Selasa, 28 Juni 2016






Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.AP sebagai pembicara pada sesi pertama pada acara Tadarus Pemikiran Islam yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Islam dan Filsafat (PSIF) UMM bekerjasama dengan Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM) menyinggung soal kebermuhammadiyahan kita. Apakah yang bisa disebut orang Muhammadiyah itu mereka yang sudah ikut Darul Arqom, kemudian tidak muncul dalam gerakan Muhammadiyah? Sedangkan mereka yang sudah berkecimpung dan bergelut di Muhammadiyah sudah lama tapi tidak ikut Darul Arqom tidak bisa dikatakan sebagai orang Muhammadiyah? Inilah terkadang yang menghinggapi beberapa kalangan di Muhammadiyah, yang harus mulai direkonstruksi cara pandangnya. Berbagai cara bisa dilakukan dan diapresiasikan dalam tubuh Muhammadiyah yang besar ini. Termasuk yang hadir di forum ini, beragam latar belakang, mulai mahasiswa, akademisi, dosen, pimpinan ortom dan yang belum terlibat secara struktural baik di AUM maupun ortom, semua pasti punya kontribusi terhadap Muhammadiyah, tutur Muhadjir sambil tersenyum.

Acara yang berlangsung mulai hari Rabu - Kamis, 29 - 30 Juni 2016, di ruang Auditorium (AULA BAU) UMM ini, Mantan Rektor UMM juga menyoal tentang kaderisasi di Muhammadiyah. Menurutnya, Ortom Muhammadiyah bukan satu-satunya sumber kaderisasi Muhamadiyah, memang benar ortom adalah sumber utama, tapi bukan satu-satunya. Masih banyak institusi lainnya yang berkiprah dalam soal kaderisasi ini, jangan sampai terjebak pada gang-gang sempit, sebab sebelum ada ortom, Muhammadiyah sudah berkembang, pungkas Muhadjir. 

"Lihat saja di Perguruan Tinggi ternama di Indonesia, seperti Insitut Teknologi Bandung dan Universitas Brawijaya Malang dan lainnya, banyak kader Muhammadiyah yang berada di sana. Sedangkan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) sendiri terkadang perlu dipertanyakan. Kuliahnya saja mahal, masuk kedokteran 200 juta kemudian nanti lulus diharapkan mengabdi di PKU yang tidak digaji atau minim gajinya, apa mau? Itulah bukti contoh proses perkaderan yang harus direnungkan lagi", tegas Muhadjir selaku inisiator acara ini.

Ketua PP Muhammadiyah ini mengharapkan agar generasi tua, para pimpinan ortom dan AUM benar-benar harus memperhatikan kaum generasi muda di manapun berada. “Potensi besar Muhammadiyah ada di generasi muda”, Dahlan ketika berkreasi juga ketika di usia muda. Begitu juga bung Karno dalam berkiprah kebangsaan juga di usia muda. Karenanya memfasilitasi, mengapresiasi dan mengajak genarasi muda untuk terlibat di Muhammadiyah adalah suatu keharusan. (Hlm)

0 komentar:

Posting Komentar