Jumat, 24 Maret 2017

Posted by kholimi Posted on Maret 24, 2017 | No comments

Mewaspadai False Flag Operation

Mustofa Nahrawardaya saat memandi sesi dialog dalam acara Silaturahmi Pengelola Media Muhammadiyah di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta, Sabtu (25/3/17).

YOGYAKARTA - Tantangan media Muhammadiyah ke depan sangatlah berat. Media Muhammadiyah tidak lagi berurusan dalam dakwah Muhammadiyah yang selama ini dilakukan tetapi harus ikut melawan semua bentuk manipulasi isu yang mengatasnamakan Muhammadiyah.

Hal demikian dikatakan oleh Mustofa Nahra, Pengurus Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah dalam acara “Silaturahmi Pengelola Media Muhammadiyah” (25/3/17) di kantor PP Muhammadiyah Yogyakarta.

Mustofa mengungkapkan, saat ini berkembang media yang mengatasnamakan Muhammadiyah, membawa bendera Muhammadiyah, menginformasikan soal Muhammadiyah tetapi tujuannya menghancurkan Muhammadiyah. “Dalam kegiatannya, isi berita yang dikemukakan justru memojokkan Muhammadiyah. Para pengelola memang bertujuan bukan untuk syiar Muhammadiyah. Diharapkan berita-berita itu diyakini sebagai opini publik masyarakat dan harapannya sebagai sebuah kebenaran. Itulah yang disebut dengan false flag operation, ”tegasnya.

Untuk itu, sinergi antar media Muhammadiyah sangat penting dilakukan. Media Muhammadiyah harus cerdas dalam memberikan berita yang benar. Tokoh muda Muhammadiyah yang punya akun twitter @tofalemon itu menekankan tidak semua berita yang benar itu bermanfaat bagi masyarakat, apalagi yang tidak bermanfaat dan juga tidak benar. Gerakan Muhammadiyah tetap ada pada amar ma’ruf nahi munkar. Tujuan Muhammadiyah tak lain adalah berdakwah.
Dalam pertemuan yang dihadiri oleh pengurus MPI seluruh Indonesia dan media di bawah Muhammadiyah di Yogyakarta itu memberikan beberapa poin penting antara lain; (1) perkembangan dunia cyber semakin pesat, (2) fokus Range Usia 10-44 tahun (konekuensi pada konten dan cara penyajian), (3) pergeseran alat media tayang adalah mobil, (4) aplikasi media sosial semakin harus menjadi perhatian yang tidak bisa dikesampingkan, (5) perlu strategi jejaring dalam dimensi ideologis, dan (6) semakin banyak dan beragam saluran media semakin baik.

Sementara itu dalam bermedia, Muhammadiyah menghadapi beberapa realitas konkrit di lapangan antara lain; (1) persyarikatan Muhammamdiyah berdisi lebih dari 1 abad, (2) Muhammadiyah  tersebar secara sistematis dan organisatoris secara resmi, (3) para kader dan warga Muhammadiyah merupakan SDM yang berada dipenjuru dunia yang merupakan sebuah jejaring besar, (4) bahwa dalam hal penguasaan informasi (syiah) digital/cyber di beberapa lini Muhammadiyah kalah, baik dari beberapa organisasi lain maupun kelompok/komunitas religi (parameter alexa, google dan sosmed), dan (5) kurang beragamnya visual isi (audio, video, creative, graphic atau visual lain) (nrd).

0 komentar:

Posting Komentar