Sabtu, 18 Juni 2016

Posted by hilmi Posted on Juni 18, 2016 | No comments

HW Selenggarakan Ramadhan Camp




Hizbul Wathan menjadi ciri khas sekolah-sekolah Muhammadiyah, sekaligus menjadi pembeda dengan sekolah-sekolah pada umumnya. Menindak lanjuti statemen tersebut, Padepokan Hizbul Wathan Kab. Malang tidak mau kehilangan momentum keberkahan Ramadhan dalam men-tarbiyah calon kader-kader pelangsung perjuangan Muhammadiyah.

Bertempat di komplek masjid Khodijah Kucur Dau Malang, kegiatan yang bertajuk “Ramadhan Camp Hizbul Wathan” diikuti oleh 48 peserta yang terdiri dari siswa-siswi Muhammadiyah tingkat SMA sederajat se-Malang Raya. Format perkaderan kali ini menitik-fokuskan pada tingkat Penghela, yang berorientasikan pada persiapan lahirnya para calon-calon Penuntun, sekaligus sebagai wahana transformasi bagi remaja menuju pendewasaan diri.
Kegiatan yang diadakan pada tanggal 18-19 Juni 2016 M, bertepatan dengan tangal 13-14 Ramadhan 1437 H ini, mengusung tema “Menumbuhkan Insan Kamil dengan Menjalin Silaturrahmi”, bertujuan mempererat silaturrahmi antar sesama kader, menjadi pribadi yang berkemajuan, sekaligus memupuk karakter pribadi yang berakhlak mulia.

Jenjang sistem perkaderan Hizbul Wathan dimulai dari tingkat Athfal, yang diperuntukkan bagi siswa-siswi Taman Kanak-kanak (TK) sampai Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah. Selanjutnya, untuk tingkat SMP sederajat dinamakan Pengenal. Adapun tingkat Penghela bagi siswa-siswi jenjang SMA sederajat dan paling atas adalah Penuntun bagi kader-kader Muhammadiyah di jenjang Perguruan Tinggi Muhammadiyah.

Ramadhan Camp yang diprakarsai oleh HW Padepokan ini menyajikan berbagai macam materi demi terwujudnya kader yang militant dan professional dalam berorganisasi. Di antaranya adalah penguatan ideologi ke-Muhammadiyahan dan keislaman, kepanduan HW, keorganisasian, kepemimpinan, dan motivasi.

Ustadz Insan Muhtadawan, S.Hi, selaku pemateri keorganisasin, mengingatkan kepada para kader muda Hizbul Wathan, bahwa “HW didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1918, jauh sebelum Indonesia merdeka, dan kemudian membekukan dirinya pada tahun 1959, karena mensikapi konstalasi politik nasional. Kemudian dibangkitkan kembali di akhir tahun 1999. Akankah kemudian kembali membeku karena menghadapi tantangan di kalangan internal Muhammadiyah sendiri?”. 

Kiranya pernyataan ust. Iwan –pangilan akrabnya- tersebut perlu mendapat perhatian serius bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sebab masih ada sekolah Muhmmadiyah yang belum atau masih kurang serius dalam menjadikan HW sebagai sistem kepanduan di lembaganya. (Mujtahid/ Hilmi).

0 komentar:

Posting Komentar