid/hil)
Dr. Mursidi, MM ketika memberikan sambutan pada Workshop LIK di SMK Mutu, Ahad (08/10/17)
Malangmu.or.id – SMK MUTU. Workshop Produksi Audiovisual dan Media Konvergensi yang diselenggarakan oleh Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di ruang Basement Titanium Building SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi kabupaten Malang mendapat apresiasi positif dari Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kab. Malang, Dr. Mursidi, MM. Menurutnya, program workshop ini sangat berguna dalam membangun citra diri persyarikatan.

Aktifitas Muhammadiyah di Jawa Timur sangat tinggi, perlu dikenalkan, diekspos ke dunia luar agar memberikan inspirasi dan nilai positif. Khususnya kabupaten Malang dengan wilayah yang sangat luas ini juga perlu disorot, diunggah segala aktifitas positifnya. Semua ini dalam rangka membangun citra. Katanya dalam memberikan sambutan pada workshop LIK, Ahad (08/10/17).

Mursidi menambahkan, membangun citra diri harus dilakukan oleh semua orang, hususnya mereka yang terlibat dalam pergerakan persyarikatan Muhammadiyah. Seorang staf harus mempunyai jiwa semangat membangun citra, jangan sampai menjadi “penggembos” lembaga, justru menjadilah orang yang maju. Berbuatlah yang terbaik, maksimal untuk ummat.

Rencana LIK PWM Jatim membuat siaran televisi “pwmu.tv” dalam beberapa waktu ke depan perlu persiapan yang matang. Membutuhkan banyak SDM yang terlibat di dalamnya. Karenanya, Ketua PDM kab. Malang ini berpesan agar workshop yang sudah berjalan keempat, setelah di Surabaya, Gresik dan Ponorogo, ini dimaksimalkan agar mencapai hasil tujuan yang diinginkan. (hil)
Pembukaan Workshop Produksi Audiovisual dan Media Konvergensi di SMK Mutu Gondanglegi (8/10)

Malangmu.or.id - SMK MUTU.  Lembaga Informasi dan Komunikasi (LIK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur kembali menggelar Workshop Produksi Audiovisual dan Media Konvergensi yang diadakan di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi (8/10). Workshop yang digelar rutin roadshow ke daerah-daerah ini untuk memperkuat jaringan media Muhammadiyah.

Kegiatan bertempat di basement gedung Titanium Building dan diikuti oleh alumni workshop sebelumnya di PWM Jatim dan peserta utusan dari  Muhammadiyah beberapa daerah sekitar. Pada pembukaan workshop, Ketua LIK PWM Jawa Timur Kholid AS mengungkapkan tentang tujuan serta prospek kedepan dari tindak lanjut rangkaian pelatihan ini.

“Kedepan kita akan memiliki siaran televisi milik PWM Jatim, yaitu pwmutv. Untuk menyiapkan SDM-nya, banyak diperlukan banyak kontributor daerah-daerah yang akan mengisi slot-slot rubrik acara yang telah dikonsep oleh tim LIK," ujar Cholid, Ahad (8/10) pagi.

Peserta workshop mengikuti materi teori, diantaranya sosialisasi rencana program/rubrik pwmu.tv, proses pengambilan gambar video yang baik, editing video, standarisasi konten yang siap tayang serta news reporting dan presenting. Dengan workshop ini, lanjutnya, pihaknya akan menyiapkan kontributor andal dan kompeten sesuai dengan kebutuhan broadcast pwmu.tv kedepan.

Sementara itu, Dr. H. Mursidi, Ketua PDM Kabupaten Malang dalam kesempatan sambutan sebelum penyampaian materi workshop, menekankan tentang pentingnya komunikasi media dalam mensyiarkan Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah harus menguatkan medianya untuk mengikuti cepatnya perkembangan dan persaingan dengan media yang dikuasai oleh asing ataupun non-muslim.

“Kami sangat mendukung kegiatan workshop ini, semoga bisa menghasilkan teknisi dan kontributor yang mumpuni dan siap mensukseskan persiapan peluncuran televisi milik PWM Jatim yaitu pwmu.tv. Kanal pwmu.tv ini diharapkan akan mewarnai dunia pertelevisian yang bernuansa Muhammadiyah dan Islami,” pungkas dosen Fakultas Ekonomi UMM ini. (rid/min)