Kamis, 09 Februari 2017

Gambar Gerhana Matahari dan Bulan diambil dari internet
Pada bulan Februari 2017 ini diprediksi akan terjadi dua kali peristiwa alam berupa gerhana. Peristiwa gerhana ini dalam Islam disebut dengan Sunnatullah. Yaitu suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan berjalan sesuai dengan system-sistem hukum alam.

Secara astronomis, gerhana matahari terjadi bilamana piringan matahari tertutup oleh bulan, jika dilihat dari bumi. Dengan kata lain, saat itu bulan berada persis di antara matahari dan bumi. Akibatnya, beberapa kawasan tertentu di muka bumi tidak terkena sinar matahari. Maka yang demikian disebut gerhana matahari. Dan tentunya peristiwa gerhana tersebut tidak semata-mata peristiwa alam murni, tetapi mempunyai hubungan dengan pelaksanaa hukum Islam yaitu shalat gerhana.

Pada bulan Februari ini diprediksi akan terjadi 2 kali gerhana  yakni gerhana pertama akan terjadi pada tanggal 11 Februari 2017 dimulai pukul 05.34 s.d. 09:53. WIB. Gerhana tersebut masuk kategori gerhana penumbra. Dan hanya dapat diamati di belahan bumi sebelah barat (Amerika Latin,  Etopa,  dan sebagian Afrika). Wilayah Indonesia yang masuk daerah sebelah Timur tidak akan dapat melihat atau mengamati kejadian gerhana tersebut. Apalagi gerhana tersebut terjadi pada siang hari.

Gerhana yang kedua diprediksi akan terjadi pada tanggal 26 Februari 2017. Gerhana tersebut akan terjadi mulai pukul 19:00 s.d. 00:36 WIB. Gerhana ini masuk kategori gerhana matahari cincin (al-kusῡf al-ḥalqī). Gerhana matahari cincin terjadi karena bagian tengah piringan matahari ditutupi oleh piringan bulan dan bagian pinggirnya atau tepi pinggirnya tidak tertutup. Menurut Fatkurrahman, Anggota Divisi Hisab dan Falak Majelis Tarjih dan Tajdid PWM jawa Timur bahwa berdasarkan hasil perhitungan astronomis, peristiwa gerhana matahari cincin di atas  hanya dapat diamati dari belahan bumi sebelah barat, dan tidak dapat diamati dari kawasan Indonesia, karena terjadi pada malam hari.

Bagaimana status hukum shalat dua gerhana matahari tersebut? Sunnahkah melakukan shalat gerhana untuk peristiwa dua gerhana di atas? Pada tanggan 08 Januari 2010 M / 22 Muharram 1431 H, Majelis Tarjih dan Tajdid mengeluarkan fatwa tentang shalat gerhana. Pada butir (2) kedua fatwa tersebut menegaskan, “Salat gerhana matahari hanya dilakukan oleh orang di kawasan yang sedang mengalami gerhana dan tidak dilakukan oleh orang yang berada di kawasan lain yang tidak berada dalam bayangan umbra/antumbra/penumbra (tidak mengalami gerhana).

Merujuk pada Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid tersebut, bagi kawasan Indonesia dan kawasan lain yang tidak melihat atau menyaksikan kedua gerhana di atas, baik gerhana penumbra maupun gerhana matahari cincin, maka tidak disunnahkan melakukan shalat gerhana tersebut. Karena mengalami atau melihat di kawasan tertentu menjadi syarat seseorang melaksanakan shalat gerhana. Menurut Moh. Nurhakim, ketua Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, sesuai dengan hasil kajian dari Majelis Tarjih dan Tajdid maka shalat gerhana untuk peristiwa alam di atas tidak disunnahkan bagi yang tidak melihat atau mengalami di kawasannya sendiri.

Haery Fadly, M.HI
(Anggota Majelis Tarjih PWM Jatim)

0 komentar:

Posting Komentar