Kamis, 24 November 2016

DONOMULYO - Menyelenggarakan pendidikan di daerah pinggiran tidak lah mudah. Tantangan paling berat salah satunya dihadapkan dengan  rendahnya kesadaran dan partisipasi masyarakat pedesaan yang kurang pada pendidikan.

"Sekolah yang berada di wilayah pinggiran, tantangannya minat belajar siswa. Sikap positif dan apresisasi masyarakat terhadap pendidikan juga berbeda dengan yang ada di kota," kata kepala SMK Muhammadiyah 6 Donomulyo, Drs Nasikin, Kamis (25/11) sore.

Motivasi dan minat belajar yang kurang ini, menurutnya mempengaruhi motivasi berprestasi siswa. Karena itu pula, pihaknya tidak mudah mendapatkan bibit-bibit dan calon siswa yang potensial dengan kemampuan penguasaan akademik yang sangat baik.

"Perlu kerja keras guru dalam menganalisis khusus untuk memetakan anak yang memiliki potensi lebih baik. Terlebih, dalam memberikan perlakuan dan layanan pembelajaran kepada siswa," imbuhnya.

Meski dihadapkan pada tantangan berat, bukan berarti membuat SMK Muhammadiyah 6 tidak mampu eksis. Dikatakan, jumlah siswa tiap tahun tetap meningkat. Bahkan, selama dua tahun terakhir, pihaknya semakin termotivasi bersaing, terlebih dengan adanya dua lembaga SMK baru.

Bahkan, tiap tahun didapati lulusan dengan kompetensi yang kompetitif. SMKM 6 memiliki tiga program keahlian, yakni Teknik Kendaraan Ringan (TKR), Teknik Komputer Jaringan (TKJ) dan Teknik Sepeda Motor (TSM). Menurut Nasikin, yang paling banyak terserap di wilayah setempat adalah lulusan jurusan TKR dan TSM. Ini karena keberadaan industri belum banyak di daerah Malang bagian selatan ini. (amin)

0 komentar:

Posting Komentar