Rabu, 05 Oktober 2016

Posted by kholimi Posted on Oktober 05, 2016 | No comments

Panti Asuhan Harus Menjadi Basis Mencetak Kader Muhammadiyah

Peserta Workshop Panti Asuhan Berbasis Pesantren Muhammadiyah Aisyiyah Jawa Timur  
Salah satu poin penting dari hasil Workshop Panti Asuhan Berbasis Pesantren yang berlangsung pada 16 - 17 September 2016 lalu menegaskan bahwa Panti Asuhan harus dimaksimalkan sebagai kawah candradimukanya kader Muhammadiyah. Disadari atau tidak, ternyata organisasi Islam terkaya asetnya di dunia ini sedang dilanda kecemasan, setidaknya para pelaku organisasi Muhammadiyah mulai resah dengan generasi mudanya (baca kader). Meskipun memiliki ratusan sekolah Muhammadiyah, namun pada kenyataannya minim sekali menghasilkan kader yang peduli dengan perjuangan Muhammadiyah. 
Sekolah, yang menjadi identitas pergerakan Muhammadiyah sejak pertama digagas oleh sang Founding Father, KH. Ahmad Dahlan, kini telah berubah orientasi. Sekolah tidak lagi mencetak kader militan Muhammadiyah. Parahnya, sekolah sudah berubah menjadi semacam industri, yang secara nyata bersifat pragmatis dan hanya peduli bagaimana membesarkan lembaganya. Pelaku pendidikan pada lembaga Muhammadiyah tertentu lebih memikirkan kesejahteraan, tanpa memikirkan kualitas output yang akan menjadi kader Muhammadiyah.
Fakta tersebut tentu menyengat jiwa kita sebagai pelaku organisasi Muhammadiyah. Namun, ada baiknya kita tidak menyerah untuk terus berfikir dan berinovasi mencari jalan terbaik melahirkan kader-kader militan nan kompeten untuk meneruskan perjuangan Muhammadiyah ini. Sebab, kalau tidak sejak dini disadari dan dirumuskan, boleh jadi kita terlambat bertindak dan semua sudah tidak ada artinya lagi.
Salah satu gagasan KH. Ahmad Dahlan saat pertama pendiriannya adalah menolong anak yatim. Tentu bukan hal sia-sia apa yang digagas sang Pendiri ini. Lebih jauh, prospek panti tidak sekedar menolong, namun panti juga bisa menjadi basis pendidikan kader. Meski sejauh ini kita masih menyaksikan Panti hanya sebatas menolong, membesarkan anak, setelah dewasa dilepas begitu saja. Lebih parah lagi adanya fakta yang memprihatinkan bahwa panti Muhammadiyah sejauh ini hanya menjadi tempat penggemukan dan penginapan belaka, sehingga alumni panti tidak ada bedanya dengan alumni kos-kosan yang kurang pembinaan akhlaqnya.
Maka menjadi penting menjadikan panti sebagai basis kaderisasi yang kompeten, baik secara mental, keilmuan dan skill beragama untuk memenuhi krisis kader tadi. Semangat menjadikan panti sebagai tempat belajar ilmu secara integratif (berbasis pesantren) harus menjadi gagasan bersama dan disosialisasikan serta ditanamkan kuat-kuat kepada pelaku AUM Panti Asuhan.
Dari latar belakang di atas, perlu kiranya digarap secara serius model panti berbasis pesantren ini dibicarakan dan dirumuskan secepatnya. Sehingga panti asuhan akan benar-benar menjelma menjadi lembaga AUM yang menghasilkan kader-kader militan untuk Islam dan Muhammadiyah di masa mendatang.
Adapun untuk menjadikan Panti Asuhan dapat melahirkan kader yang berkualitas, maka panti berbasis pesantren sekurang-kurangnya harus memiliki beberapa persyaratan diantaranya:  a. Hardware Panti berbasis pesantren harus terstandar, terdiri dari pengurus panti yang bertanggungjawab secara kelembagaan terhadap program santri atau anak-anak di panti asuhan, pembina (asatidz), bangunan fisik baik masjid dan sarpras lainnya dan kelengkapan buku/kitab untuk memperkaya pengetahuan. b. Software (kurikulum) panti dibuat sesederhana mungkin (standar minimal) agar dapat dilaksanakan pada semua Panti yang meliputi silabus, jadwal kegiatan (daily activity), mata pelajaran, soft skill harian, kegiatan ekstra kurikuler, entrepreneur dan lain-lain. (Puteri Ayu Ratna Dewi, S.Pd/ Sekretaris MPS Kab. Malang).

0 komentar:

Posting Komentar