Minggu, 02 Oktober 2016

Posted by kholimi Posted on Oktober 02, 2016 | No comments

Tabligh Akbar; Ajak Umat Islam Bersatu




DAU – TABLIGH AKBAR (Ahad, 02/10/2016) yang bertajuk “Kita Perkokoh Ukhuwah Islamiyah Dalam Bingkai NKRI” menghadirkan tiga penceramah, Ust. Drs.Akhsan Ismail dari Muhammadiyah, Ust. Ali Imran, M.Ag dari Hidayatullah, dan Ust. Drs. Bukhori Amin dari Nahdlatul Ulama. 

Kesempatan awal diberikan kepada Bpk. Akhsan Ismail yang banyak menguraikan makna Hijrah berkaitan dengan membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, dalam konteks hijrah ini, kita harus benar-benar mengamalkan ajaran-ajaran Islam secara benar. Jika boleh dimaknai secara rinci ISLAM itu jika Ingin Selamat Laksanakan Ajaran Muhammad, tuturnya. Muhammadiyah dan NU yang berdiri sejak sebelum Indonesia merdeka berupaya menerapkan ajaran-ajaran Allah dan Rasulnya demi membangun masyarakat Indonesia yang bermartabat, begitu juga Hidayatullah.

Lebih lanjut menurutnya, Islam mengajarkan umatnya untuk kritis. Dicontohkan dalam sholat, ketika Imamnya salah, maka makmumnya harus mengingatkan dengan mengucapkan subhanallah. Begitu juga dalam kehidupan manusia terutama dalam hal politik, ketika pemimpin melakukan kesalahan, maka rakyatnya harus mengingatkan.

Kompak seperti satu bangunan yang saling menguatkan adalah suatu keharusan. Muhammadiyah, NU, dan Hidayatullah serta ormas Islam lain bagaikan satu bagian dalam satu bangunan yang saling menguatkan. Ada yang bertugas sebagai atap, tembok, genteng, pondasi dan sebagai yang kesemuanya memperkokoh bangunan itu, jelasnya.


Ust. H. Ali Imron, M.Ag dari Hidayatullah mengingatkan kepada jamaah, ketika sebelum Januari, kita bisa melihat diperempatan-perempatan, supermarket, swalayan, begitu semarak menyambut tahun baru Masehi, yang diawali Natalan, kemudian Gong xi fa cai. Tapi, ketika 1 Muharram, Tahun Baru Islam, kalian semua bisa menyaksikan berapa spanduk yang dipasang, berap semangat umat Islam yang ditunjukkan, berapa kekuatan Islam yang diwujdukan, seolah-olah umat Islam telah lupa dan sengaja melupakan peristiwa besar yang telah dilakukan oleh Rasulullah sebagai tonggak perubahan sejarah ummat. Padahal tanpa Hijrahnya Rasul, kita takkan pernah merasakan nikmatnya Iman.

Untuk itulah kewajiban kita bersama untuk selalu menyegarkan semangat jihad, iman, dan Islam. Untuk mengantarkan negeri ini menjadi baldatun thoyyibatun, terbebas dari korupsi, dijauhkan dari bahaya narkoba, dijauhkan dari poltik yang tidak baik, mengantarkan kehidupan masyarakat yang aman sejahtera ada kunci yang dicontohkan oleh Nabi SAW, yakni penanaman nilai-nilai iman kepada generasi bangsa (ummat Islam), ujarnya dengan nada yang tegas.

Untuk menatap masa depan bangsa, generasi muda, para pemuda harus memiliki semangat rawe-rawe rantas, malang-malang putung. Hanya pemuda yang memiliki cita-cita kuat, hanya pemuda yang terus melakukan perubahan, maka masa yang akan datang ada dalam genggaman. Jika pemuda sudah terhipnotis oleh gadjetnya, terhipnotis oleh game, maka wassalam masa depan. Lanjut Ustad dari Hidayatullah itu. Sedangkan penceramah terakhir dari NU menegaskan bahwa kita harus bisa menggali makna Hijrah untuk diterapkan dalam kehidupan ini. Hijrah dari sifat rakus, serakah menuju sifat nerimo ing pandum. (Ilmi)

0 komentar:

Posting Komentar