Senin, 01 Mei 2017

Peserta Evakuasi Mandiri dan Apel Siaga HKN 2017 berpose di depan Gedung SMK Mutu Gondanglegi.

Malangmu.or.id -- GONDANGLEGI. Semakin tinggi gedung semakin tinggi pula potensi bencana yg dihadapi, Guna meminimalisir potensi terjadinya bencana di sekolah siswa SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dibekali teori dan simulasi tanggap darurat bencana. Acara yang berbentuk simulasi penaganan kebakaran gedung tersebut digelar pada tanggal 26 April 2017 bertepatan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional.

Kegiatan yang menerjunkan 200 siswa dari berbagai jurusan tersebut diselenggarakan bersama SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, LPB Muhammadiyah (Muhammadiyah Disaster Managemen Center) Kab. Malang dan PD Ikatan Pelajar Muhammadiyah Kab. Malang.

Acara simulasi tanggap darurat tersebut merupakan rangkaian dari kegiatan HKBN 2017, acara yang digagas oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana tersebut merupakan langkah awal untuk membangun kesadaran warga negara Indonesia tentang pentingnya sikap kepedulian terhadap tanggap darurat bencana.

Rosi Novi Hendrawan atau yang biasa akrap dipanggil Rosi selaku Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana (MDMC) Kab. Malang mengatakan bahwa MD di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi adalah untuk meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan partisipasi warga sekolah dalam menghadapi resiko bencana setempat. Harapannya, agar tercipta budaya aman di sekolah, rumah dan masyarakat.

Penyematan Rompi Peserta Peserta Evakuasi Mandiri dan Apel Siaga HKN 2017

Di Muhammadiyah Disaster Managemen Center (MDMC ) di Divisi pengurangan resiko bencana ada tiga claster yaitu Sekolah Aman Bencana, Rumah Sakit Aman Bencana dan Jamaah Tangguh Bencana. Pada HKBN 017 ini tema yang dipilih BNPB adalah Pelajar dan sekolah “Sekolah Aman Bencana” maka dari itu Muhammadiyah melibatkan tiga komponen di Muhammadiyah yaitu MDMC, Majelis Dikdasmen dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah.

Sekolah aman di Muhammadiyah memiliki tiga tujuan yaitu Menciptakan lingkungan aman bagi guru, kariyawan dan murid, kedua menjaga aset dari muhammadiyah tanpa kesiapsiagaan dan kewaspadaan kita kebakaran bisa terjadi menghabiskan aset yg telah dibangun puluhan tahun, dan ke tiga dengan Branding sekolah aman bencana lembaga penanggulangan bencana mencoba berkontribusi pada Dikdasmen untuk meningkatkan nilai tawar sekolah-sekolah Muhammadiyah.

Masturin Adiwijaya selaku Sekretaris PCM Gondanglegi sangat bangga apa yang dilakukan Muhammadiyah Disaster managemen Center bekerjasama dengan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dan berharap sesuai prosedur yang ada kegiatan seperti ini dilakukan rutin 6 bulan sekali karena berkaitan dengan disiplin, disiplin itu yang pertama harus dipaksa dan pemaksaan itu ada diaudit, lama kelamaan dengan seiring waktu diharapkan semua akan sadar bencana.

Nurcholis Dwi R Sekretaris MDMC Kabupaten Malang menjelaskan bahwa  Dasar BNPB menggagas HKBN 2017 ini bahwa Berdasarkan Undang Undang No 24 Tahun 2007, tentang Penanggulangan Bencana, disebutkan bahwa Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana, baik yang disebabkan oleh faktor alam, faktor non-alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

Namun demikian upaya terpadu untuk melakukan latihan kesiapsiagaan secara serentak se-Indonesia dalam menghadapi bencana masih rendah dan belum menjadi budaya sadar bencana. Hasil survey di Jepang, Great Hansin Earthquake 1995, korban yang dapat selamat dalam durasi “golden time” disebabkan oleh : (1) kesiapsiagaan diri sendiri sebesar 35 %, (2) dukungan anggota keluarga sebesar 31,9 %, (3) dukungan teman/tetangga sebesar 28,1%, (4) dukungan orang disekitarnya sebesar 2,60%, (5) dukungan Tim SAR sebesar 1,70 % dan (6) lain-lain sebesar 0,90%.

Berbagai kendala dan tantangan yang pada umumnya dihadapi pemangku kepentingan dalam rangka meningkatkan kesiapsiagaan secara mandiri antara lain : (1) kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat terhadap karakteristik bencana dan risikonya, (2) kurangnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman yang ada di sekitarnya, dan (3) belum adanya pelatihan secara terpadu dan periodik karena kewaspadaan dan kesiapsiagaan belum
menjadi budaya.

Oleh karenanya, edukasi untuk meningkatkan pemahaman risiko bencana akan dikemas dalam kegiatan “Latihan Kesiapsiagaan Bencana Nasional” dengan tagline “Siap, untuk Selamat !” merupakan pesan utama bersama yang diusung dalam proses penyadaran (awareness) kampanye ke depan. Azas dan filosofi yang hendak dibangun dari Gerakan latihan kesiapsiagaan serentak ini adalah membangun partisipasi dan kemitraan publik serta melibatkan lembaga usaha dengan semangat gotong royong, kesetiakawananan kedermawanan. (Nur)

0 komentar:

Posting Komentar