Sabtu, 30 Juli 2016

Bibit pohon Mahoni yang akan ditanam disekitar lokasi rawan bencana Desa Lebakharjo

Setelah mengamati dan memperlajari penyebab bencana banjir bandang dan longsor yang menimpa rumah dan jalan di Lebakharjo pada bulan lalu, tim MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) akan menggelar bakti sosial yang bertema "Penghijauan di daerah rawan bencana". Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan Ahad (14/8/2016) di lokasi yang rawan bencana desa Lebakharjo Kecamatan Ampel Gading Kabupaten Malang.

Penghijauan ini setidaknya akan memberikan mitigasi pada masyarakat Lebakharjo pada khususnya mengenai kesadaran merawat lingkungan untuk mencegah terjadinya bencana. Seperti diketahui, daerah ini berupa lembah pegunungan yang rawan sekali terjadi ancaman bencana banjir dan tanah longsor. Sekretaris MDMC PDM Kabupaten Nurcholish Dwi menjelaskan bahwa kondisi tanah yang berada dilembah desa Lebakharjo ini memang sudah dalam pengawasan karena sangat memungkinkan terjadinya banjir dan tanah longsor. Dikarenakan kurangnya pohon-pohon yang fungsinya menahan aliran air dan tanah bila terjadi hujan deras yang ekstrim. "Untuk itulah tim MDMC PDM Kabupaten Malang sigap dengan kondisi seperti itu, setelah mengadakan peninjauan dan pengamatan yang intensif kami memandang perlu adanya reboisasi penghijaun kembali lahan-lahan yang rawan bencana tersebut", jelasnya.

Bhakti sosial yang diakselerasikan dengan penanaman seribu bibit pohon mahoni ini terselenggara atas kerjasama MDMC dan Lazismu serta didukung oleh Majelis Lingkungan Hidup PDM Kabupaten Malang. Menurut rencana, acara penamaman secara simbolis akan dilakukan serentak dengan Kepala Desa Lebakharjo, Tim MDMC, PDA, Lazismu, Tim MLH PDM Kabupaten Malang serta di bantu tim KSR SMK Mutu Kondanglegi.  Sisa bibitnya akan diserahkan pengelolaannya ke PCM Ampel Gading untuk diterukan ke lokasi sekitar. Acara ini merupakan kelanjutan dari bakti sosial Muhammadiyah  yang meliputi pembagian sembako dan pengobatan gratis bagi korban bencana Lebakharjo bulan lalu yang digerakkan kerjasama MDMC dan lazismu PDM Kabupaten dan Kota Malang.

Disamping penanaman  seribu pohon mahoni, MDMC juga menyediakan bibit durian untuk bisa membantu pemberdayaan masyarakat. "Diharapkan dengan adanya kegiatan penanaman pohon ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya perawatan dan perlindungan bagi tumbuhan yang berfungsi untuk mencegah terjadinya bencana banjir dan longsor di daerah rawan seperi Lebakharjo. Tim kami akan siap melakukan pendampingan dalam merawat dan mengembangkan penghijauan di daerah lembah ini bersama Majelis Lingkungan Hidup PDM Kabupaten Malang', pungkas Nurcholis. (Nur/Rid)

Kamis, 28 Juli 2016

Prof Muhadjir Effendy, Mendikbud RI Kabinet Kerja Masa Bhakti 2016 - 2019

Pilihan dan kepercayaan mengurusi pendidikan di Indonesia kembali jatuh pada kader Muhammadiyah. Untuk kali kedua, jabatan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ditempati mantan Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), setelah beberapa kurun waktu sebelumnya diduduki Prof Malik Fajar. Presiden RI Joko Widodo akhirnya menunjuk Prof Muhajir Effendy, MAP, sebagai Mendikbud menggantikan pendahulunya Anies Baswedan, saat pengumuman Reshuffle Kabinet Jilid II, Rabu (27/7/2016) siang kemarin, di Istana Kepresidenan, Jakarta.

Bagi Prof Muhajir sendiri, amanah jabatan sebagai Mendikbud ini menjadi kado istimewa menjelang milad atau ulang tahun kelahirannya. Terlahir di Madiun, 29 Juli 1956, Jumat 29 Juli 2016 hari ini merupakan hari ulang tahunnya yang ke-60. Pasca usia emas (golden age) dengan karir hebat, begitu kira-kira sebutan yang pas bagi perjalanan hidup Mendikbud Prof Muhajir saat ini.

Dimata sejawat, terpilihnya Mendikbud Prof Muhajir cukup membawa optimisme dan harapan besar. Dr Waras Kamdi misalnya, kandidat guru besar Universitas Negeri Malang (UM), mengaku bersyukur dan banģga karena seorang guru besar UM bisa menjadi menteri. Apalagi, baru kali ini Indonesia punya Mendikbud dari LPTK.

Tak hanya itu, bagi Waras, dengan menjadi Mendikbud, Prof Muhajir Effendy sangat diharapkan memberikan harapan baru bagi pembenahan carut marut pendidikan dasar dan menengah di negeri ini, karena beliau orang yang besar di dunia pendidikan.

"Yang saya kenal, beliau sangat cerdas, ide-idenya visioner, melampaui pemikiran kebanyakan orang, serta piawai dalam mengelola ide dan menyelesaikan masalah," kata Waras yang pernah menjadi mahasiswa bimbingan Prof Muhajir semasa kuliah S1.

Gaya jurnalisnya masih kental, karena memang beliau besar juga dari lingkungan jurnalistik. Beliau juga seorang forografer. Mungkin karena kebiasaannya dengan zoom in zoom out objek di lensa kameranya itu juga beliau memiliki kepekaan yang tajam dalam melihat lanskap kehidupan.

Sosok Mendikbud Muhajir, lanjutnya, mampu melihat dan menemukan potensi-potensi unik di sekitarnya yang tidak banyak ditangkap kepekaan indera orang lain kebanyakan. Dan acapkali, hal-hal unik itu menjadi sesuatu yang sangat visioner di kemudian hari. Banyak orang kemudian terbelalak ketika buah karyanya muncul ke permukaan. Karena itu, kata Waras, jangan terkaget- kaget jika nanti Pak Muhadjir membuat kebijakan terobosan untuk membenahi pendidikan di negeri ini.

"Saya yakin, kepiawaian taktis strategis beliau mampu mengurai benang kusut pendidikan kita dan memberikan solusi banyak paradoks pendidikan di negeri ini," imbuh pakar Teknologi Pembelajaran ini.

Ada yang sangat terkesan bagi Waras pribadi selama ia mengalami menjadi mahasiswa di bawah binaan Prof Muhajir tahun 1980-an. Usai lulus S1 pada 1985, meminta do'a restu melamar kerja di suatu penerbitan lokal di Jatim.

"Dan, beliau bilang "ndak dik, awakmu cocok di sini" (di IKIP Malang maksudnya). Saya ikuti saran beliau dan saya diterima jadi dosen IKIP Malang  Januari 1986. Andai saya tidak mengikuti saran beliau mungkin saya tidak jadi guru besar di UM," kenang Waras.

Pradana Boy, Dosen FAI UMM yang juga aktivis Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah mengatakan pak Muhajir adalah seorang pendidik yang memiliki banyak pengalaman. Sehingga posisi sebagai mendikbud adalah sesuatu yang wajar. "Tak jarang ide-idenya liar dan di luar kelaziman. Misalnya, dia pernah menantang aktivis2 muda untuk menjadi pendidik di pulau terluar indonesia. Menurut Prof. Muhadjir, pendidikan di pulau2 terluar sering tdk terperhatikan sebagaimana mestinya, dan perlu pendekatan yang tdk biasa,' jelas Boy.

Kita semua berharap, dengan segudang pengalaman dan visioner beliau di dunia pendidikan akan bisa memberikan ide dan terobosan segar untuk meningkatkan dan mengangkat level pendidikan Indonesia yang dulu sempat menjadi barometer Asia. Pengalaman Muhammadiyah yang sukses mengelola pendidikan dari dasar sampai tinggi akan banyak memberikan masukan strategi manajemen peningkatan mutu dan pencapaian prestasi. Semoga Prof Muhadjir bisa mengemban amanah ini tidak hanya untuk kemajuan bangsa tapi juga untuk kemaslahatan umat menuju Indonesia berkemajuan. (amn/rid)

Rabu, 27 Juli 2016

Prof Muhadjir Effendy, Mendikbud RI adalah sosok multidimensional

“Sewaktu duduk di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA), saya dan beberapa teman mendirikan sebuah grup Orkes Melayu bernama BRAGA (Barito Suara Guru Agama). Uang untuk membeli alat musiknya, saya tarik dari siswa baru, tetapi tanpa seizin kepala sekolah. Tentu saja, saya menjadi sasaran kemarahan kepala sekolah. Kelompok musik ini bukan hanya untuk menyalurkan hobi musik kami, tetapi juga untuk mencari uang jajan.”

TAK banyak yang akan menyangka bahwa kutipan di atas meluncur dari cerita Muhadjir Effendy tatkala mengenang masa remajanya. Bagi sebagian orang, mungkin fakta ini mencengangkan. Muhadjir Effendy adalah seorang tokoh pendidikan, yang oleh publik lebih dikenal sebagai Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Guru Besar bidang sosiologi pendidikan di Universitas Negeri Malang (UM). Di samping itu, publik juga mengetahui Muhadjir sebagai seorang pengamat militer, dan anggota Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Padahal di balik semua itu, Muhadjir sebenarnya adalah seorang yang boleh disebut multidimensional.

