Sabtu, 18 Februari 2017

Peserta Lokakarya Nasional MDMC di FK Universtas Ahmad Dahlan Yogjakarta.

Instrumen dan deklarasi hukum internasional menyatakan bahwa mendapatkan pendidikan adalah hak semua individu. Menjadi tugas otoritas nasional dan masyarakat internasional untuk menghormati, melindungi dan memenuhi hak ini. Dalam situasi tanggap darurat, pemulihan maupun kesiapsiagaan, adalah penting bahwa hak-hak tersebut dilindungi.

Berkenaan dengan hal tersebut, dua agenda kegiatan sekaligus diselenggarakan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) PP Muhammadiyah atau MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center).
Kegiatan pertama, pada 11-12 Pebruari 2017 bertempat di Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, diselenggarakan Lokakarya Nasional Penyusunan Panduan Sekolah Madrasah Aman Bencana (SMAB) Muhammadiyah. Lokakarya ini dihadiri oleh para fasilitator SMAB dari berbagai wilayah, untuk bersama-sama menyusun panduan dalam mendampingi sekolah.

Sekretaris MDMC, Arif Nur Kholis menyatakan bahwa sejak tahun 2007 MDMC sudah menyadari pentingnya pengurangan resiko bencana di lingkungan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Dilanjutkan pada tahun 2012 dengan dikembangkannya konsep SekolahKu Aman di Malang dan Magelang. Di tahun 2016 dikembangkan konsep Sekolah Madrasah Aman Bencana.

“Beberapa waktu yang lalu tahun 2016, MDMC telah melakukan pendampingan di sekolah berbasis inklusi, difabel dan umum. Sharing praktik baik dalam pendampingan tersebut, akan kita sepakati bersama menjadi panduan SMAB.”, tambahnya.

Pemateri Rapat Umum Anggota ketika menyampaikan paparan tentang pendidikan bencana.

Berlanjut pada 13-16 Pebruari 2017, bertempat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Jalan Menteng Raya 62 Jakarta, MDMC menjadi tuan rumah Rapat Umum Anggota Konsorsium Pendidikan Bencana dan Pelatihan Standar Minimum Pendidikan dalam Situasi Darurat. Konsorsium Pendidikan Bencana (KPB) dibentuk pada tahun 2006 untuk membangun koordinasi, sinergi (dalam hal sumber daya pendidikan) dan jejaring dalam program pendidikan bencana. MDMC menjadi bagian dari KPB dan menjadi salah satu Presidiumnya.
Selanjutnya Arif Jamali Muis, Wakil Ketua MDMC, yang juga hadir dalam lokakarya mengatakan bahwa landasan teologis dari pengurangan resiko bencana adalah QS Ali Imran 104.

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.


“Amar ma’ruf nahi munkar (al’ amru bil-ma’ruf wannahyu’anil-mun’kar), sebuah perintah untuk mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal-hal yang buruk bagi masyarakat, sangat sesuai dengan kaidah pengurangan resiko bencana. Orang yang beramar ma’ruf nahi munkar semestinya memiliki keilmuan, lemah lembut dan sabar. Karenanya pendidikan sebagai sarana meningkatkan standar keilmuan sangat penting artinya.”, tutup Arif Jamali Muis.

0 komentar:

Posting Komentar