Minggu, 25 Juni 2017

Posted by Ridlo Posted on Juni 25, 2017 | 1 comment

Khutbah Abu Bakar dengan Takbir Menggelegar

Ust Abu Bakar ketika menyampaikan khutbah Iedul Fitri di Lapangan Tumpang. (25/6/17)

Malangmu.or.id - TUMPANG. Bertempat di Stadion Tumpang pada Ahad 1 Syawal 1438 H./25 Juni 2017 Pimpinan Cabang Muhammadiyah tumpang menyelenggarakan sholat ‘iedul Fitri yang dimulai pada pukul 06:30 wib. yang kali ini bertindak selaku imam sholat dan khotib adalah ustadz Dr. Abu Bakar, M.Pd. (Dosen Luar Biasa bagian AIK Universitas Muhammadiyah Malang)

Sebagaimana lazimnya khutbah pada rangkaian sholat ‘ied, takbir selalu mengawali dan senantiasa dikumandang di sela-sela khotib menyampaikan khutbahnya. Demikian juga dengan yang dilakukan oleh ustadz abu bakar saat hampir lebih kurang sekitar 20 menit menyampaikan materi khutbah “Meraih Kesucian Jiwa Dengan Pandai Bersyukur Dan Menjauhi Takabbur” dihadapan jama’ah sholat ‘ied di stadion tumpang. Tidak kurang dari 1.500 jama’ah persyarikatan Muhammadiyah memenuhi dan memadati shaf-shaf yang disiapkan oleh panitia/pcm.

Ribuan jamaah memadati lapangan Tumpang mengikuti Sholat Iedul Fitri 1438 H.

Takbir yang sama kita gemakan, dipagi hari Idul Fitri seperti saat ini, dan digemakan oleh milyaran Muslim diseluruh dunia, menandakan bahwa Allah Tuhan sang Maha digjaya saja yang besar, sementara apapun yang dikatakan besar selain Dia adalah kecil, apapun yang dikatakan mulia selain Dia adalah hina, apapun yang dikatakan kuat selain Dia adalah lemah, apapun yang merasa memiliki selain Dia adalah termiliki, apapun yang berkuasa selain Dia adalah dikuasai, dan apapun yang dikatakan berilmu selain Dia adalah pencari ilmu, demikian ustadz abu bakar membuka/memulai khutbah dengan gaya khas suaranya yang keras dan lantang menggelegar penuh semangat, dialeg dan juga retorika penyampaian khutbah tanpa teks serta sesekali menggunakan bahasa tubuh yang membuat jama’ah begitu khidmat menikmati penyampaian materi khutbahnya.

Kesadaran akan posisi Allah yang Agung tersebut, mendidik kita untuk selalu membesarkan Allah SWT. Allah tahu persis prilaku kita, yang membesarkan Allah disaat kita puasa, sholat, haji, saat berdoa dan berdzikir, tapi kita lupakan kebesaran Allah saat kita di kantor, di tempat kerja, di pasar, di rumah sakit, kita melebihkan diri kita dibanding Allah SWT. Kita sering membesarkan Allah hanya di Masjid, begitu ditengah masyarakat kita takabbur, kita membesarkan diri kita, itu terbukti banyak orang yang khusuk sholatnya tapi khusuk juga dalam memperdaya orang lain, banyak orang yang fasih membaca Al-Quran tetapi fasih juga dalam merancang kesempatan untuk mengambil hak orang lain, banyak orang yang tak putus puasanya, tapi tak putus pula kezalimannya.

Sebelum mengakhiri khutbahnya dengan do’a, ustadz abu bakar juga berpesan agar kita saling memulyakan, saling memaafkan dengan sepenuh hati, hapuslah luka lama, tinggalkan dendam permusuhan dan kita hapus rasa kebencian. ‘iedul fitri hanya pantas dirayakan oleh orang-orang yang telah berpuasa Ramadhan dan orang-orang yang ikhlas untuk saling memaafkan, dan mau berlapang dada menerima kembali kehadiran orang-orang yang dulu sangat dibencinya. Sebaliknya bersedihlah orang-orang yang gagal memenuhi undangan Ramadhan, orang-orang yang tidak mau meminta maaf atau enggan memberi maaf pada orang lain. Allah SWT selalu memanggil hamba-hamba-Nya yang beriman agar mau membuka diri dan toleran seperti firman-Nya; “Dan hendaklah mereka mema`afkan dan berlapang dada. apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. [QS. An-Nuur : 22]

Sebagaimana tradisi pelaksanaan sholat ‘ied sebelum-sebelumnya, usai pelaksanaan sholat ‘ied kali ini pun digunakan dan dimanfaatkan oleh para jama’ah untuk bersilaturrahim dan saling memaafkan dalam kebersamaan dalam mensyiarkan islam. Selain daripada itu yang mesti diingat, utamanya bagi para pimpinan ataupun aktifis persyarikatan bahwa usainya pelaksaan sholat ‘ied dan rangkaiannya adalah awal untuk melanjutkan kembali gerakan/laju roda organisasi (administrasi) diantaranya adalah laporan penghimpunan zakat, infaq dan shodaqoh maupun wakaf-wakaf tunai yang diperoleh selama setahun yang lalu dari bulan juli 2016 hingga juni tahun 2017 ini, untuk kemudian diserahkan ke lazismu pdm kabupaten malang. ini sangat penting untuk dilakukan segera sebagai salahsatu wujud dukungan data dari seluruh elemen atau potensi besar yang dimiliki oleh persyarikatan muhammadiyah dalam upaya merevitalisasi dan meneguhkan kembali gerakan filantropi yang merupakan spirit al-ma’un sebagaimana yang diteladankan oleh KH. Ahmad Dahlan, terang Hariadi, S.AP. mantan sekretaris pcm tumpang yang juga selaku ketua divisi pengembangan lazismu PDM kabupaten Malang. (Hari)
Categories:

1 komentar: