Minggu, 04 Juni 2017

Prof. HA Malik Fadjar ketika menyampaikan materinya di Kajian Ramadhan 1438 H PWM Jatim 

Malangmu.or.d - UMM. Teologi Al Ma’un menjadi spirit dalam membesarkan Muhammadiyah, terutama di kalangan bawah. Teologi itu ada pada gerakan pemberdayaan dalam konteks kemanusiaan. Konteks ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat dalam hidup bermasyarakat, dan berbangsa dalam cakupan yang sangat luas. Muhammadiyah punya peran penting bagaimana memberdayakan kalangan alit itu.

Demikian, pokok-pokok materi yang disampaikan Prof. HA Malik Fadjar, M.Sc dalam sesi hari kedua (4/6/17) Kajian Ramadhan PWM Jatim di di kampus UMM. Kalangan alit menjadi titik penting pemberdayaan Muhamamdiyah karena masih banyak masyarakat yang perlu diberdayakan.

“Untuk mewujudkan bagaimana membesarkan Muhammadiyah kalangan alit, pembangunan manusia harus menjadi titik penting. Tak ada cara lain. Pembangunan manusia itu berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan. Muhamamdiyah dalam gerakannya selalu memfokuskan kegiatannya pada hal di atas dengan semangat Al Ma’un tentunya, “tegas Malik Fadjar.

Malik menekankan bahwa bahwa pembangunan pendidikan penting karena pendidikan berkaitan dengan kesehatan dan kemiskinan itu. Sambil mengutip Ali Bin Abi Thalib ia mengungkapkan, “Kebodohan itu warisan yang paling membuat penderitaan dan  kesengsaraan. Maka, hal yang bisa menguatkan adalah dengan pendidikan. Dan Muhamamdiyah memilih jalan itu. Maka Muhammadiyah menyebar kader-kadernya ke seluruh pelosok tanah air. Mereka ini mendirikan sekolah-sekolah”.

Mantan Rektor UMM itu memberikan kiat bahwa untuk membangun pendidikan memang tidak gampang. Diperlukan semangat dan serius melaksanakan serta amanah, serta kreatif dan inovatif. Malik kemudian mencontohkan saat ia menjadi rektor UMM. Untuk membangun sekolah itu  harus membangun kepercayaan dulu. Mendirikan lembaga pendidikan harus berdasar tiga kepercayaan yakni;  image building atau citra, trush building atau kepercayaan masyarakat dan  institutuion building atau membangun lembaga yang sehat termasuk orang-orangnya. Jika tiga pilar ini dibangun maka siswa atau mahasiswa akan datang sendiri.

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah mengomunikasi dengan pihak lain.  Istilah kerennya  harus ada kapitalisasi dalam Muhammadiyah. Muhammadiyah yang besar itu harus dikomunikasikan terus kepada masyarakat dan pemerintah. “Ini penting karena perkembangan Muhammadiyah tidak dalam ruang tertutup. Ia harus mengomunikasikannya ke pihak lain. Yang penting amanah, konsisten, istiqomah, tuma’nimah, baik dalam ber Al Islam atau Kemuhammadiyahan. Gerakan membangun gerakan Indonesia dan Islam berkemajuan harus mengejawantahkan atau aktualisasi dalam kegiatan, “tegas mantan Menteri Agama dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan tersebut.

Malik berpesan dengan mengutip mantan ketua PP Muhamamdiyah, AR Facruddin bahwa kita harus berkemuhammadiyahan. Berkemuhammadiyahan adalah Al Islam yang gagah, menatap ke depan, dan nyah nyoh tidak meminta-minta. Ia juga harus tampil gagah tanpa merunduk runduk. (nrd).

0 komentar:

Posting Komentar