Jumat, 26 Mei 2017

Posted by Ridlo Posted on Mei 26, 2017 | No comments

Puasa Harus Menciptakan Empati

Drs.  H. Fauzan, M.Pd, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang. (foto: humas UMM)

Tujuan akhir berpuasa memang untuk mencapai derajad takwa sebagaimana digariskan dalam Surat Al Baqarah ayat 183. Tetapi lebih dari itu, puasa itu harus dapat menumbuhkan sifat empati ada pada lingkungan sekitar. Puasa juga harus menumbuhkan jiwa sosial dan menekan sifat individual.

Demikian rangkuman isi ceramah shalat tarawih hari pertama (26/5/17) di Masjid AR Fachruddin (ARF) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Ceramah perdana disampaikan oleh Fauzan (Rektor UMM) dan sekaligus ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang.

Dalam pesannya, Fauzan menekankan bahwa dimensi penting dari puasa adalah menciptakan empati pada sesama. Takwa sebagaimana tujuan berpuasa salah satu implikasi positifnya adalah kepedulian pada sesama tersebut.

“Itu penting ditekankan karena kita itu manusia unik. Manusia itu tempatnya lupa. Kita sering lupa bahwa kita ini manusia karena seringnya kita melakukan kegiatan”, tegasnya. Fauzan mencontohnya, kita sering lupa pada manfaat bernafas setelah kita sakit sesak nafas. Puasanya mengingatkan pada manusia bahwa ada hal-hal lain di luar yang rutin dan sering dilupakan, termasuk sifat empati itu.

Kita juga sering lupa bahwa puasa sebaiknya bisa menciptakan jiwa sosial. Kita itu manusia individualis. Kita sering berkumpul dan berkelompok namun nilai sosialnya tidak ada. Mantan Dekan FKIP itu menegaskan, “Jati diri manusia ada pada nilai sosialnya juga, dan itu bagian dari ciri pelaksanaan takwa. Puasa harus punya dampak sosial jika tidak maka akan susah mencapai derajad orang bertakwa”.

Fauzan memberikan perumpamaan sebagaimana mengutip pendapat Al Ghazali. Hiduplah bagaikan makan buah, bukan makan makanan pokok. Jika kita menganggap hidup ibarat makan makanan pokok, manusia mudah lupa karena sering memakannya. Namun, hidup ini perlu seperti makan buah. Karena jarang makan buah manusia akan menjadi ingat. Puasa melatih seseorang untuk ingat jati diri manusianya.

Rektor UMM juga mengingatkan bahwa masjid AR Fachruddin diharapkan mampu menebar kebaikan bagi lingkungan sekitar.

Dalam kesempatan itu, Syamsurizal Yazid (ketua Badan Pemakmuran Masjid/BPM) masjid ARF memberikan informasi, bahwa masjid ARF tidak hanya melaksakan tarawih dan shalat shubuh berjamaah, tetapi juga kajian-kajian keislaman.

“Kita akan membuka kajian tafsir sehabis shubuh dan kajian hadits sehabis dhuhur. Disamping juga ada acara i’tikaf Ramadhan dan bakti sosial sebagaimana tahun-tahun sebelumnya, “katanya lebih lanjut (nrd).

0 komentar:

Posting Komentar