Kamis, 22 September 2016

Suasana Pelatihan TB HIV PDA Kabupaten Malang
PIMPINAN Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Malang semakin intens mengembangkan program peduli Tuberculosis-Human Immunodeficiency Virus (TB-HIV), khususnya melalui upaya penyadaran dan pemberdayaan masyarakat. Terakhir, pada Senin lalu (19/9), Aisyiyah mengadakan workshop strategi peduli TB-HIV menggandeng Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Malang dan sejumlah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) pro-perempuan.
Ketua PDA Kabupaten Malang Sri Wahyuni mengatakan, sejak 2010 PDA memang telah konsern dalam program peduli TB-HIV. Setidaknya PDA telah melakukan pendampingan di 11 kecamatan se-Kabupaten Malang. "Kunci utama dalam pendampingan TB-HIV, yaitu rasa peduli, ketelatenan, dan luwes, sehingga masyarakat mudah untuk terlibat.”
Pada workshop yang diadakan di Hotel Best Western OJ Malang ini, selain berisi sharing gagasan tentang evaluasi dan strategi program peduli TB-HIV, juga dikonsep Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang akan dilakukan selepas kegiatan. Untuk mendukung hal itu, maka diadakan penandatanganan kesepakatan kerjasama (MoU) Program Peduli TB-HIV yang melibatkan berbagai elemen yang hadir.
PDA juga tengah menyiapkan CSR Award bagi perusahaan yang berkomitmen membatu kelancaran program peduli TB-HIV Aisyiyah. “Ini adalah bentuk penghargaan kami pada perusahaan yang menunjukkan kepedulian, di antaranya melalui penyaluran dana CSR,” jelas tim Pemandu Pembuatan dan Penyusunan RTL Emi Yuliana Yulfa MKes.
Menurut Dinkes Kabupaten Malang Tri Awig Namiastuti, sebagian besar penderita TB-HIV adalah perempuan, sekalipun perimbangannya tidak jauh. “Melihat data hingga tahun 2016, penyandang TB-HIV perempuan sebanyak 50,3% dari total penderita 1578 pasien. Ini tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Malang, namun yang terbanyak di tiga daerah yaitu Gondanglegi, Sumberpucung dan Dampit,” kata Tri.
Sementara itu, Ketua Lembaga Peduli Kesejahteraan Perempuan dan Anak (KPA) Kabupaten Malang Anita mengatakan, saat ini masyarakat mudah mengakses, terutama perempuan, padahal daya imunnya kurang, sehingga gampang terjangkit TB-HIV. “Kalau laki-laki kurang terbuka aksesnya sehingga yang muncul adalah keengganan laki-laki untuk memeriksakan diri dengan berbagai alasan," papar Anita.
Hal itu diamini ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Malang Fakhruddin Alamsyah. Menurutnya, sosialisasi sangat dibutuhkan masyarakat terutama bagi perempuan lantaran lembahnya daya imun tersebut.
Menurut Ketua Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah (PDNA) kabupaten Malang Dita Indartika, pelatihan peduli TB-HIV ini sangat sesuai karena gerakan NA berbasis pada remaja perempuan. “Ini juga untuk menghadapi zaman yang sudah serba bebas, termasuk seks bebas. Jadi sangat bermanfaat."
Senada dengan Dita, perwakilan LSM Mahameru Vita Murni mengungkapkan, kurangnya sosialisasi dan kesadaran masyarakat merupakan faktor utama di balik terjangkitnya TB-HIV.
Di akhir acara, kegiatan ditutup secara resmi oleh Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang Drs Wakidi MPd. Dalam paparannya, Wakidi berharap Aisyiyah mampu menjadi pelopor sekaligus penggerak dalam melaksanakan program Peduli TB-HIV. “Penting juga menggandeng mitra organisasi yang lain melalui program-program yang sinergi dengan pemerintah,” ujar Wakidi.

0 komentar:

Posting Komentar