Di antara sekian banyak dimensi kehidupannya, sisi Muhadjir Effendy sebagai seorang aktivis atau penggerak organisasi terus melekat hingga kini. Semasa pelajar ia adalah aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII). Pada saat menjalani kehidupan sebagai mahasiswa, ia berkecimpung di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), dan di masa kematangan intelektualnya, ia berperan aktif di organisasi kemasyarakatan dan keagamaan modernis, yaitu Muhammadiyah. Dalam kaitannya dengan aktivitas di Muhammadiyah, barangkali Muktamar Muhammadiyah 2015 yang terselenggara di Makassar pada Agustus 2015 lalu, telah memberikan makna khusus atau tonggak baru dalam kehidupan Muhadjir Effendy. Ya, karena pada Muktamar 2015, ia terpilih sebagai salah seorang dari tiga belas formatur.

Dalam sistem pemilihan pimpinan di Muhammadiyah, seorang ketua umum tidak dipilih secara terpisah. Pemilihan adalah untuk menentukan tiga belas calon pimpinan dari tiga puluh sembilan nama yang diusulkan oleh anggota Muhammadiyah di seluruh Indonesia. Tiga belas orang terpilih inilah yang akan menentukan siapa yang harus menjadi nakhoda Muhammadiyah di antara mereka.

Dalam rangkaian ini, Dr. Haedar Nashir akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum Muhammadiyah periode 2015-2020. Muhadjir Effendy adalah salah seorang Ketua yang akan mendampingi kepemimpinan Haedar dalam masa lima tahun yang akan datang. Sesuai dengan keahliannya, Muhadjir dipercaya sebagai ketua yang membidangi pendidikan yang dikelola oleh Muhammadiyah. Ini berarti Muhadjir harus membawahi lebih dari 170 perguruan tinggi Muhammadiyah (PTM) dan ribuan sekolah dasar dan menengah yang tersebar di seantero wilayah di Indonesia.
Kenyataan ini sebenarnya telah diperkirakan oleh banyak kalangan. Penempatan Muhadjir sebagai ketua yang membidangi pendidikan di Muhammadiyah sangatlah wajar, mengingat sejak sangat lama Muhadjir telah berkecimpung dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Ia terlibat dalam pengelolaan salah satu perguruan tinggi Muhammadiyah yang kini tampil sebagai salah satu universitas Muhammadiyah terbaik di Indonesia, dan perguruan tinggi swasta terunggul di Jawa Timur, yaitu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Maka nama Muhadjir Effendy menjadi lekat, bahkan identik, dengan Universitas Muhammadiyah Malang. Patut dimaklumi, Muhadjir adalah salah satu dari sekian banyak tokoh yang turut menyumbangkan fikiran, tenaga, bahkan sebagian besar masa hidupnya di UMM, hingga UMM bisa menjadi sebesar sekarang ini.

Bersama-sama dengan Prof Malik Fadjar, Prof Imam Suprayogo, Haji Sukiyanto (almarhum) dan Kiai Haji Abdullah Hasyim (meninggal pada tahun 2013), Muhadjir muda telah turut serta dalam pengembangan Universitas Muhammadiyah Malang, melanjutkan perjuangan generasi perintis seperti Kiai Bedjo Darmoleksono, A. Gafar, K.H. Mohammad Goesti, Kapten Mohammad Tahir, Ali Sacheh, Suyuti Chalil, A. Masyhur Effendy, Amir Hamzah Wiryosukarto, Sofyan Aman, Profesor Masjfuk Zuhdi, Profesor Kasiram, dan sederet tokoh Muhammadiyah Malang lainnya. Nama-nama ini adalah ibarat para pendekar yang tanpa lelah berfikir dan bertindak demi kemajuan UMM, hingga menjadikan UMM seperti yang saat ini dikenal masyarakat.
Ibarat para pendekar dalam dunia persilatan, kelima orang ini pada era 1980-an, selalu mengasah jurus untuk menjadikan padepokan silat yang mereka kelola diperhitungkan oleh orang lain. Usaha tanpa lelah itu memang akhirnya membuahkan hasil. UMM memasuki tahapan baru sebagai sebuah perguruan tinggi yang mulai memikat hati masyarakat. Jumlah pendaftar meningkat, berbagai fasilitas pendukung dibangun, alumni menyebar di berbagai belahan bumi Indonesia, bahkan mancanegara; dosen baru berdatangan. UMM lalu berubah menjadi seperti magnet yang mampu menarik berbagai benda-benda kecil di sekitarnya. Benda-benda kecil yang terbawa oleh magnet UMM itu bukan hanya generasi muda pencari pengetahuan, tetapi berbagai lapisan masyarakat dengan berbagai macam tujuan dan kepentingan. Ragam ilmu pengetahuan yang dikembangkan di UMM telah memanjakan para pencari pengetahuan untuk memenuhi dahaga ilmunya di telaga ilmu UMM. Tak hanya itu, UMM telah pula menjadi magnet bagi para sarjana baru yang berhasrat menapaki karier akademik dalam perjalanan kehidupannya. Bahkan belakangan, UMM juga menjadi salah satu titik singgah favorit bagi mereka yang berwisata ke kawasan Malang Raya. Tentu ini tak mengherankan, lokasi UMM yang strategis dan topografi alamnya yang memikat, serta bangunan-bangunan yang tertata apik di atas hamparan tanah luas yang pada awalnya adalah lembah dengan struktur tanah menyerupai teras-iring, telah menjadikan setiap wisatawan yang melintasinya merasa sayang untuk melewatkan kesempatan singgah di Kampus Putih ini. Tak hanya memiliki bangunan fisik yang elok dan suasana lingkungan kampus yang sejuk memanjakan mata, UMM sering pula memenangi berbagai penghargaan dalam berbagai bidang atas dedikasi seluruh elemen di kampus tersebut. Kenyataan ini semakin pula mengokohkan posisi UMM sebagai magnet bagi masyarakat.

Sekali lagi, di tengah ragam pencapaian ini, nama Muhadjir Effendy tidak bisa dilepaskan. Muhadjir Effendy, UMM, dan pendidikan tinggi lalu menjadi tiga hal yang tak terpisahkan. Lambat laun identifikasi dan reputasi Muhadjir sebagai tokoh pendidikan tak hanya dikenal di kalangan Muhammadiyah, tetapi juga di kalangan masyarakat secara umum. Buktinya, meskipun memang belum berhasil menduduki kursi menteri pendidikan, Muhadjir Effendy termasuk salah satu nama yang banyak didiskusikan oleh publik untuk jabatan Menteri Pendidikan Tinggi pada saat peralihan kekuasaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Presiden Joko Widodo. Maknanya, kehadiran Muhadjir sebagai tokoh pendidikan telah diperhitungkan, tak hanya di Jawa Timur, tetapi juga di tingkat nasional. Bukti lainnya adalah posisi yang pernah diduduki oleh Muhadjir sebagai Ketua Badan Kerjasama Perguruan Tinggi Islam Swasta (BKS-PTIS) pada 2012-2014. BKS-PTIS adalah sebuah wadah koordinasi dan kerjasama antarberbagai perguruan tinggi Islam di Indonesia. Berdiri pada April 1978 di Bandung, badan ini bertujuan untuk menjadi wadah bagi pemecahan masalah-masalah yang dihadapi oleh perguruan tinggi Islam swasta.

Meskipun dikenal luas sebagai tokoh pendidikan, Muhadjir sebenarnya adalah seorang sosok tokoh dengan ragam kemampuan. Ragam kemampuan itu bisa dilihat dari variasi bidang pendidikan yang pernah ia tempuh. Secara akademis ia terdidik sebagai seorang sarjana muda Pendidikan Agama di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Malang yang kala itu merupakan filial (cabang) dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Kedua kampus itu kini telah berubah menjadi Universitas Islam Negeri (UIN). Pendidikan sarjana muda (BA) di IAIN ia tuntaskan dan dilanjutkan dengan pendidikan jenjang sarjana (Drs) di bidang Pendidikan Luar Sekolah (PLS) di IKIP Malang, yang kini telah berubah menjadi Universitas Negeri Malang (UM). Muhadjir selanjutnya mengenyam pendidikan di bidang Administrasi Publik di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sembari menjalankan tugas sebagai Pembantu Rektor III dan I di Universitas Muhammadiyah Malang. Puncak pendidikannya adalah dalam bidang sosiologi politik, dengan mengambil konsentrasi di bidang sosiologi militer di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga, Surabaya. Selain itu, Muhadjir juga pernah menempuh pendidikan singkat di bidang keamanan dan pertahanan di Pentagon, Amerika Serikat; dan kursus singkat pengelolaan pendidikan tinggi di Victoria University, Canada. Tak hanya di dunia akademik, Muhadjir adalah juga orang yang memiliki perhatian dan sampai batas tertentu, minat dan bakat, pada dunia seni dan budaya. Ia juga memiliki minat dan kemampuan yang memadai di bidang jurnalistik.

