Sabtu, 28 Januari 2017

Posted by Ridlo Posted on Januari 28, 2017 | 1 comment

Sebarkan Berita Hoax, Medsos Jadi Haram

Dr. Moh. Nurhakim, M.Ag, Ketua MTT PWM Jatim ketika menyampaikan sambutan Kajian Fiqh Medsos di Umsida.

SIDOARJO - Informasi atau kabar yang tidak benar (hoax) tidak hanya menjadi sesuatu yang mudlarat atau tidak bermanfaat. Lebih dari itu, kabar tak benar bahkan bisa menyesatkan dan berdampak luas merugikan khalayak.

Beberapa waktu terakhir, berita dan kabar hoax bermunculan di media sosial (medsos) yang cukup meresahkan masyarakat, baik umat Islam maupun umat non muslim. Kabar hoax ini bisa menyebabkan madlarat besar, seperti fitnah, menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial, dan bahkan disintegrasi bangsa.

Kesimpulan inilah salah satu yang mengemuka dari hasil Kajian Fiqh Media Sosial di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Sabtu (28/1) siang. Dalam Kajian ini, medsos juga disikapi dari perspektif Etika, Hukum, dan Budaya.

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim Dr. Moh. Nurhakim, M.Ag menyebutkan, ada empat hal yang dibahas dalam kajian fiqh medsos ini, yakni hukum Islam bermedia sosial, bahaya berita hoax, sikap umat Islam terhadap fenomena ini, dan bagaimana etika bermedsos.

Dari aspek fiqh, hukum asal bermedia itu sebenarnya mubah (boleh) dan bisa menjadi sunnah jika dipakai untuk kebaikan dan cara yang baik. Tetapi, lanjutnya, medsos bisa menjadi haram jika dipakai untuk keburukan seperti hoax.

Sejauh mana bahaya berita hoax? Dosen Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini mencontohkan, salah satu sebab kehancuran negara-negara Muslim Timur Tengah adalah karena berita hoax. Intelijen Israel bekerja sama dengan negara-negara tertentu dapat memporak-porandakan hubungan antarnegara Muslim. Dalam sejarah umat Islam terdahulu,  imbuhnya, perpecahan di kalangan umat Islam di penghujung masa Sahabat juga banyak dikarenakan berita hoax yang berhasil dimainkan kaum munafiq.

"Dalam surat an-Nur ayat ke-19 dijelaskan bahwa berita hoax itu disebut dengan fakhisyah, menjijikkan, dan amat keji. Karena itulah, mengapa medsos yang digunakan untuk menyebar hoax ini bisa diharamkan," tegasnya.

Bagaimana umat Islam bersikap terhadap fenomena ini, dan bagaimana mestinya etika bermedsos? Nurhakim menegaskan, agar umat Islam tidak larut terbawa arus terlibat dan termakan berita-berita hoax. Beliau menghimbau kepada masyarakat agar menggunakan medsos hanya untuk hal-hal yang positif termasuk dakwah dan pencerahan, bukan sebaliknya.

"Menggunakan medsos juga harus berhati-hati, selektif, dan melakukan verifikasi (tabayun) dalam menerima dan menyebarkan berita", imbuhnya. Selain itu, yang lebih miris lagi, medsos yang isinya menyerang, memaki, membunuh karakter orang, jorok, atau porno, tentunya sangat dilarang oleh agama Islam, tegasnya. Terlebih, lanjutnya, sikap yang tidak etis adalah memanfaatkan medsos dengan sengaja menyebar kebencian dan memecah belah bangsa dan umat Islam.

"Karena itu, sikap Muhammadiyah jelas, yakni menolak bentuk apapun dari penyimpangan penggunaan medsos. Muhammadiyah melihat bahaya di depan mata yaitu disintegrasi bangsa akibat penggunaan medsos yang kebablasan ini," pungkasnya. (amin)

1 komentar:

  1. Amazing. Saatx umat islam brfikir bijak dlm mensikapi perkembangan medsos..konsep maslahah or madharat menjadi wajib utk dpertimbangkan.

    BalasHapus