Senin, 29 Agustus 2016

Para alumni Gontor asal Malang pada bedah buku di Black Beans Coffee Malang

MALANG - Buku Trimurti yang baru dilaunching bulan Agustus ini dibedah di Black Beans Coffee and Resto Malang, Sabtu (27/8) sore. Trimurti yang dimaksud adalah judul buku tetralogi yang berkisah sosok dan perjuangan Trimurti, tiga tokoh pendiri Pondok Moderen Darussalam Gontor, Ponorogo Jawa Timur, selama mendirikan dan mensyiarkan ilmu-ilmunya di pondok.

Buku ini ditulis Muhammad Husein Sanusi, dkk, yang merupakan mantan santri Pondok Moderen Gontor. Tiga kiai sepuh pendiri pondok Gontor yang disebut sebagai Trimurti ini adalah Kh Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fanani, dan KH Imam Zarkasyi.

Munif Farid Attamimi, ketua alumni Pondok Gontor angkatan 2000 mengungkapkan, buku Trimurti berisi sintesa, genealogi tiga tokoh pendiri Pondok Gontor. Tak hanya soal biografi, nilai zuhud dan pemikiran filsafat pendidikan Islam yang kental sang pendiri dikupas dalam gaya bahasa bertutur dan kronologis penulis.

"Bondo, Bahu, Pikir. Sukses bagi kiai, adalah ketika santri lulusan tetap bermanfaat dan mau berdakwah kembali ke pelosok kampung," katanya menirukan pesan Sang Maha Guru.

Farid mengungkapkan, proses penulisan buku Trimurti memakan waktu tidak kurang dari 20 bulan. Agar isi buku sesuai yang terjadi apa adanya, penggalian ide dan topik pun diperoleh dari hasil wawancara, khalaqi, studi literatur, dan riset. Buku Trimurti ini rencananya berupa tetralogi atau diterbitkan hingga empat buku.

"Kami berburu literatur tentang sosok pendiri Trimurti serta perjuangan syiar hingga ke daerah Panjang Panjang, Sumatera. Agar tidak salah, naskah hasil tulisan penulis juga tetap dikoreksikan kepada seluruh anak keturununan pendiri. Pasalnya, semua penulis tidak hidup atau belum lahir pada jaman mereka," bebernya.

Ide awal menulis buku Trimurti ini muncul setelah 15 tahun alumni meninggalkan pondok. Berawal saat malam yudisium, santri lulusan mendapatkan pesan dari kiai pengasuh pondok agar prestasi dan tetap mengunjungi pondok walau pendiri telah tiada.

Selain Husein, ada 17 orang mantan santri yang terlibat dalam proses pengumpulan bahan dan penulisan. Agar bisa utuh dan enak dibaca, penulis melakukan tujuh kali karantina, dengan rata-rata waktu sekali karantina sepekan.Husein Sanusi, Wiyanto Suud, Khoirul Imam merupakan tiga penulis utama yang juga banyak berperan dalam editing buku ini.

Diterbitkannya buku pertama dari tetralogi Trimurti ini menambah panjang daftar karya buku yang ditulis santri Pondok Moderen Gontor. Selama ini, tradisi jurnalisme atau literasi di kalangan santri Gontor terbukti sangat tinggi semangatnya. Selain buku-buku tulisan almarhum Nurcholis Madjid, buku fiksi best seller alumni santri sudah banyak beredar, seperti novel Negeri 5 Menara dan Man Jadda wa Jadda.

Dalam launching dan bedah buku Trimurti, hadir pula Dr Toriqus Suud dari UIN Sunan Ampel Surabaya sebagai panelis ahli. Namun, penulis kata pengantar KH Hasyim Muzadi yang dijadualkan ikut membedah buku, berhalangan hadir.

Seperti diketahui, Pondok Modern Darussalam Gontor telah banyak mencetak tokoh besar dari Muhammadiyah seperti mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof. Dr Din Syamsuddin, Dr Hidayat Nurwahid dll. Beberapa pengurus Muhammadiyah Malang dan Dosen UMM yang juga alumni Gontor adalah Dr. Syamsurizal Yazid dan Syaiful Amien, M.Pd (Dosen FAI UMM dan Pengurus PDM Kota Malang). (amin)
Categories:

0 komentar:

Posting Komentar