Maka wajar jika Muhadjir fasih bicara banyak hal. Ia bisa dengan lincah bertutur tentang teori-teori pertahanan, seluk beluk dunia tentara, atau sisi-sisi sejarah militer yang barangkali tak diketahui banyak orang. Seperti hafal di luar kepala, Muhadjir lancar bertutur tentang KNIL (tentara Indonesia zaman Belanda), PETA (Pembela Tanah Air), kavaleri dan infanteri, Kopassus, hingga isu soal friksi-friksi dalam dunia militer, dan sistem persenjataan militer. Minatnya pada kajian militer, lebih jauh, telah menjadikan ia juga dekat dengan sejumlah petinggi militer di Indonesia. Tentu tak terlalu mengherankan, Muhadjir memiliki pengetahuan yang memadai tentang militer, karena memang ia mengkhususkan diri pada kajian ini. Puncaknya, ia menulis disertasi tentang dinamika militer Indonesia yang kemudian dibukukan menjadi Jati Diri dan Profesi TNI: Studi Fenomenologi (UMM Press, 2009). Ini bukanlah sebuah kebetulan. Pastilah ada sebab-sebab historis yang menjadikan Muhadjir memiliki perhatian khusus pada dunia militer ini.

Selain itu, sebagai seorang anggota pimpinan di Persyarikatan Muhammadiyah, baik ketika menjadi seorang ketua di Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, dan terlebih lagi sekarang sebagai salah satu ketua di Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir kerap menghadiri forum-forum keagamaan di mana ia menjadi pembicaranya. Dengan sendirinya, ia harus memainkan peran sebagai seorang muballigh, da’i atau penceramah agama. Pada posisi ini, lalu akan tampak Muhadjir Effendy sebagai seorang ahli agama yang memiliki pemikiran-pemikiran keagamaan khas. Dalam bidang pemikiran keislaman, Muhadjir seringkali menampilkan gagasan-gagasan yang cukup mencengangkan.

Misalnya, ketika ia menyatakan bahwa akhir-akhir ini di lingkungan Muhammadiyah, terdapat sebuah fenomena stereotyping. Yakni pemikiran-pemikiran a priori yang menganggap orang lain tidak baik. Menurut Muhadjir, kebiasaan seperti ini harus diperangi bersama. Oleh karena itu, harus ada keberanian dari Muhammadiyah untuk membuka diri, apalagi jika Muhammadiyah kembali kepada jargon dakwah amar ma’ruf nahi munkar, yang sudah dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah, K.H. Ahmad Dahlan, maka akan terbentang sebuah fakta sejarah bahwa Dahlan sangat terbuka kepada siapapun tanpa menghilangkan semangat dakwah amar ma’ruf nahi munkar di Muhammadiyah itu. Seperti yang dilakukan Kiai Dahlan ketika memimpin rapat organisasi Budi Utomo dengan membiasakan kuliah agama sebelum rapat dimulai. Menurut Muhadjir, jika kebiasaan yang dilakukan Kiai Dahlan ini dikontekstualisasikan kepada gerakan Muhammadiyah hari ini mungkin saja akan terjadi head to head dengan kebiasaan yang dilakukan Kiai Dahlan di masa-masa awal Muhammadiyah.

Di luar persoalan militer dan pemikiran keislaman, darah budayawan mengalir dalam diri Muhadjir. Adanya sejumlah dimensi dalam dirinya sebagai seorang budayawan, menjadikan Muhadjir Effendy menaruh perhatian dan penghargaan yang tergolong khusus dalam bidang seni dan budaya. Misalnya saja kecintaannya pada musik, dan khususnya lagi, musik dangdut. Saat itu tahun 2005, Universitas Muhammadiyah Malang sedang memiliki gawe besar. UMM didapuk sebagai tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-45. Maklum belaka, banyak orang tumpah ruah di kampus ini, termasuk para wartawan. Karena jumlah wartawan yang cukup signifikan, maka UMM sebagai panitia menyediakan sebuah ruang khusus untuk para peliput berita yang disebut sebagai Media Center. Maka, semua aktivitas peliputan dan pemberitaan media berpusat di tempat ini. Menandai penutupan perhelatan lima tahunan itu, para wartawan berkumpul dan melepas lelah dengan menyanyikan lagu-lagu dangdut di Media Center. Tanpa diduga ternyata Muhadjir Effendy turut bergabung dalam riuh rendah para wartawan, dan tanpa canggung menyanyikan sejumlah lagu dangdut, khususnya lagu-lagu Rhoma Irama, dan tak lupa sesekali menggoyangkan pinggul. Tak hanya itu, bukti perhatian Muhadjir pada seni dan budaya juga bisa dilihat dari keputusannya untuk menyumbangkan seperangkat alat pewayangan yang diciptakan sendiri oleh ayahnya, Soeroja, kepada Universitas Muhammadiyah Malang.

Menyanyikan lagu Rhoma Irama, lagi-lagi, ternyata bukan sebuah kebetulan. Dalam banyak kesempatan, Muhadjir sering bercerita kepada orang-orang dekatnya bahwa ia mempunyai mimpi untuk bisa menyanyikan lagu-lagu dangdut dengan iringan grup musik SONETA yang dipimpin oleh Rhoma Irama. Ternyata mimpi yang sudah terpatri sejak belia itu menjadi kenyataan tatkala UMM menjadi tuan rumah Muktamar Muhammadiyah ke-45 tahun 2005. Pada saat pembukaan Muktamar di dalam Stadion Gajayana, di kawasan luar stadion juga diadakan sejumlah acara, termasuk pentas hiburan. Ternyata, di situ terdapat pula Rhoma Irama bersama Soneta Group-nya yang memang dihadirkan oleh panitia untuk memeriahkan pembukaan Muktamar. Tidak terduga, ternyata setelah acara resmi selesai, Muhadjir segera berlarian kecil menuju panggung hiburan di luar Stadion Gajayana untuk bergabung dengan Soneta. Melalui MC, akhirnya Muhadjir diberi kesempatan menggapai mimpinya, yaitu menyanyi lagu dangdut ber-duet dengan Rhoma Irama dengan iringan lengkap Soneta Gorup. Muhadjir sama sekali tak canggung, dan melantunkan lagu Begadang dengan gembira.

Tak terpisah dari hal-hal di atas adalah dimensi kehidupan Muhadjir Effendy sebagai seorang pemimpin. Dalam teori kepemimpinan, terdapat perdebatan tentang proses lahirnya seorang pemimpin. Di satu sisi, ada pendukung teori “pemimpin tidak dilahirkan, tetapi diciptakan.” Sementara di sisi lain, terdapat pendukung teori yang sebaliknya, “pemimpin tidak diciptakan, melainkan dilahirkan”. Pemimpin dilahirkan maknanya adalah bahwa dalam diri seseorang terdapat unsur-unsur intrinsik atau karakteristik yang mendukung kemampuan dia dalam menjalankan tugas kepemimpinan. Karakteristik-karakteristik itu adalah dorongan yang kuat untuk sukses, keinginan untuk memimpin, kejujuran, kecerdasan, kemampuan dalam pekerjaannya sekarang, kepercayaan diri, dan seorang yang terbuka atau sociable. Hal ini tentu tidak salah, ketika seseorang memiliki karakteristik-karakteristik tersebut, mereka mungkin akan menjadi seseorang pemimpin yang hebat. Tapi apakah orang yang tidak memiliki karakteristik-karakteristik itu tidak bisa memimpin?
Memang bisa diperdebatkan, apakah menjadi seorang pemimpin adalah bakat bawaan lahir (nature), ataukah hasil tempaan pendidikan, pergulatan dan pergaulan (nurture)? Namun, terlepas dari perdebatan ini, Muhadjir muda berproses. Proses itu barangkali menjadi sarana di mana Muhadjir muda melakukan sintesis atas “bakat bawaan” dan “proses penciptaan” seorang pemimpin. Ia menyibukkan diri dalam berbagai kegiatan dan organisasi pelajar dan kemahasiswaan. Muhadjir muda aktif dalam organisasi seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) baik ketika ia masih duduk di bangku sekolah Pendidikan Guru Agama (PGA) di Madiun maupun saat telah berkuliah di IAIN Sunan Ampel Malang dan IKIP Malang. Muhadjir aktif pula Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), pada masa-masa berikutnya. Di sinilah pematangan terjadi. Mengemudikan HMI Cabang Malang, bakat kepemimpinan Muhadjir mendapatkan salurannya yang memadai. Selepas itu, Muhadjir aktif di Muhammadiyah di berbagai tingkatan, dari tingkat ranting hingga pusat.

Sosok Muhadjir Effendy yang multidimensional ini tentu bukan hanya pengaruh pendidikan formal. Keluarga pastilah menyemaikan bibit-bibit pengaruh yang teramat mendasar dalam pertumbuhan intelektual Muhadjir Effendy. Ia lahir dalam sebuah keluarga aktivis, tokoh agama dan budayawan. Ayahnya, Soeroja, adalah seorang kepala sekolah dan guru. Selain itu, ia adalah seorang penggerak Masyumi sebelum partai ini dibubarkan oleh Soekarno. Di luar itu semua, Soeroja adalah seorang dalang yang menguasai berbagai lakon pewayangan. Soeroja tak hanya piawai memainkan lakon-lakon tersebut, tetapi juga mampu menciptakan sendiri seperangkat alat pewayangan. Salah satu karya Soeroja itu masih tersimpan dengan baik sampai hari ini, dan dimanfaatkan sebagai perangkat seni-budaya di Universitas Muhammadiyah Malang. Dengan latar belakang yang seperti ini, bukanlah hal yang mengherankan jika Muhadjir tumbuh sebagai pribadi yang multidimensional dan tumbuh sebagai seorang pemimpin dengan aneka pencapaian.

