Sabtu, 03 September 2016

Pemateri Prof. Bambang Rudyanto, Ph.D Senior Reseacher Asian Disaster Reduction Center Kobe Japan ketika menyampaikan materi.

Indonesia dikenal sebagai negeri surganya dunia, aneka macam tanaman, sayur-sayuran dan buah-buahan yang tumbuh subur di lereng-lereng gunung berapi. Kekayaan di lautan Indonesia juga sangat melimpah, namun dibalik karunia yang sangat berlimpah itu juga tersimpan potensi bencana gunung berapi, gempa bumi dan tsunami yang setiap saat mengancam bangsa Indonesia.

Berawal dari pemikiran itulah PCM Gondanglegi bekerja sama dengan SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi menyelenggarakan kegiatan Talkshow yang bertajuk “ Cintai Indonesia, kenali potensi bencananya ". Tujuannya adalah supaya pelajar sebagai generasi muda tahu dan mengerti penyebab bencana di negeri kita.

Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 2 September 2016 mulai pukul 13.30 sampai dengan pukul 15.30 di Aula SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi. Pematerinya adalah Prof. Bambang Rudyanto, Ph.D, aremania yang menjadi Senior Researcher Asian Disaster Reduction Center Kobe Jepang dan guru besar di Wako Univesity Japan serta Profesor tamu di Cornell University USA.

Dalam materinya Aremania yang sudah selama 30 tahun hidup di negeri Sakura tersebut menyampaikan bahwa sejak dini para pelajar harus faham dengan perbedaan istilah-istilah yang terkait dengan bencana misalnya perbedaan ombak tinggi dengan tsunami, perbedaan gempa bumi vulkanik dan gempa bumi tektonik, perbedaan evakuasi dan melarikan diri karena dengan mengetahui perbedaannya maka kita akan bisa mencegah dan mengantisipasi agar korban dari bencana yang terjadi tidak terlalu banyak.

Selain itu beliau juga memberikan ilmu dan pengalaman program penanganan bencana di Jepang yang bisa ditiru oleh bangsa Indonesia antara lain mengetahui sebab dan akibat bencana sejak dini, mengetahui tempat yang aman untuk berlindung, lebih mempercayai tanda-tanda alam melalui peringatan di TV daripada takhayul, mempersiapkan atau mempelajari dalam keadaan darurat apa saja yang bisa dimakan, tidak perlu kembali ke daerah bencana untuk mencari atau menolong keluarga/teman dalam waktu 24 jam, Memahami bahwa setiap manusia itu bisa bertahan hidup tanpa makan dan minum dalam waktu 72 jam.

Rossi Hendrawan, Ketua MDMC Kab. Malang yang ikut hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa belajar tentang bencana dari sebuah Negara yang sering berjibaku seperti Jepang wajib dilakukan oleh kita bangsa Indonesia untuk berdamai dengan bencana (Living harmony with disaster). Untuk itulah upaya dari PCM Gondanglegi dan SMK Muhammadiyah 7 untuk mewujudkan sekolah aman dengan mendatangkan pakar dari Jepang itu tepat sekali. Pelajari, tiru, modifikasi cara-cara Jepang dalam menghadapi bencana sangat bermanfaat  sebagai pembelajaran dan menginspirasi. Dan upaya ini perlu ditindak lanjuti dengan kegiatan simulasi penanganan  bencana pada saat pelaksanaan masa orientasi siswa baru pada tahun berikutnya.

Penampilan Tapak Suci SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi mengawali acara Talkshow.

Martono, S.T, wakasek bidang sarpras yang memberikan sambutan mewakili Kepala Sekolah mengatakan bahwa acara ini penting untuk dilaksanakan oleh SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi mengingat daerah Kabupaten Malang dan sekitarnya yang juga merupakan daerah yang punya potensi bencana. Pada tahap berikutnya sekolah akan menyiapkan siswa-siswinya untuk dilatih menjadi relawan siaga bencana oleh MDMC dan LPB PDM Kab. Malang.


Pada sesi tanya jawab, Haidar Rais, siswa kelas XII jurusan TKJ yang juga ketua IPM Ranting SMK Muh. 7 Gondanglegi menanyakan apakah saat ini sudah ada teknologi yang bisa mengetahui/memprediksi akan terjadinya bencana dan disampaikan oleh pemateri bahwa smartphone di Jepang sudah bisa memberikan informasi max. 10 detik sebelum terjadi gempa bumi dengan menggunakan teknologi informasi dari seismograf yang sudah banyak terpasang pada titik-titik daerah potensi bencana. (Masturin)

0 komentar:

Posting Komentar