Kamis, 20 Oktober 2016

Sineas Muda SMEAMU ketika proses perekaman film.

KEPANJEN - Sineas muda yang masih berstatus pelajar di Kabupaten Malang boleh dibilang cukup produktif membuat film pendek. Pelajar dengan kemampuan sinematografi yang cukup mumpuni ini seperti yang ada di SMK Muhammadiyah 5 Kepanjen.

Siswa program broadcasting pertelivisian, ditambah sejumlah siswa dari program multimedia dari SMK yang lebih dikenal SMEAMU ini pun kerap mendapatkan penghargaan karya film pendek.

Paling anyar, adalah dua karya film siswa SMK Muhammadiyah 5 yang masuk nominasi 10 besar di dua ajang festival berbeda. Yakni, ajang lomba yang digelar dalam rangka reuni akbar IKA-UB 2016 dan
Festival Film Pelajar yang diselenggarakan Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur.

"Tiga karya film pendek sudah diikutkan lomba. Dua diantaranya masuk 10 besar. Sabtu (22/10) lusa, pengumuman dan penganugerahan," terang Arif Joko Suryadi, kepala SMK Muhammadiyah 5, ditemui Rabu (19/10) kemarin.

Pihak panitia dari Pengurus Pusat IKAUB sendiri mengundang tim film dari SMEAMU untuk acara penyerahan penghargaan di Econvention Ancol, Jakarta, 22 Oktober mendatang. Sementara, mereka juga mendapatkan workshop perfilman bersama sejumlah aktor dan sineas ternama. Seperti Eros Djarot, Slamet Rahardjo, Christin Hakim, Marcella Zalianty dan Anggoro Santoro di Sanggar Teater Populer Teguh Karya di Jakarta.

Akbar Dwi Lestari, siswa SMEAMU yang menjadi kru film bagian editor mengungkapkan, karya film pendek yang masuk nominasi IKAUB 2016 berjudul Peduli. Dikatakan, film ini berkisah kepedulian seorang remaja pada lingkungan dengan setting lokasi di sebuah tambak ikan, di Desa Jambuwer Kecamatan Wonosari. Film ini berdurasi hanya 5 menit.

"Pada klimaks cerita dalam film, pemeran utama mencari ikan, namun banyak sampah yang menutupi tambaknya. Lalu, seharian dia bersihkan tambak dengan perahu kecil, kemudian memasang tanda larangan buang sampah sembarangan," kata siswa yang juga menjadi kameramen dalam film tersebut.

Tokoh pemeran film garapan siswa SMEAMU ini tak lain adalah seorang anak dengan cacat fisik, yang harus mencari biaya sekolah sendiri dari hasil tambak ikan. Akibat penghasilan menurun, tambaknya yang semula banyak sampah kotor menginspirasinya untuk peduli lingkungan.

"Kami mengambil gambar film seharian, karena besoknya sudah harus dikirim. Pesan moral dalam film ini adalah kita harus membersihkan lingkungan air dari sampah," imbuhnya.

Satu film pendek lagi yang mendapatkan apresiasi Dindik Jatim berjudul Bukan Rejeki. Adhe Elvita Sagita Putri, siswi lain yang juga kru film menambahkan, satu kru penggarapan film 'Peduli' beranggotakan 11 orang, sedangkan film pendek berjudul 'Bukan Rejeki' digarapa 18 siswa.Tiap kru bisa merangkap apa saja. (rul)

0 komentar:

Posting Komentar