Namun, tidak berarti pencapaian-pencapaian itu bukan tanpa harga. Harga yang paling murah adalah kontroversi. Tetapi, bukankah itu resiko sebuah sikap? “Seorang pemimpin harus mampu bermimpi tentang seribu tahun yang akan datang,” demikian Muhadjir Effendy pernah berfalsafah dan ber-metafora pada suatu ketika. Falsafah dan metafora itu diwujudkan dalam berbagai kebijakan, yang tentu saja tak mungkin memuaskan semua pihak. Semasa menjabat Pembantu Rektor III yang membidangi urusan kemahasiswaan, misalnya, Muhadjir mengeluarkan kebijakan yang cukup kontroversial. Menurut Muhadjir, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang selama ini mendapatkan privilige di PTM-PTM harus diberikan suasana baru. Suasana baru yang dimaksudkan oleh Muhadjir adalah iklim persaingan terbuka antara IMM dengan organisasi-organisasi kemahasiswaan lainnya yang lazim disebut Organisasi Mahasiswa Ekstra Kampus (OMEK). Dengan tidak “mengekang” IMM dalam suasana privilage, diharapkan IMM akan mampu membuka diri terhadap aneka persaingan di berbagai cuaca dan suasana, sehingga aktivis-aktivis IMM menjadi matang ketika berhadapan dengan dunia nyata. Namun, memang menjadi hakikat dari setiap keputusan, pemikiran dan tindakan. Bahwa tak mungkin semua pihak akan menyukai, menyetujui dan lalu mendukung sebuah keputusan atau tindakan. Demikian pulalah kondisinya. Keputusan Muhadjir menuai protes, kecurigaan dan reaksi. Namun, Muhadjir Effendy adalah seorang yang sangat teguh dalam pendirian dan keyakinan. Maka, tanpa bermaksud mengabaikan kritik dan protes yang berkembang, Muhadjir tetap menjalankan kebijakan itu. Bahkan hingga hari ini, protes dan keberatan terhadap kebijakan itu masih terus terdengar.

Contoh lainnya adalah berkaitan dengan sikap UMM yang tak mewajibkan mahasiswi berjilbab. Memang benar, keputusan ini tidak lahir pada saat Muhadjir Effendy menjabat rektor UMM, melainkan telah ada pada masa-masa sebelumnya, khususnya masa kepemimpinan Profesor Malik Fadjar. Namun Muhadjir tetap mengawal keputusan ini, meskipun itu bermakna menggadaikan diri dalam resiko menjadi sasaran protes oleh berbagai pihak, tak terkecuali dari kalangan internal Muhammadiyah sendiri. Inti semua protes itu adalah bagaimana mungkin kampus Islam seperti UMM tidak menerapkan pewajiban berjilbab kepada mahasiswinya? Menghadapi kritik, protes, dan bahkan kecaman tentang hal ini, Muhadjir punya formulasi yang tak disangka-sangka. Ia menjawabnya dengan ringan dan canda, tanpa beban. “Mahasiswa UMM itu jumlahnya di atas dua puluh ribu. Pasti sangat sulit untuk mewajibkan semuanya berjilbab. Seandainya saja mahasiswa UMM itu hanya lima ratus orang, semua akan saya wajibkan berjilbab. Bahkan laki-lakipun saya wajibkan,” demikian Muhadjir ketika menanggapi kritik itu dengan canda.
Masih dalam kaitan identitas UMM sebagai kampus Islami, pemikiran kontroversial Muhadjir juga terekam dalam peristiwa berikut ini. Pada suatu ketika, di Dome UMM hendak digelar “Konser Musik Punk”. Tak pelak, acara ini juga menuai banyak kritik dari internal UMM sendiri. Menyadari potensi kontroversi ini, pihak pengelola yang diwakili oleh Suyatno (Dosen Jurusan Peternakan UMM), meminta izin dan pertimbangan kepada Muhadjir sebagai rektor. Di luar dugaan, Muhadjir memberikan izin. Inti dari semua suara miring itu adalah: “Bagaimana mungkin UMM sebagai kampus Islami kok membiarkan acara musik Punk yang jelas-jelas dihadiri banyak anak jalanan. Bukankah anak-anak ini tidak karuan identitas dan orientasinya?” Atas hal ini, dengan candaannya yang khas, Muhadjir menjawab: “Kita itu justru sudah melakukan dakwah dengan sasaran yang tepat.  Kalau dakwah ditujukan kepada orang-orang yang sudah baik, ya sia-sia jadinya. Dengan adanya anak-anak Punk datang ke UMM ini, itu sangat bagus. Minimal mereka tahu Masjid AR Fachruddin dan mendengar adzan. Itu sudah dakwah yang benar-benar dakwah dengan sasaran yang tepat…” Meski terdengar seperti canda, jawaban itu sebenarnya mengandung sebuah terapi pemikiran bagi mereka yang selama ini terlanjur berfikiran sempit dalam memaknai dakwah Muhammadiyah. Dakwah pada komunitas seperti inilah yang oleh Muhadjir sering disebut sebagai “Dakwah di Lahan Becek”.

Kontroversi tak berhenti di situ. Dalam bidang manajemen perguruan tinggi, Muhadjir juga menelurkan gagasan-gagasan yang tak kalah unik. Barangkali terinspirasi oleh model kepemimpinan di Muhammadiyah, Muhadjir memperkenalkan model manajemen collective-collegial selama memimpin UMM. Pada prinsipnya, model manajemen ini menggariskan bahwa semua keputusan dan kebijakan kampus merupakan keputusan bersama antara rektor dan pembantu rektor. Sejalan dengan prinsip manajemen ini, Muhadjir juga mencetuskan istilah “SADAK” (Sentralisasi Administrasi dan Desentralisasi Akademik). Ini memberikan makna yang sangat besar bagi pengembangan UMM, karena sistem administrasi (misalnya kepegawaian, keuangan, pengadaan, pembangunan) dilakukan secara tersentral di universitas, sedangkan urusan pengembangan akademik diserahkan pada fakultas dan program studi. Dengan demikian, segala hal yang bersifat administratif dapat dipantau dan dikendalikan pada level universitas, sedangkan fakultas dan prodi diberi kesempatan seluas-luasnya untuk “lari” berpacu dalam mengembangkan inovasi akademik.
Demikianlah. Dalam bidang akademik, kini Muhadjir telah meraih posisi tertinggi sebagai guru besar (profesor) di Universitas Negeri Malang. Namun, tentu saja, prestasi itu tidak diraih dalam sekejap mata. Pencapaian itu bukanlah melalui jalan mulus bertabur bunga, melainkan menapaki jalan berliku berhias duri.

Kini, Muhadjir Effendy bukan lagi Muhadjir Effendy sebagai pribadi dan individu semata. Muhadjir adalah UMM, dan UMM adalah Muhammadiyah. Maka Muhadjir adalah juga identik dengan Muhammadiyah. Dan, sebagaimana semboyan yang ia cetuskan untuk UMM, “Dari Muhammadiyah untuk Bangsa”,

Maka, tidaklah sembarangan Presiden Jokowi memilih Prof Dr Muhadjir Effendy untuk mengemban amanah menjadi nahkoda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada Kabinet Kerja masa bhakti 2016 - 2019 menggantikan Anies Baswedan. Selamat mengemban amanah Prof Muhadjir, semoga Pendidikan di Indonesia lebih maju dan berkembang sesuai harapan kita semua. amien. (RS)

(Dikutib dari naskah buku Biografi Muhadjir Effendy)

Selasa, 26 Juli 2016

Ceremonial kegiatan di pendopo kantor desa Lebakharjo kec. Ampel Gading.

Sepekan setelah salurkan bantuan awal [11/07/2016] bagi korban bencana longsor di desa lebakharjo kecamatan ampel gading kabupaten malang tepatnya hari minggu [17/07/2016] kembali lazismu kabupaten malang melakukan bakti sosial kerja bareng dengan LPB (Lembaga Penanggulangan Bencana)/MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) kabupaten dan kota Malang. Bakti sosial yang di pusatkan di pendopo kantor desa Lebakharjo dihadiri lebih bari 90 perwakilan keluarga korban bencana untuk menerima bantuan paket sembako, pakaian layak pakai dan juga layanan kesehatan gratis dari tim dokter LPB/MDMC.

Pemeriksaan kesehatan Gratis dari tim dokter MDMC kabupaten & kota Malang

Aksi/kegiatan kali ini pun disambut antusias oleh masyarakat maupun segenap staf perangkat desa setempat dan juga jajaran PCM Ampelgading. Suhar perwakilan kepala desa Lebakharjo atas nama pemerintah desa menyampaikan apresiasi serta ucapan terima kasih atas apa yang dilakukan oleh Muhammadiyah kabupaten Malang sejak awal terjadi bencana [11/07/2016] terus melakukan komunikasi dan koordinasi melalui pcm ampel gading guna membantu meringankan beban masyarakat lebakharjo khususnya keluarga korban bencana. Rossi hendrawan (ketua MDMC kab. Malang) dan Fathoni (ketua MDMC kota Malang) juga mengatakan bahwa muhammadiyah melalui LPB/MDMC akan selalu terus berusaha melakukan koordinasi guna membantu penanganan korban bencana dan kedepannya menyusun program-program rekruitmen relawan (siaga bencana) serta memberikan pelatihan sebagai langkah antisipasi sebagai upaya deteksi dini terhadap bencana bersama pemerintah desa dan dinas terkait pemkab Malang.

