Minggu, 06 November 2016


Suasana acara Baitul Arqam MPK PDM, Ahad 06/11 di Basement RS UMM

“Sukses”, kata yang pas disematkan kepada segenap punggawa Majelis Pendidikan Kader (MPK) PDM kab. Malang atas terselenggaranya acara “Baitul Arqam” pada Ahad, 06 November 2016 kemaren di Basement Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Malang.

Dari 30 PCM se-kab. Malang terdapat 7 PCM yang tidak bisa mengikuti acara tersebut. Total peserta yang menghadiri acara MPK kemaren adalah 76 peserta perwakilan dari 23 Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-kab. Malang. Ini merupakan indikator awal kesuksesan acara tersebut, karena sudah mencapai 75%. Adapun mereka yang tidak bisa mengikuti/menghadirinya dikarenakan berbagai alasan yang bisa diterima, tutur Santoko (Wakil Ketua MPK).

Pantauan malangmu yang mengikuti acara itu menunjukkan bahwa mulai awal hingga akhir acara, seluruh peserta sangat menikmati dan antusias serta proaktif dalam acara yang bertema “Penguatan Kompetensi Kader Menuju Masyarakat Berkemajuan”. Bukan karena “hadiah atau doorprice” saja yang diberikan kepada peserta yg aktif, tetapi sebenarnya acara itu merupakan ajang konsolidasi antar peserta. Segala prestasi dan keluhan atau permasalahan di masing-masing PCM diutarakan / didialogkan dengan pemateri dan juga sesama peserta.

“Saya kader, panjenengan kader, kita semua adalah kader” kalimat tegas ini disampaikan oleh salah satu peserta perwakilan dari PCM Tajinan yang bernama Saturi. Dengan lantang dan tegas, dia mengajak kepada semua yang berada di ruangan itu untuk mendeklarasikan diri bahwa kita semua ini kader. Artinya, kalo sudah menjadi kader maka kita kerahkan segalanya untuk persyarikatan. Bukan hanya diri kita tetapi anak dan keluarga kita diupayakan bisa menjadi kader juga. Mulai TK sampai Perguruan Tinggi harus disekolahkan di Sekolah Muhamamdiyah. Pungkasnya disambut gemuruh tepuk tangan dan bangga oleh seluruh hadirin.

Lain halnya dengan Perwakilan dari PCM Singosari, Bapak Muhammadi Ismail. Beiau menegaskan dengan mengungkapkan bahwa pegawai atau guru-guru di sekolah-sekolah atau amal usaha Muhamamdiyah (AUM) masih ada dan bahkan mungkin banyak yang belum mengerti apa itu Muhammadiyah. Karena tidak paham dan bahkan sampai bersebarangan dengan Paham Muhammadiyah, mereka tidak mau meramaikan masjid-masjid Muhammadiyah, ini terbukti di Singosari ada yang seperti itu. Lebih parah lagi, guru tersebut mengajarkan doa-doa kepada siswa didiknya diluar ajaran/keyakinan Muhammadiyah. Ini harus segara ditindak dengan tegas, agar persyarikatan bisa berjalan dinamis, tidak pincang di tengah jalan, pintanya. Beliau berharap agar MPK PDM bisa terlibat dalam menangani kasus-kasus semacam itu. Bahkan perekrutan pegawai di AUM seharusnya melibatkan MPK.



Kritik konstruktif juga disampaikan oleh perwakilan dari PCM Dau, Sukma Jaya. Beliau menyinggung soal pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) Muhammadiyah. Banyak para pegawai persyarikatan yang berduyun-duyun mengajukan dan meminta dibuatkan KTA, sedangkan mereka tidak aktif di persyarikatan. Ini kan persoalan? Ketika mereka membutuhkan kelengkapan administrasi baru datang ke kita. Sedangkan setiap acara/kegiatan persyarikatan baik sosial maupun agama, mereka menghilang, tidak pernah muncul. Tandasnya. Karenanya, Wakil Ketua PCM Dau yang membidangi Kader dan pengembangan Ranting ini berharap agar semua warga terutama yang terlibat atau bekerja di persyarikatan, ayoo ikut ramaikan, terlibat aktif di semua kegiatan persyarikatan. Tegasnya.
 
Mayoritas peserta yang hadir menghendaki  agar proses perkaderan itu dimulai dari diri sendiri kemudian keluarga dan akhirnya masyarakat pada umunya. Sadar potensi diri, memupuk keilmuan, ideology dan skill, mendorong dan mengajak serta mengarahkan untuk anggota keluarga dan masyarakat untuk cinta Muhammadiyah menjadi tuntutan bagi kader sejati. (Hilmi)

0 komentar:

Posting Komentar