Jumat, 06 Januari 2017

Posted by Ridlo Posted on Januari 06, 2017 | No comments

Kesantunan Berkomunikasi yang Kian Mahal



Akhir-akhir ini, sejarah peradaban manusia Indonesia tidak mengalami langkah maju ke depan, justru mengalai set back (langkah mundur).  Itu setidaknya bisa disaksikan dari berbagai informasi yang beredar di media sosial yang penuh caci maki, merasa benar sendiri dan informasi yang tidak mengenakkan perasaan.  Suasana harmoni yang sering diklaim sebagai warisan budaya Indonesia seolah “jauh panggang dari api”.

Peristiwa tuduhan penistaan agama oleh seorang kandidat Gubernur, kemudian diikuti oleh demonstrasi damai umat Islam (4/11/16 dan 2/12/16) dituduh menjadi pemicu penting adanya disharmonisasi di masyarakat. Ditengah puncak “kemarahan” tersebut, suasana semakin gaduh setelah informasi yang beredar ditunggangi dengan kepentingan politik.

Kesantunan Berkomunikasi
Mengapa ini semua terjadi? Masalah kesantunan berkomunikasi bisa menjadi titik awal yang harus kita perhatikan secara serius. Mengapa masalah komunikasi?  Mereka yang marah, menahan diri atau melampiaskan kejengkelannya karena kurang cerdasnya menangkap makna pesan komunikasi yang beredar di sekitar kita.

Sebenarnya kegaduhan itu bersumber pada kesalahan kecenderungan seseorang yang memperoleh informasi dari media sosial.  Kesalahan tersebut memicu merebaknya kabar-kabar kebencian di media sosial. Dalam kajian komunikasi massa dikenal istilah  selective perception dan selective attention. Selective perception adalah kecenderungan seorang individu yang secara sadar akan mencari media yang bisa mendorong kenderungan dirinya (bisa pendapat, sikap atau keyakinan). Jadi, individu akan aktif mencari informasi yang bisa memperkuat keyakinannya.

Jika kecenderungan sikap seseorang itu mendukung sikap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), maka seseorang itu akan cenderung mencari media sosial yang mendukung Ahok. Namun demikian, jika seseorang tidak suka dengan perilaku Ahok, maka ia akan mencari media yang bisa memperkuat kecenderungan dirinya yang anti Ahok.

Selective perception juga berlaku untuk akses di media sosial. Seseorang akan mengakses informasi dari media sosial yang bisa memperkuat kecenderungannya. Kecenderungan mencari informasi dari media tersebut di atas semakin memperkuat apa yang diyakininya selama ini. Akibatnya, keyakinan yang semakin diperkuat oleh informasi dari media sosial itu membuat seseorang menjadi sensitif dan mudah tersinggung atas perbedaan pendapat.

 Jika orang lain sudah dianggap tidak sejalan, sangat mungkin dianggap “musuh”. Artinya, ia gampang marah pada orang yang tidak sesuai kecenderungan dirinya. Bahkan saya punya teman yang akhirnya “memblokir” pertemanan di media sosial karena berbeda pendapat. Berapa banyak masyarakat kita yang akhirnya merasa tidak nyaman lalu keluar dari grup WhatsApp (WA) karena media itu justru menyebar kebencian antar sesama?  Itu adalah dampak dari selective attention akibat kecenderungan mencari informasi dari media yang sesuai minatnya tersebut.

Dari kenyataan di atas bisa jadi muncul fenomena, seseorang yang meriakkan anti  Agama, Ras dan Antargolongan (SARA), bisa jadi dalam menyebarkan pesan-pesannya berbau SARA. Seseorang mungkin menyarankan  agar orang lain itu lebih sopan dalam berkomunikasi, tetapi komentar-komentarnya justru memancing pihak lain untuk berperilaku tidak sopan.

Kemudian, selective perception yang sudah ada pada diri seseorang itu diperkuat dengan selective attention. Alexis S Tan (1981), pernah mengatakan bahwa selective attention  adalah individu yang cenderung  memperhatikan dan menerima terpaan pesan media massa yang sesuai dengan pendapat dan minatnya. Jika selective perception itu terjadi jika seseorang cenderung mengakses media yang sesuai kecenderungannya, sedangkan selective attention itu terjadi jika seseorang hanya mau menerima pesan-pesan media yang sesuai dengan dirinya. Jadi, dari mencari pesan (perception), kemudian menjadi hanya mau menerima (attention).

Mengapa setiap orang berbeda dalam menyikapi setiap peristiwa di sekitarnya? Pertama,  individu merupakan hasil dari struktur kognitif yang berbeda dalam menerima pesan-pesan media. Artinya, perbedaan dalam mengakses dan menerima pesan ikut menentukan perbedaan individu. Dalam hal ini seorang individu seringkali kurang selektif dalam menerima pesan dan hanya mau memperhatikan pesan-pesan yang menarik perhatiannya saja.  Kedua, keanggotaan dalam kelompok sosial, politik, budaya ikut memengaruhi pilihan pesan mana yang harus dipilih. Jika seseorang anggota organisasi keagamaan “X”, akan punya kecenderungan memilih pesan media yang sejalan dengan organisasi “X” tadi. Maka, afiliasi agama, partai, suku ikut menentukan pilihan media yang akhirnya menentukan kecenderungannya.

Manusia Bertopeng
Kecenderungan individu sebagaimana dikatakan di atas memang hal yang wajar. Yang tentu tidak wajar adalah sebagai individu yang berakal manusia sering cenderung menelan mentah-mentah informasi yang sampai ke dirinya. Akibat selanjutnya, manusia kadang mulai tidak rasional lagi dan hanya berdasarkan perasaan suka atau tidak suka saja. Lihat saja, di media sosial seseorang dengan mudahnya menyebar tautan (gambar, berita, meme) yang belum tentu kebenarannya. Pokoknya yang dia senang dan itu bisa menyerang pihak lain dia lakukan. Sementara itu, jika ada informasi yang dia tidak suka kebetulan dibaca akan dicerca habis-habisan.

Apa yang perlu dilakukan? Pertama, bahwa dunia media sosial itu adalah tetap dunia maya. Ia bukan dunia nyata yang sebenarnya. Apa yang ditampilkan tentu saja bukan yang senyatanya pula. Dalam dunia maya manusia itu memakai topeng. Ia mempunyai banyak topeng yang akan dipakai di berbagai kesempatan. Kedua, dunia maya adalah dunia pura-pura (diluminating). Karenanya, apa yang dikemukakan penuh dengan kepura-puraan. Sekali kita percaya pada dunia kepura-puraan, kepura-puraan itulah yang akan kita lakukan pada orang lain. Bahkan bisa dikatakan informasi dari media sosial itu setengahnya bohong. Ryan Holiday (2012) juga secara provokatif pernah mengatakan, “Trust me, I’m, Lying” (percaya saya, saya bohong) di media sosial.

Jadi, kegaduhan masyarakat sekitar kita selama ini karena terlalu percaya pada apa yang disajikan media sosial. Padahal banyak orang berkepentingan di dunia maya itu.  Jika ada orang yang masih senang mengumbar kabar-kabar kebencian di media sosial, barangkali tingkat kecerdasannya masih sangat terbatas. Di snilah dibutuhkan kesantunan berkomunikasi secara bijak. Gerakan masyarakat bisa jadi disulut bukan karena keinginan sendiri masyarakat, tetapi dipicu oleh ketidaksantunan berkomunikasi yang tengah beredar.

oleh NURUDIN
Penulis Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Malang (UMM); Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PDM Kab. Malang.

(Sumber: Malang Post, 20 Desember 2016)
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar