Sabtu, 22 Oktober 2016

Hajriyanto Y. Thohari, Ketua PP Muhammadiyah, sedang menyampaikan materi pentingnya Muhammadiyah kembali ke gerakan Filantropi dalam acara PWM di UMM Dome (23/10/2016).

malangmu.or.id - Muhammadiyah sebagai organisasi gerakan Islam mempunyai tekanan pada kegiatan amal usaha untuk kesejahteraan umat, meskipun gerakan pemikiran juga tidak bisa dipandang sebelah mata. Sifat gerakan itu ada dalam kegiatan amal usaha. Lazismu yang berkembang di Muhammadiyah adalah reinkarnasi dari Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO).

Demikian penekanan yang dilakukan Hajriyanto Y Thohari (Ketua PP Muhammadiyah) dalam acara “Konsolidasi Organisasi  Pimpinan Wilayah dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah se Jawa Timur” di UMM Dome (23/10). Acara itu dihadiri oleh wakil PDM se Kabupaten Malang, Kota Malang, Kota Batu, Kota Blitar, dan Kabupaten Blitar, serta seluruh Ortom di wilayah Jawa Timur.

Hajriyanto menjelaskan lebih lanjut bahwa Muhamamdiyah itu diilhami oleh Teologi Al Ma’un yang sangat filantropis. “Teologi itu harus terus digelorakan dalam tubuh Muhammadiyah. Lazismu adalah hilir dan hulu gerakan filantropi yang otentik dari Muhammadiyah”, kata mantan ketua Wakil MPR RI (2009-2014) itu.

Dalam materinya bertema “Dari AM ke AUM ke AM Lagi?: Mengembalikan Muhammadiyah Sebagai Gerakan Amal atau Filantropi”, Hajriyanto menekankan bahwa program filantropi gaya Muhammadiyah itu bisa dicapai kalau semua unsur Muhammadiyah berkhidmat pada teologi Al Ma’un tersebut.

“Zakat, sedekah dan wakaf menjadi motor sekaligus tulang punggung Muhammadiyah sebagai gerakan filantropis dengan mendirikan sekolah, panti asuhan yatim, dan Penolong Kesengsaraan Oemoem (PKO). Tentu saja, gerakan itu juga banyak tantangannya. Tantangan saat ini bolehkah Muhammadiyah mengembangkan profit center? Boleh saja Muhammadiuah mengembangkan AUM atau sekalian bisnis usaha  sekalipun. Mengingat perkembangan dan dinamika kehidupan yang nyatanya telah berkembang sedemikian rupa sehingga perjuangan mewujudkan visi dan misi Muhammadiyah memerlukan sumber daya ekonomi yang kuat dan besar”, tegas pria mantan Ketua DPP Partai Golkar yang lahir di  Karanganyar tersebut.

Penulis dan politikus itu mengingatkan bahwa  tantangan ke depan yang kompleks menuntut kerja keras. Dibutuhkan kerja kerelawanan dan kemanusiaan. Tidak hanya dengan nilai-nilai keimanan dan keikhlasan semata, melainkan juga dengan keahlian dan ketrampilan teknis di lapangan yang berstandar modern dan profesional (nrd).

0 komentar:

Posting Komentar