Penyerahan bantuan secara simbolis dari tim lazismu kab. Malang ke warga/
masyarakat korban bencana longsor Lebakharjo

Penyerahan bantuan dana dari perwakilan lazismu kota malang [dua dari kanan] ke Siswoto/ketua PCM Ampel Gading [dua dari kiri] disaksikan Cahyo/anggota PCM Ampel Gading [kiri] dan Fatoni/ketua MDMC kota Malang [kanan]

Muhammadiyah sebagai ormas islam yang juga bergerak dibidang sosial kemasyarakatan dituntut untuk selalu mengasah kepekaan terhadap permasalahan-permasalahan ummat/masyarakat dan bukan cuma sekedar empati yang disampaikan melalui slogan-slogan semata, namun muhammadiyah juga hadir dan akan selalu bekerja keras menjadi garda terdepan yang mengawali dalam ber-fastabiqul khoirot, lanjut rossi. Pada kesempatan bakti sosial peduli korban bencana longsor Lebakharjo kali ini perwakilan lazismu kota malang juga menyerahkan bantuan sejumlah uang yang diterima oleh Siwoto (ketua PCM ampel gading) disaksikan Fathoni dan Cahyo (anggota PCM Ampel Gading). di tempat terpisah Herunanto (ketua Lazismu kab. malang) dan juga Zakaria Subiantoro (ketua Lazismu kota Malang) juga mengatakan agar bantuan yang disalurkan dapat sedikit meringankan beban korban bencana, serta berharap aksi/kegiatan seperti ini juga bisa diikuti oleh majelis/lembaga yang ada di Muhammadiyah khususnya dan ormas-oramas islam pada umumnya dalam mesyiarkan dakwah Islam dalam bingkai ukhuwah.
Lazismu, tim MDMC kab. Malang brsm jajaran pemerintah desa lebakharjo.


Desa Lebakharjo dengan kondisi geografis alam nya yang merupakan lembah/dataran rendah serta akses jalan yang menghubungkan antar desa maupun dengan pusat pemerintah kecamatan yang tidak mudah dilalui diantara perbukitan dengan tekstur tanah yang sangat mudah tergerus air yang jadikan daerah ini sangat rawan dan langganan terkena longsor serta banjir. Maka dalam hal ini muhammadiyah sebagai salah satu kekuatan dengan gerakan tajdid nya perlu melakukan komunikasi dan terus mendorong pemerintah kabupaten malang agar mengambil langkah-langkah prioritas untuk recovery (pemulihan) pasca bencana sekaligus menyusun perencanaan program yang sistematis, efektif dan praktis serta berkalanjutan sebagai upaya menekan sememinimal mungkin adanya korban yang diakibatkan oleh bencana di masa-masa mendatang, terang Hariadi ketua divisi pengembangan Lazismu kab. malang.
Peserta Pembekalan Santri Muhammadiyah MBS Gondanglegi 2016

Muhammadiyah Boarding School (MBS) Gondanglegi pada hari Ahad 24 Juli 2016 yang lalu menyelenggarakan kegiatan Pembekalan kepada santriwan-santriwati baru yang diselenggarakan di masjid Al Ma’un (kompleks MBS Gondanglegi). Kegiatan yang diikuti oleh 22 santriwan dan 19 santriwati tersebut dimulai pada pukul 07.00 sampai dengan waktu shalat Dzuhur tiba, sebagai pembawa acara dalam pembukaan adalah 3 santriwan dan santriwati yaitu santriwati Rika asal Ampelgading Kabupaten Malang yang menggunakan bahasa Indonesia, santriwan Jimly asal dari Jakarta menggunakan bahasa Arab dan santriwan Aziz asal dari Pasuruan menggunakan bahasa Inggris.

MC acara Pembekalan Santri MBS menggunakan 3 bahasa (Indonesia, Arab, Inggris)

Acara dibuka dengan penampilan Tari Indang Badinding oleh 7 santriwan yang pernah menjuarai lomba Tari Radar Malang Goes To School tahun 2015, dilanjutkan dengan penampilan lagu Religi berjudul Syukur oleh santriwati Novia Asari asal Ampelgading Kab. Malang dan penampilan group nasyid “Putri Al Ma’un”.

Acara Pembekalan ini dikemas dalam bentuk talkshow bertajuk “Ayo Mondok“ menampilkan 3 narasumber yang juga merupakan Pengasuh di MBS Gondanglegi. Ustadz Sugiono, S.HI (alumni Ponpes Baitul Arqam Jember dan PPUT UMM) menceritakan pengalamannya ketika masih jadi santri bahwa masing-masing pondok pesantren mempunyai keunikan sendiri-sendiri dalam mendidik santrinya, biasanya sanksi fisik akan diberikan ketika santri terlambat untuk mengikuti shalat berjama’ah di masjid. Karena itu dia berharap santri MBS Gondanglegi mau mematuhi tata tertib yang telah dibuat agar tidak kena sanksi.

Sementara ustadz Ahmad Saddam Al Azis, S.PdI (alumni Ponpes Al Ittihad Al Islamy Camplong Sampang Madura dan PUTM UMY) bercerita bahwa mencari ilmu di pondok pesantren itu awalnya terpaksa tapi lama-lama akan terbiasa dan akhirnya akan menyenangkan. Tradisi makan bersama dalam satu piring dan masak mie instan menggunakan air setengah matang yang pernah dialami di pesantren mengajarkan kepada dia tentang keshalehan sosial dan kebersahajaan dalam hidup itu penting sekali.

Sedangkan Pengasuh Putri yaitu ustadzah Chotitah Anggun Dumiyangsari, S.IP (alumni Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Mantingan Ngawi dan Hubungan Internasional UMM) menceritakan pengalamannya bahwa keberadaanya di pesantren adalah ‘paksaan’ dari sang Mama yang tidak mungkin dia tolak pada saat itu. Sanksi fisik dijemur di tengah lapangan adalah hal yang paling ditakuti oleh santri putri di pesantren tersebut dan makan mie instan bareng-bareng di tengah malam yang beraroma deterjen karena media memasak yang lupa dicuci terlebih dulu adalah pengalaman yang takkan pernah terlupakan dalam hidupnya. Tetapi ketiga Pengasuh yang pernah merasakan kehidupan pesantren 4 – 7 tahun tersebut kini merasakan manfaat yang sangat besar yaitu kebiasaan disiplin, mandiri, keikhlasan dalam hidup dan ilmu yang sangat bermanfaat yang bisa ditransfer kepada santriwan dan santriwati MBS Gondanglegi.

Adapun Sekretaris PCM Gondanglegi, Masturin Adi Wijaya dalam sambutannya menyampaikan bahwa MBS Gondanglegi yang dihuni santriwan santriwati dari Papua, Sulawesi Tengah, Tarakan Kalimantan, Jakarta, Madura, Bondowoso, Pasuruan dan beberapa lagi dari Kab. Malang ini akan berusaha untuk mendidik dan mengajarkan agama kepada santriwan dan santriwati dengan suasana yang menyenangkan. Kegiatan IPM dan Tapak Suci diwajibkan untuk diikuti oleh semua santri sebagai bentuk komitmen kepada proses pengkaderan yang berkesinambungan di Persyarikatan Muhammadiyah.

Tiga Pengasuh MBS Gondanglegi sedang berbagi pengalaman pada Pembekalan 
Santri Muhammadiyah 2016

Sementara Ny. Lina Safrida yang hadir mewakili PCA Gondanglegi berharap kepada santriwan dan santriwati baru agar selalu mentaati tata tertib asrama yang telah ditetapkan oleh Pengasuh. Beliau juga gememberikan resep ampuh kepada para santri yang merasa tidak krasan atau kangen dengan orangtua di rumah yaitu dengan membaca Al Qur’an setiap merasakan hal tersebut. Resep itu juga yang diberikan kepada dua putra-putrinya yang juga sedang nyantri di ponpes dan resep itu dirasakan kedua anaknya sangat manjur.


Dengan berbagi pengalaman ini diharapkan santriwan dan santriwati yang sedang menuntut ilmu di MBS Gondanglegi bisa dengan ikhlas untuk selalu taat kepada tata tertib pesantren dan tetap tawadhu’ kepada para ustadz dan ustadzah. (Masturin)

Jumat, 15 Juli 2016

Alumni Ketua & anggota PDPM dari masa ke masa bersama pdpm kab. malang periode 2015-2019 pada NGOBARKAN (I) di kediaman Drs. H. Mursidi, M.M.[13/03/2016]
Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Malang menggelar Temu Alumni PDPM Malang Raya di Aula PA. Bina Sejahtera 'Aisyiyah Jalan Kastubi 11 Bumiaji Kota Batu pada Sabtu [16/07/2016]. Bersamaan dengan kegiatan tersebut juga akan dilakukan pemberian santuan/bantuan dana untuk panti asuhan dan merintis jaringan pengusaha-pengusaha muda muhammadiyah.

Kegiatan yang bertajuk; Ngobarkan II [ngopi bareng kakanda] alumni Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Malang Raya yang bertemakan "Merajut Ukhuwah, Meneguhkan Dakwah Menuai Berkah Menuju Malang Raya Berkemajuan" ini dilakukan disamping untuk mempererat tali silaturrahim dan berbagi kegembiraan anak-anak panti asuhan sebagai salah satu wujud kesalehan sosial, sekaligus menghimpun data pengusaha/saudagar muda muhammadiyah yang nantinya diharapkan dapat terbangun jaringan bisnis antar jama'ah/warga persyarikatan. kegiatan ini dihadiri oleh jajaran PDPM mulai periode 1991-1995 hingga periode 2015-2019 [sekarang].

