Sabtu, 26 Agustus 2017


Najib Hamid, Ketua PWM Jatim ketika menyampaikan materi di Up Grading PDM Kab Malang di Aula Rumah Sakit UMM.


Malangmu.or.id - RSUMM. KERAGAMAN ber-Islam di Indonesia adalah sebuah realita, setidaknya berkembang dua aliran (kekuatan) yang sama-sama ekstrim di kalangan masyarakat muslim, yakni salafi dan khalafi. Lantas dimana posisi Muhammadiyah?

Wakil Ketua PWM Jawa Timur H. Nadjib Hamid, MSi mengungkapkan, pandangan pertama sangat berorientasi pada masa lalu (salafi). Menurut kelompok ini, ber-Islam kaffah artinya ber-Islam yang sesuai persis seperti pada zaman Nabi, dalam semua hal, mulai dari masalah ta’abbudi hingga masalah ta’aqquli.

Pandangan kedua, lanjutnya, sangat berorientasi pada masa kini (khalafi). Kelompok ini meyakini, ada ajaran Islam yang sudah kedaluwarsa, yang tidak harus diikuti, tapi disesuaikan dengan perkembangan zamannya.

Dikatakan H Najib, Muhammadiyah dikenal sebagai Islam berkemajuan. Yakni, Islam yang cocok dengan syariatnya, tapi juga sesuai perkembangan zamannya. Jika terkait masalah ta’abbudi, prinsipnya harus merujuk pada perintah atau contoh dari Nabi. Artinya, selama tidak ada perintah berarti dilarang. Maka yang dilakukan adalah tajrid (pemurnian).

"Namun berkaitan masalah ta’aqquli, prinsipnya boleh kreatif (selama tidak ada larangan berarti boleh). Maka yang dilakukan Muhammadiyah adalah tajdid (pembaharuan)," demikian H. Nadjib Hamid, dalam paparannya saat acara Up Grading Pimpinan Cabang dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah se-Kabupaten Malang, Sabtu (26/8).

Lebih lanjut, H Najib menegaskan, untuk memperkokoh posisi Muhammadiyah tersebut, maka dibutuhkan beberapa hal. Diantaranya, kesadaran pimpinan/pelaku organisasi akan ‘fungsi pimpinan’, unsur pembantu pimpinan yang terdiri dari majelis-majelis dan lembaga yang ada, yang akan menjadi modal memperkuat ‘fungsi dan kedudukan AUM’.

"Sejarah membuktikan, bahwa Muhammadiyah besar dan bertahan hingga satu abad, bukan karena uang melainkan karena gagasan besar, ketekunan dan keikhlasan para aktivisnya," tegasnya.

Agar warga Muhammadiyah terbentengi dari beragam ideologi tersebut, lanjutnya, perlu penguatan faham Islam berkemajuan, agar terbangun militansi, dan tidak bersikap mendua. Menurutnya, yang bisa dilakukan antara lain menggelorakan kajian dan pengajian, dengan manajemen sinergis, menggembirakan dan memudahkan.

"Tak kalah penting, memberikan keteladanan dalam penerapan nilai-nilai Al-Islam dan kemuhammadiyahan dalam kehidupan keseharian," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua Divisi Pengembangan Lazismu PDM Kabupaten Malang Hariadi, SAP mengungkapkan, Muhammadiyah masih menghadapi sejumlah tantangan pengembangan. Melansir data 2016, didapati PDM Kabupaten Malang memliki 26 Cabang dari 33 Kecamatan (78%); 145 ranting dari 375 desa/kelurahan (38 %).

Menurutnya, tantangan dan tanggungjawab ini tidak ringan, khususnya bagi Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting PDM Kabupaten Malang.

"Dibutuhkan sinergi dan komunikasi yang terus menerus dan berkelanjutan agar program-program persyarikatan berjalan efektif dan menghasilkan capaian optimal sebagaimana yang menjadi harapan warga masyarakat, ummat dan jama’ah," demikian Hariadi. (har/min)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar