Sabtu, 03 Desember 2016



Dr. Abdul Mu'ti ketika memberikan taushiyah pada Milad Muhammadiyah 107H di Dome UMM, Jumat (02/12)
Getir pahit perjuangan Muhammadiyah dalam membangun peradaban bangsa telah banyak dilakukan. Lewati berbagai rintangan itulah, kini Muhammadiyah mampu berdiri tegak dan melebarkan sayapnya hingga kancah Internasional. Muhammadiyah selalu berada dalam garda terdepan guna melaksanakan visi besarnya yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Masih dalam suasana Milad Muhammadiyah ke 107 H, Universitas Muhammadiyah Malang menyelenggarakan resepsi Milad. Acara tersebut dihadiri oleh Pengurus, aktivis, dan simpatisan Muhammadiyah se-Malang raya.

Dr. H. Abdul Mu’ti,  M.Ed, selaku Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah yang berkesempatan mengisi tausiyah umum menuturkan, saat ini umat Islam boleh dikata sangat tertinggal dari bangsa lain, terlebih bangsa Eropa. Pada dasarnya, spirit perjuangan umat Islam di masa lampau sangat hebat dan kini spirit tersebut diadopsi oleh negara Barat. 

Dalam konteks membangun Indonesia ke depan dan membangun Islam sebagai pusat peradaban, Mu'ti mengutip pikiran Niall Ferguson yang terdapat dalam buku Civilization: The West and the Rest. Dalam buku itu dipaparkan 6 sejata pamungkas yang membuat Barat unggul.

Menurut Pria kelahiran Kudus 1968 ini, nilai-nilai yang dimaksud tersebut adalah pertama kompetisi, yakni mental kompetitor untuk hidup lebih dinamis dan maju. Islam telah lama mendengung-dengungkan semangat  fastabiqul khairat, namun kini umat Islam banyak yang tertinggal dalam menunaikan semangat tersebut.

Nilai Kedua adalah penemuan teknologi. Berapa banyak ilmuan Islam yang memberikan kontribusi terhadap penemuan di masa kini, namun modal tersebut sudah diambil oleh Barat dan menjadikan umat Islam tertinggal jauh.

Ketiga adalah nilai yang berkaitan dengan kesehatan. Bangsa yang kuat adalah bangsa yang sehat, dengan sehatnya badan akan mempermudah seseorang untuk melakukan banyak aktifitas yang produktif.

Adapun nilai keempat yaitu demokrasi. Sebuah bangsa akan menjadi kuat dengan bermusyawarah, karena lewat musyawarah yang dijalankan dengan khidmat dan penuh kebijaksanaan akan membawa banyak kemaslahatan. Bangsa yang otoriter tidak akan maju, namun dengan bermusyawarahlah bangsa akan menjadi maju.

Nilai yang selanjutnya adalah konsumerisme. Maksud dari konsumerisme di sini adalah membeli kebutuhan yang benar-benar diperlukan dan tidak menyuburkan budaya boros atau konsumtif. 

Nilai terakhir adalah etos kerja (work etic), yang tercermin dalam perilaku masyarakatnya. Islam mengajarkan kepada umatnya agar selalu semangat dalam bekerja dan beramal.

Ditegaskan oleh Mu'ti bahwa 6 nilai tersebut sudah sangat gamblang / jelaskan dalam Islam, yang seharusnya kita amalkan untuk membangun peradaban Islam yang berkemajuan. (Izna/Hilmi)

Baca juga:
Bupati Malang Berharap, UMM Tidak Hanya Melahirkan Menteri, Melainkan Presiden 
Abdul Mu'ti: Kemajuan Suatu Negara itu Bergantung pada Etos Masyarakatnya 
Saad Ibrahim: Muhammadiyah harus Mengambil Peran dalam Menatap Masa Depan 
Rektor UMM Ajak Warga Muhammadiyah Optimis Menatap Masa Depan

Categories:

0 komentar:

Posting Komentar