Minggu, 25 September 2016



Prof. Dr. Thohir Luth memberikan Tausiyah dalam acara Raker PCM-PCA Dau di Komplek PAnti Asuhan Muhammadiyah Ulil ABshar Dau, Ahad, 25 September 2016


Merupakan keistimewaan tersendiri bagi Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Dau Kabupaten Malang, dalam acara yang digelarnya “Rapat Kerja dan Pelantikan Bersama PRM-PRA se-Cabang Dau” pada Ahad, 25 September 2016 di komplek Panti Asuhan Muhammadiyah Ulil Abshar Mulyoagung Dau, bisa dihadiri Prof. Dr. Thohir Luth, selaku Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. 

Momentum yang sangat berharga tersebut tidak disia-siakan oleh segenap warga Muhammadiyah Dau terutama para pimpinan atau pengurus di tingkat Cabang dan Ranting se-Dau serta dari unsur Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) baik pimpinan, guru maupun staf karyawannya, untuk turut serta menghadiri acara tersebut. Sehingga tak kurang dari 200 peserta membanjiri latar (sebelah selatan) masjid Ulil Abshar yang belum tuntas dipugar, namun sudah nampak indah dilihat.

Tausiyah oleh Prof. Dr. Thohir Luth, yang kurang lebih berlangsung selama 40 menit itu, sarat akan inspirasi, yang membangun spirit bermuhammadiyah. Di awal tausiyahnya beliau mengatakan bahwa beliau tidak akan memberikan tausiyah umum seperti biasanya tetapi beliau akan memberikan tausiyah keorganisasian, karena yang hadir mayoritas para pengurus harian.

Pesan-pesan beliau yang sangat menginspirasi itu diantaranya bahwa, “keberadaan kita di Muhammadiyah dan Aisyiyah sesungguhnya sedang membesarkan Islam. Kita sedang beribadah, dan berjihad fii sabilillah”, pungkasnya. Karenanya, beliau sangat mewanti-wanti warga Muhammadiyah supaya benar-benar aktif dan mngambil peran di Muhammadiyah.

Dengan serius, Prof. Thohir Luth menyatakan “kalau orang Islam itu hidupnya hanya mengurusi makan, untuk diri dan anak isterinya saja, ya mohon maaf, kambing itu jauh lebih mulia daripada seorang Profesor Doktor seperti saya”. Alasannya menurut beliau, kambing memiliki nilai spiritual plus nilai sosial. Kambing punya nilai spiritual itu terbukti berapa banyak orang yang pergi hajji dengan hajji tamattu’ itu baru dikatakan syah apabila membayar dam berupa menyembelih seekor kambing atau kibas. Kambing punya nilai social terbukti dari berapa banyak putra dan putri bangsa yang berhasil menjadi tokoh-tokoh negara dilahirkan dari orang tua mereka yang jual sate dan gule kambing di pinggir-pinggir jalan.

Mantan Ketua PWM itu juga mengingatkan bahwa bermuhammadiyah berarti kita harus berkomitmen pada dua aspek, yakni aspek spiritual dan juga aspek sosial. Beliau juga menyampaikan bahwa menjadi Muhammadiyah berarti siap membagi kehidupannya, yakni sepertiga bagian untuk keluarga dan duapertiga bagian untuk Muhammadiyah. Hal itu sebagaimana telah dicontohkan Kyai Dahlan dan juga Nabi Muhammad SAW untuk ummatnya (Islam). 

Beliau juga menyampaikan bahwa sebagai anggota Muhammadiyah harus dijalani dengan kecintaan dan kesenangan, karena kalau dijalani dengan kecintaan dan hati yang senang, maka kesenangan yang lain itu menjadi nomor duabelas, tandasnya. (Hilmi/Thony)

0 komentar:

Posting Komentar