Rabu, 27 Juli 2016

Prof Muhadjir Effendy, Mendikbud RI adalah sosok multidimensional

“Sewaktu duduk di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), saya dan beberapa teman mendirikan sebuah grup Orkes Melayu bernama BRAGA (Barito Suara Guru Agama). Uang untuk membeli alat musiknya, saya tarik dari siswa baru, tetapi tanpa seizin kepala sekolah. Tentu saja, saya menjadi sasaran kemarahan kepala sekolah. Kelompok musik ini bukan hanya untuk menyalurkan hobi musik kami, tetapi juga untuk mencari uang jajan.”

TAK banyak yang akan menyangka bahwa kutipan di atas meluncur dari cerita Muhadjir Effendy tatkala mengenang masa remajanya. Bagi sebagian orang, mungkin fakta ini mencengangkan. Muhadjir Effendy adalah seorang tokoh pendidikan, yang oleh publik lebih dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Guru Besar bidang sosiologi pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Di samping itu, publik juga mengetahui Muhadjir sebagai seorang pengamat militer, dan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Padahal di balik semua itu, Muhadjir sebenarnya adalah seorang yang boleh disebut multidimensional.

Di antara sekian banyak dimensi kehidupannya, sisi Muhadjir Effendy sebagai seorang aktivis atau penggerak organisasi terus melekat hingga kini. Semasa pelajar ia adalah aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Pada saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, ia berkecimpung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan di masa kematangan intelektualnya, ia berperan aktif di organisasi kemasyarakatan dan keagamaan modernis, yaitu Muhammadiyah. Dalam kaitannya dengan aktivitas di Muhammadiyah, barangkali Muktamar Muhammadiyah 2015 yang terselenggara di Makassar pada Agustus 2015 lalu, telah memberikan makna khusus atau tonggak baru dalam kehidupan Muhadjir Effendy. Ya, karena pada Muktamar 2015, ia terpilih sebagai salah seorang dari tiga belas formatur.

Dalam sistem pemilihan pimpinan di Muhammadiyah, seorang ketua umum tidak dipilih secara terpisah. Pemilihan adalah untuk menentukan tiga belas calon pimpinan dari tiga puluh sembilan nama yang diusulkan oleh anggota Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Tiga belas orang terpilih inilah yang akan menentukan siapa yang harus menjadi nakhoda Muhammadiyah di antara mereka.

Dalam rangkaian ini, Dr. Haedar Nashir akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 2015-2020. Muhadjir Effendy adalah salah seorang Ketua yang akan mendampingi kepemimpinan Haedar dalam masa lima tahun yang akan datang. Sesuai dengan keahliannya, Muhadjir dipercaya sebagai ketua yang membidangi pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah. Ini berarti Muhadjir harus membawahi lebih dari 170 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) dan ribuan sekolah dasar dan menengah yang tersebar di seantero wilayah di Indonesia.
Kenyataan ini sebenarnya telah diperkirakan oleh banyak kalangan. Penempatan Muhadjir sebagai ketua yang membidangi pendidikan di Muhammadiyah sangatlah wajar, mengingat sejak sangat lama Muhadjir telah berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ia terlibat dalam pengelolaan salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang kini tampil sebagai salah satu universitas Muhammadiyah terbaik di Indonesia, dan perguruan tinggi swasta terunggul di Jawa Timur, yaitu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Maka nama Muhadjir Effendy menjadi lekat, bahkan identik, dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Patut dimaklumi, Muhadjir adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang turut menyumbangkan fikiran, tenaga, bahkan sebagian besar masa hidupnya di UMM, hingga UMM bisa menjadi sebesar sekarang ini.

Bersama-sama dengan Prof Malik Fadjar, Prof Imam Suprayogo, Haji Sukiyanto (almarhum) dan Kiai Haji Abdullah Hasyim (meninggal pada tahun 2013), Muhadjir muda telah turut serta dalam pengembangan Universitas Muhammadiyah Malang, melanjutkan perjuangan generasi perintis seperti Kiai Bedjo Darmoleksono, A. Gafar, K.H. Mohammad Goesti, Kapten Mohammad Tahir, Ali Sacheh, Suyuti Chalil, A. Masyhur Effendy, Amir Hamzah Wiryosukarto, Sofyan Aman, Profesor Masjfuk Zuhdi, Profesor Kasiram, dan sederet tokoh Muhammadiyah Malang lainnya. Nama-nama ini adalah ibarat para pendekar yang tanpa lelah berfikir dan bertindak demi kemajuan UMM, hingga menjadikan UMM seperti yang saat ini dikenal masyarakat.
Ibarat para pendekar dalam dunia persilatan, kelima orang ini pada era 1980-an, selalu mengasah jurus untuk menjadikan padepokan silat yang mereka kelola diperhitungkan oleh orang lain. Usaha tanpa lelah itu memang akhirnya membuahkan hasil. UMM memasuki tahapan baru sebagai sebuah perguruan tinggi yang mulai memikat hati masyarakat. Jumlah pendaftar meningkat, berbagai fasilitas pendukung dibangun, alumni menyebar di berbagai belahan bumi Indonesia, bahkan mancanegara; dosen baru berdatangan. UMM lalu berubah menjadi seperti magnet yang mampu menarik berbagai benda-benda kecil di sekitarnya. Benda-benda kecil yang terbawa oleh magnet UMM itu bukan hanya generasi muda pencari pengetahuan, tetapi berbagai lapisan masyarakat dengan berbagai macam tujuan dan kepentingan. Ragam ilmu pengetahuan yang dikembangkan di UMM telah memanjakan para pencari pengetahuan untuk memenuhi dahaga ilmunya di telaga ilmu UMM. Tak hanya itu, UMM telah pula menjadi magnet bagi para sarjana baru yang berhasrat menapaki karier akademik dalam perjalanan kehidupannya. Bahkan belakangan, UMM juga menjadi salah satu titik singgah favorit bagi mereka yang berwisata ke kawasan Malang Raya. Tentu ini tak mengherankan, lokasi UMM yang strategis dan topografi alamnya yang memikat, serta bangunan-bangunan yang tertata apik di atas hamparan tanah luas yang pada awalnya adalah lembah dengan struktur tanah menyerupai teras-iring, telah menjadikan setiap wisatawan yang melintasinya merasa sayang untuk melewatkan kesempatan singgah di Kampus Putih ini. Tak hanya memiliki bangunan fisik yang elok dan suasana lingkungan kampus yang sejuk memanjakan mata, UMM sering pula memenangi berbagai penghargaan dalam berbagai bidang atas dedikasi seluruh elemen di kampus tersebut. Kenyataan ini semakin pula mengokohkan posisi UMM sebagai magnet bagi masyarakat.

Sekali lagi, di tengah ragam pencapaian ini, nama Muhadjir Effendy tidak bisa dilepaskan. Muhadjir Effendy, UMM, dan pendidikan tinggi lalu menjadi tiga hal yang tak terpisahkan. Lambat laun identifikasi dan reputasi Muhadjir sebagai tokoh pendidikan tak hanya dikenal di kalangan Muhammadiyah, tetapi juga di kalangan masyarakat secara umum. Buktinya, meskipun memang belum berhasil menduduki kursi menteri pendidikan, Muhadjir Effendy termasuk salah satu nama yang banyak didiskusikan oleh publik untuk jabatan Menteri Pendidikan Tinggi pada saat peralihan kekuasaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Presiden Joko Widodo. Maknanya, kehadiran Muhadjir sebagai tokoh pendidikan telah diperhitungkan, tak hanya di Jawa Timur, tetapi juga di tingkat nasional. Bukti lainnya adalah posisi yang pernah diduduki oleh Muhadjir sebagai Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS) pada 2012-2014. BKS-PTIS adalah sebuah wadah koordinasi dan kerjasama antarberbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Berdiri pada April 1978 di Bandung, badan ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh perguruan tinggi Islam swasta.

Meskipun dikenal luas sebagai tokoh pendidikan, Muhadjir sebenarnya adalah seorang sosok tokoh dengan ragam kemampuan. Ragam kemampuan itu bisa dilihat dari variasi bidang pendidikan yang pernah ia tempuh. Secara akademis ia terdidik sebagai seorang sarjana muda Pendidikan Agama di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Malang yang kala itu merupakan filial (cabang) dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kedua kampus itu kini telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Pendidikan sarjana muda (BA) di IAIN ia tuntaskan dan dilanjutkan dengan pendidikan jenjang sarjana (Drs) di bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di IKIP Malang, yang kini telah berubah menjadi Universitas Negeri Malang (UM). Muhadjir selanjutnya mengenyam pendidikan di bidang Administrasi Publik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sembari menjalankan tugas sebagai Pembantu Rektor III dan I di Universitas Muhammadiyah Malang. Puncak pendidikannya adalah dalam bidang sosiologi politik, dengan mengambil konsentrasi di bidang sosiologi militer di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga, Surabaya. Selain itu, Muhadjir juga pernah menempuh pendidikan singkat di bidang keamanan dan pertahanan di Pentagon, Amerika Serikat; dan kursus singkat pengelolaan pendidikan tinggi di Victoria University, Canada. Tak hanya di dunia akademik, Muhadjir adalah juga orang yang memiliki perhatian dan sampai batas tertentu, minat dan bakat, pada dunia seni dan budaya. Ia juga memiliki minat dan kemampuan yang memadai di bidang jurnalistik.

Maka wajar jika Muhadjir fasih bicara banyak hal. Ia bisa dengan lincah bertutur tentang teori-teori pertahanan, seluk beluk dunia tentara, atau sisi-sisi sejarah militer yang barangkali tak diketahui banyak orang. Seperti hafal di luar kepala, Muhadjir lancar bertutur tentang KNIL (tentara Indonesia zaman Belanda), PETA (Pembela Tanah Air), kavaleri dan infanteri, Kopassus, hingga isu soal friksi-friksi dalam dunia militer, dan sistem persenjataan militer. Minatnya pada kajian militer, lebih jauh, telah menjadikan ia juga dekat dengan sejumlah petinggi militer di Indonesia. Tentu tak terlalu mengherankan, Muhadjir memiliki pengetahuan yang memadai tentang militer, karena memang ia mengkhususkan diri pada kajian ini. Puncaknya, ia menulis disertasi tentang dinamika militer Indonesia yang kemudian dibukukan menjadi Jati Diri dan Profesi TNI: Studi Fenomenologi (UMM Press, 2009). Ini bukanlah sebuah kebetulan. Pastilah ada sebab-sebab historis yang menjadikan Muhadjir memiliki perhatian khusus pada dunia militer ini.

Selain itu, sebagai seorang anggota pimpinan di Persyarikatan Muhammadiyah, baik ketika menjadi seorang ketua di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dan terlebih lagi sekarang sebagai salah satu ketua di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir kerap menghadiri forum-forum keagamaan di mana ia menjadi pembicaranya. Dengan sendirinya, ia harus memainkan peran sebagai seorang muballigh, da’i atau penceramah agama. Pada posisi ini, lalu akan tampak Muhadjir Effendy sebagai seorang ahli agama yang memiliki pemikiran-pemikiran keagamaan khas. Dalam bidang pemikiran keislaman, Muhadjir seringkali menampilkan gagasan-gagasan yang cukup mencengangkan.

Misalnya, ketika ia menyatakan bahwa akhir-akhir ini di lingkungan Muhammadiyah, terdapat sebuah fenomena stereotyping. Yakni pemikiran-pemikiran a priori yang menganggap orang lain tidak baik. Menurut Muhadjir, kebiasaan seperti ini harus diperangi bersama. Oleh karena itu, harus ada keberanian dari Muhammadiyah untuk membuka diri, apalagi jika Muhammadiyah kembali kepada jargon dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang sudah dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, maka akan terbentang sebuah fakta sejarah bahwa Dahlan sangat terbuka kepada siapapun tanpa menghilangkan semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar di Muhammadiyah itu. Seperti yang dilakukan Kiai Dahlan ketika memimpin rapat organisasi Budi Utomo dengan membiasakan kuliah agama sebelum rapat dimulai. Menurut Muhadjir, jika kebiasaan yang dilakukan Kiai Dahlan ini dikontekstualisasikan kepada gerakan Muhammadiyah hari ini mungkin saja akan terjadi head to head dengan kebiasaan yang dilakukan Kiai Dahlan di masa-masa awal Muhammadiyah.

Di luar persoalan militer dan pemikiran keislaman, darah budayawan mengalir dalam diri Muhadjir. Adanya sejumlah dimensi dalam dirinya sebagai seorang budayawan, menjadikan Muhadjir Effendy menaruh perhatian dan penghargaan yang tergolong khusus dalam bidang seni dan budaya. Misalnya saja kecintaannya pada musik, dan khususnya lagi, musik dangdut. Saat itu tahun 2005, Universitas Muhammadiyah Malang sedang memiliki gawe besar. UMM didapuk sebagai tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-45. Maklum belaka, banyak orang tumpah ruah di kampus ini, termasuk para wartawan. Karena jumlah wartawan yang cukup signifikan, maka UMM sebagai panitia menyediakan sebuah ruang khusus untuk para peliput berita yang disebut sebagai Media Center. Maka, semua aktivitas peliputan dan pemberitaan media berpusat di tempat ini. Menandai penutupan perhelatan lima tahunan itu, para wartawan berkumpul dan melepas lelah dengan menyanyikan lagu-lagu dangdut di Media Center. Tanpa diduga ternyata Muhadjir Effendy turut bergabung dalam riuh rendah para wartawan, dan tanpa canggung menyanyikan sejumlah lagu dangdut, khususnya lagu-lagu Rhoma Irama, dan tak lupa sesekali menggoyangkan pinggul. Tak hanya itu, bukti perhatian Muhadjir pada seni dan budaya juga bisa dilihat dari keputusannya untuk menyumbangkan seperangkat alat pewayangan yang diciptakan sendiri oleh ayahnya, Soeroja, kepada Universitas Muhammadiyah Malang.

Menyanyikan lagu Rhoma Irama, lagi-lagi, ternyata bukan sebuah kebetulan. Dalam banyak kesempatan, Muhadjir sering bercerita kepada orang-orang dekatnya bahwa ia mempunyai mimpi untuk bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan iringan grup musik SONETA yang dipimpin oleh Rhoma Irama. Ternyata mimpi yang sudah terpatri sejak belia itu menjadi kenyataan tatkala UMM menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-45 tahun 2005. Pada saat pembukaan Muktamar di dalam Stadion Gajayana, di kawasan luar stadion juga diadakan sejumlah acara, termasuk pentas hiburan. Ternyata, di situ terdapat pula Rhoma Irama bersama Soneta Group-nya yang memang dihadirkan oleh panitia untuk memeriahkan pembukaan Muktamar. Tidak terduga, ternyata setelah acara resmi selesai, Muhadjir segera berlarian kecil menuju panggung hiburan di luar Stadion Gajayana untuk bergabung dengan Soneta. Melalui MC, akhirnya Muhadjir diberi kesempatan menggapai mimpinya, yaitu menyanyi lagu dangdut ber-duet dengan Rhoma Irama dengan iringan lengkap Soneta Gorup. Muhadjir sama sekali tak canggung, dan melantunkan lagu Begadang dengan gembira.

Tak terpisah dari hal-hal di atas adalah dimensi kehidupan Muhadjir Effendy sebagai seorang pemimpin. Dalam teori kepemimpinan, terdapat perdebatan tentang proses lahirnya seorang pemimpin. Di satu sisi, ada pendukung teori “pemimpin tidak dilahirkan, tetapi diciptakan.” Sementara di sisi lain, terdapat pendukung teori yang sebaliknya, “pemimpin tidak diciptakan, melainkan dilahirkan”. Pemimpin dilahirkan maknanya adalah bahwa dalam diri seseorang terdapat unsur-unsur intrinsik atau karakteristik yang mendukung kemampuan dia dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Karakteristik-karakteristik itu adalah dorongan yang kuat untuk sukses, keinginan untuk memimpin, kejujuran, kecerdasan, kemampuan dalam pekerjaannya sekarang, kepercayaan diri, dan seorang yang terbuka atau sociable. Hal ini tentu tidak salah, ketika seseorang memiliki karakteristik-karakteristik tersebut, mereka mungkin akan menjadi seseorang pemimpin yang hebat. Tapi apakah orang yang tidak memiliki karakteristik-karakteristik itu tidak bisa memimpin?
Memang bisa diperdebatkan, apakah menjadi seorang pemimpin adalah bakat bawaan lahir (nature), ataukah hasil tempaan pendidikan, pergulatan dan pergaulan (nurture)? Namun, terlepas dari perdebatan ini, Muhadjir muda berproses. Proses itu barangkali menjadi sarana di mana Muhadjir muda melakukan sintesis atas “bakat bawaan” dan “proses penciptaan” seorang pemimpin. Ia menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan dan organisasi pelajar dan kemahasiswaan. Muhadjir muda aktif dalam organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) baik ketika ia masih duduk di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Madiun maupun saat telah berkuliah di IAIN Sunan Ampel Malang dan IKIP Malang. Muhadjir aktif pula Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pada masa-masa berikutnya. Di sinilah pematangan terjadi. Mengemudikan HMI Cabang Malang, bakat kepemimpinan Muhadjir mendapatkan salurannya yang memadai. Selepas itu, Muhadjir aktif di Muhammadiyah di berbagai tingkatan, dari tingkat ranting hingga pusat.

Sosok Muhadjir Effendy yang multidimensional ini tentu bukan hanya pengaruh pendidikan formal. Keluarga pastilah menyemaikan bibit-bibit pengaruh yang teramat mendasar dalam pertumbuhan intelektual Muhadjir Effendy. Ia lahir dalam sebuah keluarga aktivis, tokoh agama dan budayawan. Ayahnya, Soeroja, adalah seorang kepala sekolah dan guru. Selain itu, ia adalah seorang penggerak Masyumi sebelum partai ini dibubarkan oleh Soekarno. Di luar itu semua, Soeroja adalah seorang dalang yang menguasai berbagai lakon pewayangan. Soeroja tak hanya piawai memainkan lakon-lakon tersebut, tetapi juga mampu menciptakan sendiri seperangkat alat pewayangan. Salah satu karya Soeroja itu masih tersimpan dengan baik sampai hari ini, dan dimanfaatkan sebagai perangkat seni-budaya di Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan latar belakang yang seperti ini, bukanlah hal yang mengherankan jika Muhadjir tumbuh sebagai pribadi yang multidimensional dan tumbuh sebagai seorang pemimpin dengan aneka pencapaian.

Namun, tidak berarti pencapaian-pencapaian itu bukan tanpa harga. Harga yang paling murah adalah kontroversi. Tetapi, bukankah itu resiko sebuah sikap? “Seorang pemimpin harus mampu bermimpi tentang seribu tahun yang akan datang,” demikian Muhadjir Effendy pernah berfalsafah dan ber-metafora pada suatu ketika. Falsafah dan metafora itu diwujudkan dalam berbagai kebijakan, yang tentu saja tak mungkin memuaskan semua pihak. Semasa menjabat Pembantu Rektor III yang membidangi urusan kemahasiswaan, misalnya, Muhadjir mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversial. Menurut Muhadjir, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang selama ini mendapatkan privilige di PTM-PTM harus diberikan suasana baru. Suasana baru yang dimaksudkan oleh Muhadjir adalah iklim persaingan terbuka antara IMM dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya yang lazim disebut Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK). Dengan tidak “mengekang” IMM dalam suasana privilage, diharapkan IMM akan mampu membuka diri terhadap aneka persaingan di berbagai cuaca dan suasana, sehingga aktivis-aktivis IMM menjadi matang ketika berhadapan dengan dunia nyata. Namun, memang menjadi hakikat dari setiap keputusan, pemikiran dan tindakan. Bahwa tak mungkin semua pihak akan menyukai, menyetujui dan lalu mendukung sebuah keputusan atau tindakan. Demikian pulalah kondisinya. Keputusan Muhadjir menuai protes, kecurigaan dan reaksi. Namun, Muhadjir Effendy adalah seorang yang sangat teguh dalam pendirian dan keyakinan. Maka, tanpa bermaksud mengabaikan kritik dan protes yang berkembang, Muhadjir tetap menjalankan kebijakan itu. Bahkan hingga hari ini, protes dan keberatan terhadap kebijakan itu masih terus terdengar.

Contoh lainnya adalah berkaitan dengan sikap UMM yang tak mewajibkan mahasiswi berjilbab. Memang benar, keputusan ini tidak lahir pada saat Muhadjir Effendy menjabat rektor UMM, melainkan telah ada pada masa-masa sebelumnya, khususnya masa kepemimpinan Profesor Malik Fadjar. Namun Muhadjir tetap mengawal keputusan ini, meskipun itu bermakna menggadaikan diri dalam resiko menjadi sasaran protes oleh berbagai pihak, tak terkecuali dari kalangan internal Muhammadiyah sendiri. Inti semua protes itu adalah bagaimana mungkin kampus Islam seperti UMM tidak menerapkan pewajiban berjilbab kepada mahasiswinya? Menghadapi kritik, protes, dan bahkan kecaman tentang hal ini, Muhadjir punya formulasi yang tak disangka-sangka. Ia menjawabnya dengan ringan dan canda, tanpa beban. “Mahasiswa UMM itu jumlahnya di atas dua puluh ribu. Pasti sangat sulit untuk mewajibkan semuanya berjilbab. Seandainya saja mahasiswa UMM itu hanya lima ratus orang, semua akan saya wajibkan berjilbab. Bahkan laki-lakipun saya wajibkan,” demikian Muhadjir ketika menanggapi kritik itu dengan canda.
Masih dalam kaitan identitas UMM sebagai kampus Islami, pemikiran kontroversial Muhadjir juga terekam dalam peristiwa berikut ini. Pada suatu ketika, di Dome UMM hendak digelar “Konser Musik Punk”. Tak pelak, acara ini juga menuai banyak kritik dari internal UMM sendiri. Menyadari potensi kontroversi ini, pihak pengelola yang diwakili oleh Suyatno (Dosen Jurusan Peternakan UMM), meminta izin dan pertimbangan kepada Muhadjir sebagai rektor. Di luar dugaan, Muhadjir memberikan izin. Inti dari semua suara miring itu adalah: “Bagaimana mungkin UMM sebagai kampus Islami kok membiarkan acara musik Punk yang jelas-jelas dihadiri banyak anak jalanan. Bukankah anak-anak ini tidak karuan identitas dan orientasinya?” Atas hal ini, dengan candaannya yang khas, Muhadjir menjawab: “Kita itu justru sudah melakukan dakwah dengan sasaran yang tepat.  Kalau dakwah ditujukan kepada orang-orang yang sudah baik, ya sia-sia jadinya. Dengan adanya anak-anak Punk datang ke UMM ini, itu sangat bagus. Minimal mereka tahu Masjid AR Fachruddin dan mendengar adzan. Itu sudah dakwah yang benar-benar dakwah dengan sasaran yang tepat…” Meski terdengar seperti canda, jawaban itu sebenarnya mengandung sebuah terapi pemikiran bagi mereka yang selama ini terlanjur berfikiran sempit dalam memaknai dakwah Muhammadiyah. Dakwah pada komunitas seperti inilah yang oleh Muhadjir sering disebut sebagai “Dakwah di Lahan Becek”.

Kontroversi tak berhenti di situ. Dalam bidang manajemen perguruan tinggi, Muhadjir juga menelurkan gagasan-gagasan yang tak kalah unik. Barangkali terinspirasi oleh model kepemimpinan di Muhammadiyah, Muhadjir memperkenalkan model manajemen collective-collegial selama memimpin UMM. Pada prinsipnya, model manajemen ini menggariskan bahwa semua keputusan dan kebijakan kampus merupakan keputusan bersama antara rektor dan pembantu rektor. Sejalan dengan prinsip manajemen ini, Muhadjir juga mencetuskan istilah “SADAK” (Sentralisasi Administrasi dan Desentralisasi Akademik). Ini memberikan makna yang sangat besar bagi pengembangan UMM, karena sistem administrasi (misalnya kepegawaian, keuangan, pengadaan, pembangunan) dilakukan secara tersentral di universitas, sedangkan urusan pengembangan akademik diserahkan pada fakultas dan program studi. Dengan demikian, segala hal yang bersifat administratif dapat dipantau dan dikendalikan pada level universitas, sedangkan fakultas dan prodi diberi kesempatan seluas-luasnya untuk “lari” berpacu dalam mengembangkan inovasi akademik.
Demikianlah. Dalam bidang akademik, kini Muhadjir telah meraih posisi tertinggi sebagai guru besar (profesor) di Universitas Negeri Malang. Namun, tentu saja, prestasi itu tidak diraih dalam sekejap mata. Pencapaian itu bukanlah melalui jalan mulus bertabur bunga, melainkan menapaki jalan berliku berhias duri.

Kini, Muhadjir Effendy bukan lagi Muhadjir Effendy sebagai pribadi dan individu semata. Muhadjir adalah UMM, dan UMM adalah Muhammadiyah. Maka Muhadjir adalah juga identik dengan Muhammadiyah. Dan, sebagaimana semboyan yang ia cetuskan untuk UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”,

Maka, tidaklah sembarangan Presiden Jokowi memilih Prof Dr Muhadjir Effendy untuk mengemban amanah menjadi nahkoda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Kerja masa bhakti 2016 - 2019 menggantikan Anies Baswedan. Selamat mengemban amanah Prof Muhadjir, semoga Pendidikan di Indonesia lebih maju dan berkembang sesuai harapan kita semua. amien. (RS)

(Dikutib dari naskah buku Biografi Muhadjir Effendy)

0 komentar:

Posting Komentar