Suasana usai ramah-tamah NGOBARKAN I. [13/03/2016]

Ketua panitia/OC temu alumni mengatakan, insyaAllah kegiatan ini akan dihadiri tidak kurang dari 300 orang alumni PDPM Malang Raya [Kabupaten/Kota Malang dan Batu], ketua dan anggota aktif dari masa ke masa. tentunya dengan kehadiran beliau-beliau ini akan jadi motivasi untuk kami PDPM periode sekarang, mengingat kakanda sudah banyak yang berhasil dan sukses serta tetap istiqomah dalam dakwah/syiar islam melalui persyarikatan muhammadiyah, kata Fachruddin Alamsyah, S.Kom. [yang juga ketua PDPM 2015-2019].

Ahsan Ismail, BA.[kiri] Alumni Ketua PDPM periode 1991-1995
sedang menyampaikan sambutan pada NGOBARKAN I. [13/03/2016]

Sementara itu ketua SC [Steering Committee] juga menambahkan bahwasanya alumni ketua PDPM mulai periode 1991-1995 [Ahsan Ismail, BA.], Drs. H. Mursidi, M.M.[1995-1999], Drs. Doddy Novarianto [1999-2003], Ahad Abdul Jalil, S.Pd., M.Pd.[2007-2011], Santoko, S.Pd.I.[2011-2015] dan sejumlah alumni ketua PDPM Kota Malang dan Batu beserta jajaran anggota di masing-masing periodeisasi juga telah menyatakan kesediaannya hadir di acara itu. Ngobarkan alumni PDPM malang raya ini juga dikemas dengan menghadirkan panelis alumni pemuda muhammadiyah di tingkat lokal malang, tingkat regional jawa timur maupun nasional yang telah sukses dalam merintis usaha/bisnisnya sehingga tetap mampu berkhidmad di muhammadiyah dengan kemampuan finansial yang mereka miliki, terang Alfi Nurhidayat, S.T., M.T.[ketua PDPM periode 2003-2007] yang kini juga menjabat sebagai wakil sekretaris PDM Kabupaten Malang.

Ahsan Ismail [ketua PDPM 1991-1995] bersama Alumni PDPM di acara Ngobarkan II.

suasana usai acara Ngobarkan PDPM Malang Raya.[16/07/2016]

Kabupaten Malang yang terdiri atas 33 kecamatan dengan berbagai macam potensi sumber daya di dalamnya diantaranya potensi ekonomi, agro-industri/pertanian-perkebunan, laut serta wisata bahari dll. Maka sudah saatnya pemuda muhammadiyah ikut-serta andil dan menjadi bagian terpenting dalam upaya memperkuat ketahanan daya beli ummat/masyarakat hingga dapat terwujudnya masyarakat kabupaten malang yang mandiri dan berkemajuan, tambah Hariadi, S.AP. yang juga salah satu anggota pemuda muhammadiyah era 1995-1999. (Hari)

Selasa, 12 Juli 2016

Rumah salah seorang warga di dusun krajan II yang hancur diterjang tanah longsor.

Ahad [10/07/2016] tepatnya pukul 20:30 wib. desa Lebakharjo kecamatan Ampel Gading, desa paling timur kabupaten Malang yang berbatasan dengan daerah kabupaten Lumajang ini diterpa bencana longsor akibat intensitas curah hujan yang tinggi dan terus-menerus selama 2-3 hari itu membuat beberapa dusun dan puluhan rumah warga rusak serta beberapa bangunan diantaranya hanyut terbawa luapan dan derasnya arus sungai yang melintas di tengah-tangah perkampungan.

Kabar bencana longsor di lebakharjo ini juga langsung direspon cepat oleh tim lembaga penanggulangan bencana [LPB]/MDMC [Muhammadiyah Disaster Management Center] kabupaten malang. Tim lazismu dan MDMC yang senin [11/07/2016] siang hari menuju ke lokasi kejadian sempat tertahan karena jalan di gerbang memasuki desa lebakharjo tertimbun longsoran tanah. selama hampir 2 jam tertahan karena menunggu alat berat yang didatangkan oleh BPBD [Badan Penanggulangan Bencana Daerah] kota batu dan juga dibantu relawan PMI kab. Malang merapungkan pembersihan, tim MDMC dan lazimu baru bisa memasuki perkampungan di desa Lebakharjo pada pukul 14:30 wib.


Ditengah guyuran hujan tim MDMC dan lazismu dengan didampingi siyadi salah seorang anggota PCM Ampel Gading menuju beberapa titik di beberapa dusun yang terparah karena dampak longsor. berdasarkan data yang dihimpun nurkholis [anggota tim mdmc] tidak kurang 17 bangunan rumah, puluhan hektar lahan pertanian [padi siap panen] dan perkebunan [buah salak] milik warga serta akses jalan yang menghubungkan antar kampung rusak parah, bahkan beberapa bangunan rumah juga tertimbun tanah maupun beberapa bagiannya hanyut terbawa luapan derasnya air sungai. hingga berita ini diturunkan, warga di beberapa dusun di desa Lebakharjo yang terkena dampak terparah [khususnya dusun krajan II] masih diliputi kecemasan karena khawatir akan terjadinya longsor susulan jika intensitas serta tingginya curah hujan tidak mengalami penurunan, terang hariadi [ketua divisi pengembangan lazismu]

Longsoran tanah dan batu di gerbang desa lebakharjo kec. Ampel gading
Hariadi juga mengatakan bahwa masyarakat/warga terdampak bencana saat ini sangat membutuhkan berbagai bantuan [makanan-makanan instan, air mineral kemasan, layanan kesehatan, dll.] akibat terisolirnya desa lebakharjo karena akses jalan [di dua titik] keluar-masuk desa tersebut belum sepenuhnya rampung ataupun normal. tim mdmc dan lazismu adalah lembaga muhammadiyah yang mengawali [sebelum ormas atau lembaga lainnya] meninjau dan melakukan komunikasi langsung dengan warga masyarakat di beberapa dusun dan menghimpun data korban bencana.


Hariadi perwakilan lazismu [dua dari kanan] didampingi nurkholis anggota tim mdmc [kanan] menyerahkan bantuan dana melalui ketua pcm ampelgading [kiri] dikediaman bapak cahyadi disaksikan siyadi anggota PCM Ampelgading [kaos hijau]

Di tempat terpisah Herunanto E.[ketua lazismu], Rossi Hendrawan [ketua LPB/MDMC] dan Alfi Nurhidayat [PDM kabupaten Malang] juga terus melakukan koordinasi untuk secepatnya dapat melakukan aksi peduli lanjutan dengan menjalin komunikasi ke pihak-pihak terkait [jajaran dinas dan lembaga-lembaga pemkab malang] agar bantuan untuk korban bencana bisa intensif dan efektif dirasakan manfaatnya oleh warga/masyarakat korban bencana tidak hanya di saat sekarang saat siaga bencana, namun juga hingga nanti pasca bencana/recovery oleh Pem:kab Malang.(Hari)
Posted by Ridlo Posted on Juli 12, 2016 | No comments

Curah Hujan Masih Tinggi, Malang Belum Aman Bagi Warga


MALANG.KAB - Cukup tingginya curah hujan di wilayah Malang beberapa hari terakhir menyisakan keresahan warga, khususnya di kawasan Malang Selatan. Hujan yang sempat terjadi menimbulkan beberapa kejadian musibah yang mengkhawatirkan warga di sejumlah wilayah, yakni kecamatan Tirtoyudo dan Ampelgading.

Senin (11/7/2016) sore ini, turun hujan sedang diserta angin cukup kencang di sejumlah wilayah Kepanjen dan sekitarnya sesuai prakiraan laporan update peringatan dini cuaca yang dikeluarkan Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) Juanda, hari ini pukul 12.00 WIB. Berdasarkan data BMKG potensi hujan sedang diserta kilat/petir dan angin kencang ini terjadi di sejumlah daerah di Malang Raya, seperti Batu, Kepanjen bagian Timur, termasuk Lumajang bagian Timur.

Dikonfirmasi terkait potensi hujan lebat dan kemungkinan dampak yang ditumbulkan, kepala stasiun klimatologi BMKG Karangploso,  Hartanto mengungkapkan, sebagian wilayah masih belum memasuki musim kemarau, sehingga masih perlu diwaspadai adanya potensi hujan lebat disertai petir dan angin kencang (lokal). Potensi ini, katanya, terutama bisa terjadi di daerah pegunungan/dataran tinggi dan wilayah Malang atau Jatim bagian selatan.

Menurut laporan, curah hujan ekstrim (>50 mm/hari) terjadi di wilayah kecamatan Sitiarjo, yakni 141 mm. Curah hujan lainnya adalah di kawasan Supit Urang, Kota Malang, 92 mm, Munjungan Trenggalek sebesar 95 mm, dan Tempur sari Lumajang sebesar 84 mm.

Sebelumnya, pada Jumat 8 Juli 2016 lalu, dilaporkan telah terjadi musibah banjir bandang menerjang permukiman warga di enam RT desa Pujiharjo kecamatan Tirtoyudo akibat meluapnya sungai Tundo. Meski tidak ada korban jiwa, banjir ini merendam sebanyak 75 rumah dan material yang terbawa menutupi jalan desa sepanjang 400 meter dan saluran air minum 1 km.

