Sabtu, 18 Maret 2017

Posted by hilmi Posted on Maret 18, 2017 | No comments

Pentingnya Tabayyun Berita


 
Nurudin, Ketua MPI PDM kab. Malang
“Berita yang beredar di sekitar kita itu sudah dibingkai (framing) oleh kepentingan lembaga media massa. Lembaga media massa punya bingkai dari hasil kesepakatan sebuah sistem…. Orang yang cenderung “sinis” tentu akan berkomentar sinis. Jika sinisme yang sudah dibingkai itu didengar orang lain lalu dipercaya hasilnya akan menjadi informasi yang membodohi.
 --- Nurudin ---

malangmu.or.id -- Pertanyaannya adalah mengapa kita susah-susah perlu tabayyun (meneliti atau selektif menerima informasi) terhadap berita? Bukankah benar tidaknya sebuah berita tergantung si pembuat berita? Bukankah jika ada kesalahan bukan pembaca berita itu yang berdosa atau terkena akibatnya? Bukankah kita hanya konsumen?

Pertanyaan-pertanyaan di atas tentu saja sangat relevan dengan kasus-kasus beredarnya informasi di sekitar kita akhir-akhir ini. Coba kita lihat di media sosial (medsos). Beberapa informasi yang beredar tumpang tindih, simpang siur, untuk tak mengatakan membingungkan. Apakah lantas kita memercayai begitu saja informasi-informasi tersebut?

Nanti dulu. Pengguna media sosial itu beragam kepentingan dan tujuannya. Akibatnya, beragam pula apa yang disebarkan. Tak sedikit diantara mereka sekadar menyebarkana informasi yang belum tentu tahu kebenarannya. Bisa jadi informasi itu sesuai dengan kecenderungan dirinya, lalu dengan sangat emosional mereka menyebarkan.

Lihat saja bagaimana informasi yang berkaitan dengan perbedaan pendapat pendukung dan bukan pendukung Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terkait Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Daerah Khusus Ibukota (DKI). Baik pendukung atau bukan pendukung sering sama-sama punya motif tertentu. Bagi pendukung Ahok, asal ada informasi yang mendukung Ahok akan disebar atau informasi yang menyerang anti Ahok juga akan cepat disebar.  Sementara itu yang sengaja membuat bingkai pesan itu menjadi bengkok bersorak sorak. Ternyata masyarakat kita masih sedemikian bodoh dengan membabi buta menyebar informasi yang belum tentu benar.

Yang mengerikan, jika informasi tersebut kemudian disebarkan lagi kepada orang yang belum tentu paham sumber kebenarannya. Jadilah informasi itu sangat mengacaukan masyarakat. Bagaimana jika informasi salah yang kemudian disebar ke masyarakat itu menyangkut perbedaan pendapat atau konflik di masyarakat? Dampaknya bisa mengerikan, bukan?

Itulah kenapa kita perlu bertabayyun terhadap berita. Berita yang tidak benar-benar akurat jika sampai pada haters atau penyinta setengah mati hasilnya sangat berbahaya. Beritanya saja sudah tidak benar, kemudian akan disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dengan sangat emosional. Hasilnya tentu saja akan semakin memperkeruh suasana di masyarakat.

Yang perlu diketahui, berita yang beredar di sekitar kita itu sudah dibingkai (framing) oleh kepentingan lembaga media massa. Lembaga media massa punya bingkai dari hasil kesepakatan sebuah sistem, apalagi jika hanya menyangkut media sosial dengan bingkai individu? Orang yang cenderung “sinis” tentu akan berkomentar sinis. Jika sinisme yang sudah dibingkai itu didengar orang lain lalu dipercaya hasilnya akan menjadi informasi yang membodohi. Orang sinis selamanya akan dianggap sebagai orang bodoh yang tidak mau belajar memahami kelemahan diri dan keunggulan orang lain.

Sebenarnya, perintah bertabayyun pernah dikemukakan dalam surat Al Hujurat ayat 6, “Hai orang-orang yang beriman. Apabila datang seorang fasiq dengan membawa suatu informasi maka periksalah dengan teliti agar kalian tidak menimpakan musibah kepada suatu kaum karena suatu kebodohan, sehingga kalian menyesali perbuatan yang telah kalian lakukan”.

Orang-orang yang memberitakan informasi tidak benar itu bisa masuk dalam kriteria fasiq. Artinya pula, orang-orang yang aktif di media sosial dengan hanya menyebarkan link tanpa meneliti kebenarannya bisa masuk dalam kriteria tersebut. Tak terkecuali mereka yang dengan penuh kebencian menyebarkan informasi-informasi yang tidak benar dan hanya menuruti syahwat emosinya tidak perlu dipercaya karena mempunya bibit-bibit fasiq. Juga, pasukan maya yang pekerjaannya hanya “copy paste” informasi di grup-grup media sosial. Maka terhadap orang-orang seperti itu selayaknya kita perlu hati-hati. Bahkan orang-orang seperti itu jangan-jangan berada tak jauh dari kita.

Penulis: Nurudin, Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kabupaten Malang; dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang
 
(Tulisan di atas pernah dimuat di majalah MATAN, edisi 128, Maret 2017)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar