Sabtu, 06 Agustus 2016



Drs. M. Nurul Humaidi, M.Ag saat memberikan pengajian di masjid Khodijah Kucur

Desa Kucur yang terletak paling selatan di kecamatan Dau menjadi pilihan diselenggarakannya pengajian rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Dau pada bulan Juli 2016, tepatnya pada Ahad tanggal 24 di Masjid Khodijah. Meski terletak di paling ujung selatan yang berbatasan dengan kecamatan Wagir, antusiasme warga Muhammadiyah Dau tetap tinggi.  Terbukti dengan hadirnya jamaah sekitar 150 orang telah memadati ruangan masjid yang sederhana itu.

Momentum yang sangat baik inilah kemudian digunakan oleh sang Ketua PCM Dau, Bpk. Taufiq Burhan untuk menyampaikan gagasannya tentang Gerakan Infaq. Menurutnya, gemar berinfaq harus menjadi salah satu ciri gerakan Muhammadiyah. Berinfaq bukan hanya ditujukan kepada perorangan saja, melainkan kepada organisasi juga. Sebab, berinfaq kepada organisasi akan memberikan dampak yang sangat signifikan. Organisasi Muhammadiyah sejak awal berdirinya hingga kini tetap konsisten sebagai gerakan dakwah dan sosial dalam pengertian yang luas. Karenanya, gerakan tersebut harus ditopang dengan gerakan berinfaq secara continue, tutur Bpk. Taufiq dalam sambutannya diawal acara pengajian tersebut. Selanjutnya dalam merealisasikan gerakan infaq, PCM membagikan selebaran kepada semua jamaah untuk diisi kesediaannya dalam mendonasikan sebagian hartanya ke Muhammadiyah Dau untuk menjadi amal jariyah.



Pengajian rutin, sebulan sekali yang diselenggarakan PCM Dau kali ini menghadirkan bapak Drs. M. Nurul Humaidi, M.Ag sebagai pemateri. Karena masih di bulan Syawal, maka topik yang diangkat dalam pengajian ini adalah terkait dengan Syawal. Menurut Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang ini, Syawal memiliki makna meningkat. Meningkat dari bulan sebelumnya. Dalam bulan Ramadhan ummat Islam yang berpuasa bisa dikatakan sebagai proses membakar, dengan formula menghapus dosa yang lalu. Di dalamnya terdapat pula malam lailatul qodar yang lebih utama dari 1000 bulan. Karenanya, bulan Syawal harus dijadikan sebagai wahana untuk meningkatkan segala amal kebajikan, bukan sebaliknya yang justru menurun, seakan-akan telah bebas dari puasa.

“Orang yang tidak suskses menjalani puasa pasti nelongso, hidupnya susah, karena selalu merasa kurang,” tegas ustad yang sangat humoris ini. Esensi puasa itu menahan. Menahan dari segala sesuatu yang merusak. Maka, dalam bulan syawal orang yang telah puasa itu mestinya memiliki daya yang kuat dalam segala hal. Kuat dalam beribadah dan kuat dalam menangkis segala godaan, tambahnya.

Pesan terakhir yang disampikan oleh Dosen Fakultas Agama Isla UMM ini, bahwa wujud dari taqwa itu jujur. "Kejujuran adalah rajanya kebaikan, ash shidqu hiya ro'su al khoir". Puasa mengantarkan kepada kejujuran. Jujur terhadap diri sendiri dan Allah SWT. Pada akhirnya nilai kejujuran itu akan berdampak kepada orang lain. Semoga nilai-nilai itu bisa diterapkan pasca Ramadhan. Aminn… (hilmi)

0 komentar:

Posting Komentar