Selain mengakibatkan rusak berat 4 rumah warga dan rusak ringan 71 rumah, banjir Pujiharjo juga menyebabkan korban terdampak. Rinciannya, korban balita 32 anak, lansia 21 orang dan usia sekolah SD 10 anak, yang harus mendapatkan perawatan. (rul)

Rabu, 06 Juli 2016

H. A. Rif'an Masykur, S.H., M.Hum. saat menyampaikan materi khutbah 'iedul Fitri 1437 H.
 di stadion Tumpang.

Pada Syawal 1437 H ini, PCM Tumpang menghadirkan .A.Rif'an Masykur, S.H., M.Hum. sebagai khotib sholat'ied yang digelar  di stadion Tumpang. Shalat dimulai pada pukul 06.30 wib [rabu,06/07/2016] diikuti tidak kurang dari 1000 jama'ah/warga/simpatisan muhammadiyah Tumpang dan sekitarnya tersebut berlangsung khidmat dengan penuh semarak syiar Islam.

Rif'an memulai khutbahnya dengan menggugah kesadaran diri kita yang berasal dari kesucian dan berjuang untuk mempertahankan kesucian itu. Suci dari kesalahan-kesalahan akibat pelanggaran yang kita lakukan terhadap hak-hak ilahiyah, juga suci dari dosa-dosa akibat pelanggaran terhadap hak-hak sesama. akan tetapi kesadaran untuk menjalankan ajaran islam belum berbanding lurus, sehingga warna budaya, praktek penyelenggaraan ekonomi, upaya penegakan hukum, transformasi dan dinamika politik serta semua praktek kehidupan bermasyarakat-berbangsa yang berkembang masih jauh dari nilai-nilai keislaman yang diharapkan.

Umat islam saat ini mengahadapi tren liberalisasi yang begitu luas pada semua lini kehidupan. hak asasi manusia (declaration of human right) yang dalam kontek historis merupakan ibu kandung dari liberalisme telah dimunculkan sebagai berhala baru untuk diagungkan dan disembah menggantikan ketaatan kita kepada Allah dan Rasulullah. pada sisi lain atas nama kearifan lokal dan industri wisata, kejahiliyahan klasik dibangkitkan untuk mencemooh ajaran al-qur'an dan as-sunnah sebagai arabisme yang asing di bumi nusantara/Indonesia. 4 syarat agar kita dapat membaca prilaku yang mengotori fitrah dan kita bisa tetap mempertahakan kesucian jiwa; 1. tauhid yang bersih dari kemusyrikan; membuang semua tuhan yang ada dalam hidup dan kembali kepada jiwa tauhid yang telah Allah tanam dalam hati setiap manusia agar tidak terperdaya janji-janji yang diberikan dari praktek kemusyrikan[QS.8 ayat;48], 2. menghindari perlombaan ke-duniaan.[QS.87 ayat; 14-17], 3. menjauhi makanan yang haram dan syubhat.[QS.2 ayat; 172-174] dan 4. menjauhi zina; "wahai manusia takutlah kalian kepada Allah dari perbuatan zina yang akan menjerumuskanmu pada 6 resiko, 3 resiko di dunia; hilangnya kewibawaan, mewariskan kemiskinan dan mengurangi jatah umur, resiko di akhirat; murka Allah, jeleknya nilai hisab atas amal dan adzab neraka".[shahih ibnu hibban], jelas Rif'an di akhir khutbahnya.

Jamaah sholat 'iedul fitri 1437 H.di stadion Tumpang

Dr. H. Mursidi, M.M. berada di shaf depan diantara para jama'ah sholat 'iedul fitri di stadion Tumpang.

Suasana selesai melaksanakan sholat Ied di PCM Tumpang

Momentum 'iedul fitri sebagaimana di tempat-tempat lain, kali ini pun usai pelaksaan sholat dan khutbah 'ied juga dijadikan ajang menjalin silaturrahin maupun reuni kilat antar unsur pimpinan dari masa ke masa, anggota/jama'ah, sesepuh/tokoh-tokoh [yang masih ada] pegiat perjuangan dakwah islam melalui persyarikatan muhammadiyah beserta jajaran muspika [camat, polsek, koramil, kades] tumpang, terang hariadi mantan sekretaris pcm tumpang periode 2005-2010. Allahu akbar.. Allahu akbar.. wa lillaahilhamd..



Selasa, 05 Juli 2016

Rossi H.[ketua mdmc kab. Malang], Fatoni/ketua mdmc Kota Malang [ketiga dari kiri], tim lazismu kota Malang dan perwakilan staf/perangkat desa [kedua dari kanan] serta beberapa warga penerima paket dhu'afa di balai desa Srigonco

Aksi peduli 2 lembaga, 2 daerah di 2 desa di kecamatan Bantur. sebuah kecamatan paling ujung selatan kabupaten Malang tepatnya daerah pesisir pantai selatan Lazismu kabupaten Malang membagikan 100 paket dhu’afa dan beberapa paket kelengkapan sekolah untuk siswa miskin di desa Srigonco pada kamis [30/06/2016].

Aksi yang dimulai pukul 15.00 wib.(ba’da sholat ashar) dipimpin oleh Kahar Masyhur, wakil ketua lazismu kab. malang, dan didampingi anggota tim lazismu Rosyidi, Hariadi dan Rohmad, Zainal [anggota PCM Pagelaran] langsung diterima oleh ustadz Daud (ketua PCM bantur) di kediamannya, yang dilanjutkan dengan penyerahan bantuan secara simbolis.

Penyerahan paket dhu'afa secara simbolis yg diterima langsung Edy Purwanto/
Kades Sumber Bening kec. Bantur. [kedua dari kiri]

Di hari kedua, lazismu kab. Malang bekerjasama dengan Lembaga Penanggulangan Bencana (LPB) atau yang biasa juga disebut Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) kabupaten dan kota Malang serta lazismu kota Malang membagikan paket dhu’afa dan 15 paket kelengkapan sekolah untuk siswa miskin di desa Srigonco dan desa Sumberbening, Sabtu [02/07/2016].

Aksi yang berlangsung sabtu pagi hingga siang hari ini dari lazismu kab. Malang di koordinir oleh Hariadi [ketua divisi pengembangan], Rossi Hendrawan [ketua MDMC kab. Malang], Fatoni [ketua MDMC kota malang] dan perwakilan lazismu kota Malang, dimulai dari balai desa srigonco yang diterima oleh perwakilan perangkat desa yang kemudian dilakukan penyerahan secara simbolis berupa puluhan paket sembako dhu’afa oleh lazismu dan MDMC kota malang dan 15 paket kelengkapan sekolah lazismu kab. Malang untuk siswa miskin oleh Rossi H.[ketua MDMC kab. malang]

Hariadi [anggota tim lazismu kab. malang] menyerahkan paket dhu'afa ke salah seorang warga di dusun pal songo desa srigonco kec. Bantur didampingi Zainal [anggota PCM Pagelaran]

Setelah di desa Srigonco, perjalanan berlanjut ke desa Sumberbening salah satu desa terdampak fenomena La nina yang terjadi di kabupaten Malang, berjarak sekitar 7-8 km. dari balai desa Srigonco. Sesampai di balai desa Sumberbening rombongan langsung diterima oleh Edy Purwanto [kades Sumberbening] yang didampingi beberapa staf perangkat desa. Di kesempatan ini Edy sangat mengapresiasi aksi peduli dan kesigapan muhammadiyah dalam hal tanggap bencana khususnya di daerah Malang selatan.

Rosyidi [sekretaris lazismu kab. malang] menyerahkan paket pendidikan ke salah seorang siswa kurang mampu di dusun pal songo desa Srigonco kec. bantur didampingi anggota PCM Bantur

Muhammadiyah melalui majelis-majelis maupun lembaga-lembaga yang ada akan terus melakukan peningkatan program-program kerja nyata [peduli maupun berbagi] yang akan mendatangkan manfaat bagi masyarakat. dengan aksi peduli 2 lembaga, 2 daerah di 2 desa di kecamatan bantur kali diharapkan menjadi awal silaturrahim akan hadir dan diterimanya muhammadiyah sebagai mitra da’wah islam yang menekankan kekuatan iman dan amal shaleh, pungkas hariadi yang mewakili lazismu kab. malang pada acara ceremonial penyerahan/penerimaan paket secara simbolis di balai desa Sumberbening. (Hari)

Minggu, 03 Juli 2016

*Jika ada kekeliruan atau kekurangan dengan informasi di bawah ini harap segera menghubungi Korps Muballigh Muhammadiyah (CMM) Malang Raya dan Majelis Pustaka & Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Malang.



