Sabtu, 03 Juni 2017

Presiden RI Ir. H. Joko Widodo ketika memberikan sambutan pada Kajian Ramadhan 1438 H
Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di UMM Dome
MALANG-Kemajuan bangsa Indonesia banyak ketinggalan dengan bangsa lain. Masyarakat kita kurang berpikir jauh ke depan dan masih sibuk dengan urusan kepentingan individu dan golongan. Beberapa bulan terakhir bangsa ini terkuras energinya untuk mengurusi kegiatan yang tidak mengarah pada kemajuan.

Demikian pokok-pokok penting yang disampaikan Presiden Republik Indonesia (RI), Joko Widodo dalam Kajian Ramadhan 1438 H di Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) (3/6/17). Acara yang berlangsung dua hari (2-3/6/17) dihadiri oleh seluruh warga Muhammadiyah Jawa Timur.

Dalam sambutannya, presiden mengingatkan agar kita tidak terjebak untuk sibuk mengurusi kerja yang tidak produktif. “Delapan bulan terakhir enerji kita habis. Kita saling mencaci, saling membenci, saling menyalahkan, saling menuduh. Polri sampai keluarkan biaya triliunan untuk mengatasi konflik di tengah kita. Kita lupa bahwa kita saudara, kita lupa semangat ukhuwwah satu sama lain. Maka, kembalikan pada jati diri bangsa. Kita bangsa besar”.

Presiden juga memberikan pembandingan. Pada tahun 70-an  Indonesia punya pabril kapal PT PAL di Surabaya, Korea juga punya. Sekarang Indonesia tetap punya kapal, tetapi Korea sudah punya kapal selam. Indonesia akhirnya import kapal selam dari negara itu.

“Tahun 70-an masih banyak orang Malaysia yang belajar ke Indonesia, saat ini sebaliknya kita belajar dari Malaysia. Buktinya, banyak mahasiswa Indonesia yang belajar ke sana. Pendapatan per kapita Malaysia saat ini tiga kali lipat dari Malaysia. Mengapa ini semua terjadi? Kita tidak tanggap pada perubahan teknologi yang sangat cepat dan sibuk dengan kegiatan yang tidak bermanfaat. Kalau begini, kita akan tetap ketinggalan dengan bangsa lain,” tegas presiden.

Untuk mengatasi kemunduran di atas, presiden memberikan solusi. Pertama, mengembalikan semangat ukhuwah. Ruang keagamaan selama ini sudah diberikan negara secara luas, maka harus digunakan sebaik-baiknya, bukan untuk saling menyalahkan. Kedua,  membangun SDM yang kuat karena kompetisi semakin ketat.  Pendidikan harus diarahkan untuk memperkuat nilai agama, moralitas, mentalitas yang baik. Ketiga, nilai persaudaraan harus terus dipupuk dan dibangun.

Dalam kesempatan itu, anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Watimpres) sekaligus ketua Badan Pembina Harian (BPH)UMM menyematkan jaket Almamater UMM kepada presiden Joko Widodo. Sebagaimana tradisi pada tahun-tahun sebelumnya, Kajian Ramadhan PWM Jatim dilengkapi dengan launching buku. Buku-buku itu antara lain Fiqh Islamy (M. Saad Ibrahim), Manifestasi Islam, Membangun Makna Agama dalam Kehidupan Masyarakat  (Syafiq A. Mughni),  Muhammadiyah dalam Pusaran Politik (Zainuddin Maliki),  dan WhatsApp Hasanah WhastsApp Dlalalah, 30 Kultum Ramadhan (Nur Cholis Huda) (nrd).

0 komentar:

Posting Komentar