Kamis, 28 Juli 2016

Prof Muhadjir Effendy, Mendikbud RI Kabinet Kerja Masa Bhakti 2016 - 2019

Pilihan dan kepercayaan mengurusi pendidikan di Indonesia kembali jatuh pada kader Muhammadiyah. Untuk kali kedua, jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ditempati mantan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setelah beberapa kurun waktu sebelumnya diduduki Prof Malik Fajar. Presiden RI Joko Widodo akhirnya menunjuk Prof Muhajir Effendy, MAP, sebagai Mendikbud menggantikan pendahulunya Anies Baswedan, saat pengumuman Reshuffle Kabinet Jilid II, Rabu (27/7/2016) siang kemarin, di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Bagi Prof Muhajir sendiri, amanah jabatan sebagai Mendikbud ini menjadi kado istimewa menjelang milad atau ulang tahun kelahirannya. Terlahir di Madiun, 29 Juli 1956, Jumat 29 Juli 2016 hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke-60. Pasca usia emas (golden age) dengan karir hebat, begitu kira-kira sebutan yang pas bagi perjalanan hidup Mendikbud Prof Muhajir saat ini.

Dimata sejawat, terpilihnya Mendikbud Prof Muhajir cukup membawa optimisme dan harapan besar. Dr Waras Kamdi misalnya, kandidat guru besar Universitas Negeri Malang (UM), mengaku bersyukur dan banģga karena seorang guru besar UM bisa menjadi menteri. Apalagi, baru kali ini Indonesia punya Mendikbud dari LPTK.

Tak hanya itu, bagi Waras, dengan menjadi Mendikbud, Prof Muhajir Effendy sangat diharapkan memberikan harapan baru bagi pembenahan carut marut pendidikan dasar dan menengah di negeri ini, karena beliau orang yang besar di dunia pendidikan.

"Yang saya kenal, beliau sangat cerdas, ide-idenya visioner, melampaui pemikiran kebanyakan orang, serta piawai dalam mengelola ide dan menyelesaikan masalah," kata Waras yang pernah menjadi mahasiswa bimbingan Prof Muhajir semasa kuliah S1.

Gaya jurnalisnya masih kental, karena memang beliau besar juga dari lingkungan jurnalistik. Beliau juga seorang forografer. Mungkin karena kebiasaannya dengan zoom in zoom out objek di lensa kameranya itu juga beliau memiliki kepekaan yang tajam dalam melihat lanskap kehidupan.

Sosok Mendikbud Muhajir, lanjutnya, mampu melihat dan menemukan potensi-potensi unik di sekitarnya yang tidak banyak ditangkap kepekaan indera orang lain kebanyakan. Dan acapkali, hal-hal unik itu menjadi sesuatu yang sangat visioner di kemudian hari. Banyak orang kemudian terbelalak ketika buah karyanya muncul ke permukaan. Karena itu, kata Waras, jangan terkaget- kaget jika nanti Pak Muhadjir membuat kebijakan terobosan untuk membenahi pendidikan di negeri ini.

"Saya yakin, kepiawaian taktis strategis beliau mampu mengurai benang kusut pendidikan kita dan memberikan solusi banyak paradoks pendidikan di negeri ini," imbuh pakar Teknologi Pembelajaran ini.

Ada yang sangat terkesan bagi Waras pribadi selama ia mengalami menjadi mahasiswa di bawah binaan Prof Muhajir tahun 1980-an. Usai lulus S1 pada 1985, meminta do'a restu melamar kerja di suatu penerbitan lokal di Jatim.

"Dan, beliau bilang "ndak dik, awakmu cocok di sini" (di IKIP Malang maksudnya). Saya ikuti saran beliau dan saya diterima jadi dosen IKIP Malang  Januari 1986. Andai saya tidak mengikuti saran beliau mungkin saya tidak jadi guru besar di UM," kenang Waras.

Pradana Boy, Dosen FAI UMM yang juga aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah mengatakan pak Muhajir adalah seorang pendidik yang memiliki banyak pengalaman. Sehingga posisi sebagai mendikbud adalah sesuatu yang wajar. "Tak jarang ide-idenya liar dan di luar kelaziman. Misalnya, dia pernah menantang aktivis2 muda untuk menjadi pendidik di pulau terluar indonesia. Menurut Prof. Muhadjir, pendidikan di pulau2 terluar sering tdk terperhatikan sebagaimana mestinya, dan perlu pendekatan yang tdk biasa,' jelas Boy.

Kita semua berharap, dengan segudang pengalaman dan visioner beliau di dunia pendidikan akan bisa memberikan ide dan terobosan segar untuk meningkatkan dan mengangkat level pendidikan Indonesia yang dulu sempat menjadi barometer Asia. Pengalaman Muhammadiyah yang sukses mengelola pendidikan dari dasar sampai tinggi akan banyak memberikan masukan strategi manajemen peningkatan mutu dan pencapaian prestasi. Semoga Prof Muhadjir bisa mengemban amanah ini tidak hanya untuk kemajuan bangsa tapi juga untuk kemaslahatan umat menuju Indonesia berkemajuan. (amn/rid)

0 komentar:

Posting Komentar