Informasi Sholat Idul Adha 1437 H Kabupaten Malang

PenyelenggaraLokasiImam / Khotib
NgantangLapangan Stadion NgantangDrs. H. Bambang Eddy Irawan, M.Si.
PagakLapangan Sumbermanjing Kulon / Assalam (CL) PagakMujahidin Ahmad, S.Pt, MP, M.Sc
KendalpayakStadion KendalpayakH. Suwandi Tohari
TumpangStadion TumpangIr. H. Agus Purwadyo
PoncokusumoLapangan PoncokusumoFakhruddin Alamsyah. S.IKom
DauPerum. Pondok Bestari Indah LandungsariJamal Bakarisuk, M.Hi.
DauMasjid Al Furqon Lapangan SDN Mulyo Agung 1 & 3 DauDrs. H. Hablul Matin, MM
PakisLapangan PakisA. Chusnul Chuluq Ar. dr. MPH
TurenLapangan Gunung Kembar Turen Remas Al-MunawwarohDrs. H. Muh. Fahri MM
SingosariPusat Kerajinan Kendedes SingosariDrs. H. Rochmanu Fauzi
KepanjenHalaman Masjid Firdaus Semanding KepanjenSlamet Hariyono, S.Pd.
PCM GondanglegiStadion GondanglegiDrs. H. Fadlan
DauHalaman Masjid Baitulmakmur Villa Sengkaling DauDrs. H.A. Fuad Effendi, M.A.
PCM JabungPCM JabungDrs. H. Bahrul Ulum, M.Pd.
PCM Sumber PucungPCM Sumber PucungH. Hadi Santosa, S. Pd.
TajinanSumber Suko TajinanDrs. H. Usman Kasmin
KepanjenStadion KanjuruhanDrs. H. Munir, MA.
---
---
---




Informasi Sholat Idul Adha 1437 H Kota Malang

PenyelenggaraLokasiImam / Khotib
BlimbingHalaman Masjid Zamzam, Jl. Polowijen, BlimbingAbdurrohim Said, MA.
BlimbingHalaman Masjid PB. Sudirman, Jl. Tumenggung Suryo, BlimbingH. Farid Hamidi, Lc.
LowokwaruHalaman Masjid Nurul Huda, Jl.Ngantang, LowokwaruH. M. Purnomo Hadi
BlimbingLapangan Krido Utomo  Masjid Darussalam  Jl. Nikel, BlimbingDrs.H.Radix Mursenoadji
KlojenStadion Gajayana , KlojenHafidz, S.Pd, M.Pd.I
KedungkandangPR Gandum, KedungkandangMujaini, S.Ag, M.Pd.I
KedungkandangHalaman Masjid Mujahidin Mergosono, KedungkandangDrs. Pujianto
KedungkandangHalaman Masjid Al Fadilah Arjowinangun KedungkandangJunari, S.Ag
SawojajarHalaman Masjid Baiturrohmah Perumnas SawojajarDr. Zainul Mujahid, M.Hum
SawojajarHalaman Masjid Manarul Islam (CP) SawojajarDrs. H. Karmani Sulaiman
BlimbingHalaman Masjid Al Mannan Polehan, BlimbingDrs.H. Sudjoko Santoso
KedungkandangWetan PasarIr.H.Ichtibar Nawa Atmaja
KlojenMasjid Masjid Jend. A. Yani Jl. Kahuripan KlojenDr. Arifin, M.Si
KlojenHalaman Masjid Al Ikhlas (N-11) Raya LangsepDr. H. M. Nasikh, M.Si.
BlimbingHalaman Masjid As Salam (DM) ArjosariH. Imam Abda'i, SH. MM.
BlimbingHalaman. Masjid Al Firdaus (CV) Jl. CiliwungAhmad Sobrun Jamil, S.Si. M.p.
SukunLapangan SPMA TanjungrejoArif Zuhri, Lc.
PCM LowokwaruTaman Krida Budaya Jawa TimurDrs.H.Muhammad Nurul Humaidi, M.Ag.
KedungkandangHalaman Masjid Abdul Aziz Bin Baz (EO) TlogowaruM. Arief Hidayat
KedungkandangHalaman Masjid Al-Maghfirah Jl. Sentani SawojajarHasyim Azhari, S.Pd.I
KedungkandangHalaman Masjid Al Hasyr KedungkandangDr. H. Saad Ibrahim, MA.; Ketua PWM
BlimbingHalaman Masjid Cut Nyak Dien Jl. WidasDrs. Sirojuddin, A.Ma.
PRM Tlogomas, Lowokwaru Jl.Baiduri Pandan Sebelah Radio Andalus (Masjid Alhuda kd. BZ )Muhammad Latif Usman Lc.
BlimbingHalaman Panti KH. Mas Mansyur / al Ihsan  Jl. SulfatGonda Yumitro, S.Ip. MA.
BlimbingHalaman Masjid  Ar Ruhama' Jl. Ahmad Yani UtaraDr. Muhammad Ghazali, MA.
PRM Kebonsari, SukunHalaman Kantor SAMSAT Kota MalangDrs. H. Hedher Tuakia, M.Ag.
LowokwaruHalaman Masjid Mujahidin Jl.Candi MendutH. Ramedan, M.Pd.I 
BlimbingHalaman Masjid Abdillah (N-1) Jl. Raya SulfatH. Dwi Triyono, SH.
LowokwaruMasjid Abdullah (DA) bertempat di lapangan Tenis Permata JinggaDrs. H. Dlo'ul Qomar Suyuthi
KedungkandangHalaman Masjid Ki Ageng GribigDr. H. Abdul Haris, MA.
PRM Cemoro Kandang Buring Satelit, KedungkandangPRM Cemoro Kandang Buring SatelitDrs. Agus Purwadi, M.Si.
LowokwaruKampus 3 Universitas Widyagama MalangIr. Ngudi Tjahyono, M.Sc
LowokwaruKampus ABM / STIE MalangkucecwaraDrs. H. Ahmad Taufik Kusuma
PRM Gadang, SukunStadion GadangDrs. H. Umar Qusayyin Nurma
BlimbingNailul Hamam KalimosodoDrs.H. Nurdin Hasan, M.Ag.
LowokwaruHalaman PDM Kota Malang / Masjid Imam Bukhori Jl. GajayanaDrs. H. Bakhtiar Kholid, M.Si.
LowokwaruHalaman Masjid M. Hatta Jl.KameliaH. A. Rif'an Masykur, SH. M.Hum
KlojenHalaman RSI Aisyiah Jl. SulawesiDr. Triyo Supriyanto, M.Ag.
KepanjenHalaman Masjid Al Ishlah BumiayuAnas Yusuf, S.Pd.I
BlimbingHalaman Masjid Jannatul Qoror, Jl. SebukuDrs. Jeje Zainal Murod
LowokwaruPasar TawangmanguDrs. Abdul Majid Syam
KlojenHalaman Kantor Bakorwil Malang, Jl. Simpang IjenProf. Dr. Tobroni, M.Si.
LowokwaruHalaman Masjid Arafah Jl. VinoliaSuyanto, M. Pd
SukunHalaman Masjid Siti Masyitah KepuhDrs. H. Sumarto
SukunHalaman Masjid Al Furqan Kepuh Agus Liansyah, Sp.
KedungkandangGOR Ken ArokAhsan Ismail, BA.
SukunPondok Sukun Indah PRM Klyatan Kemantren SukunH. Sofyan Shofi, Lc.
BlimbingHalaman Masjid Sunan Kalijaga Jl. SerayuDr. Muchlis Mas'ud, MM.
KedungkandangMushalla At-Taqwa Bratan Timur Blok H-7 SawojajarAchmad Basyir, S.Pd.I
LowokwaruKampus POLINEMA Jl. Soekarno HattaDr. H. Su'aib H. Muhammad, M. Ag.
Kedungkandanghalm. Masjid Ramadhan, Jl.Paniai - SawojajarZakaria Subiantoro, SE
SukunMasjid Noer Salam / sepanjang jalan Simpang KepuhDrs.H. Junaidi, M.A
KedungkandangLapangan KedungkandangDrs. H. Ismail Ridlo, BA.
KlojenSimpang BalapanDr. H. Ermanu Azizul Hakim, MA.
BlimbingMasjid Al Hikmah Jl. EmasDr. H. Husni M. Sholeh, MA.
SukunHalaman Kampus STIKI TidarDrs. H. Taufik Burhan, M.Pd.
KlojenPasar ComboranDrs. H. Masrani
BlimbingHalaman SD Kartika IV-8 NarotamaM. Subkhi, M.Pd.
---
---
---
---




Informasi Sholat Idul Adha 1437 H Kota Batu

PenyelenggaraLokasiImam / Khotib
JunrejoMasjid Al-Hikmah JunrejoH. Abd Muis Miskah, Lc
BumiajiLapangan. Taman Rekreasi  SelectaSoleh Subagja, M.Pd.I
BatuStadion Gelora BrantasDrs. H. Khusnul Fathoni, M.Ag.
BumiajiGunungsari kec. BumiajiHendra Sukma, A.Md. Kp
JunrejoHalaman Kantor Kecamatan JunrejoMuhammad Budiaji, S.Pd.I
---
---
---
---
---




Informasi Sholat Idul Adha 1437 H Universitas Muhammadiyah Malang

PenyelenggaraLokasiImam / Khotib
UMMHelypad UMM Kampus 3Prof. Dr. Bachtiar Effendy, MA
(PP Muhammadiyah) 
UMMHalaman Kampus 2 UMM Jl. Bendungan SutamiAhmad Fatoni, Lc., M.Ag.




Informasi Sholat Idul Adha 1437 H di Luar Malang dengan Imam / Khotib dari CMM Malang

PenyelenggaraLokasiImam / Khotib
LumajangDesa Ranu Pane lereng gunung SemeruImam Sugandi
SurabayaHalaman Masjid  Mujahidin PerakIr.H. Andre Kurniawan, M.Ag.
Banjarbaru, Kalimantan SelatanBanjarbaru, Kalimantan SelatanIr. H. Suriansyah, M. Met.
SurabayaSD Muhammadiyah 26 PRM KeputihDrs. H. Husnun Djuraid, M.Si.
Banjarmasin Kalimantan SelatanHalaman Masjid Ar-Rahman Jl. Melayu DaratM. Syarif Hidayatullah, M.Ag.
ProbolinggoPaiton ProbolinggoDrs H.Adul Manaf, M.Pd
ProbolinggoKraksaan ProbolinggoH. Adul Rokhim Ismail
Kab. LumajangKab. LumajangDr. H. Zulfi Mubarak, M.Ag.
---
---