Rabu, 29 Juni 2016

Hajriyanto Y. Thohari (tengah) saat memberikan materi pada acara Tadarus Pemikira Islam
di AULA BAU UMM, 29 Juni 2016



Umat Islam di Indonesia adalah mayoritas dari segi quantitas, tetapi masih belum bisa berjalan beiringan dengan segi kualitasnya. Secara kualitas, masyarakat Islam masih belum bisa menampilkan dirinya di pucuk pimpinan yang bisa menentukan arah strategis roda lajunya bangsa Indonesia ini, ujar Dr. Hajriyanto Y. Thohari dalam acara Tadarus Pemikiran Islam di UMM, Rabu 29 Juni 2016. 

“Tidak mudah untuk mentransformasikan kekuatan ummat islam Indonesia menjadi kekuatan politik” tegas Hajiyanto. Apa yang menyebabkan itu semua? Menurutnya, hal itu disebabkan oleh karena masyarakat Islam Indonesia ini belum menjadi kekuatan ekonomi. Pada dasarnya kekuatan ekonomi itulah yang akan mampu mendorong menjadi kekuatan politik. Melirik pada masyarakat Tionghoa yang semakin menguasai bidang ekonomi, mereka akan dengan mulus bisa menguasai kekuatan ekonomi, demikian analisa Hajriyanto dalam acara yang diselenggarakan oleh PSIF dan JIMM ini. 

Menurut ketua PP Muhammadiyah ini, bagi Muhammadiyah, ada hal yang lebih mendasar lagi yang perlu diperhatikan, sebelum mentransformasikan dirinya (Muhammadiyah) sebagai kekuatan ekonomi dan politik. Apa itu? Muhammadiyah harus mempunya strategi kebudayaan, yakni membangun kohevisitas. Instrument kebudayaan menjadi sangat urgen dilakukan, karena kebudayaan lebih menekankan gerakan kultural, tentu lebih mengakar ke seluruh elemen masyarakat. Dalam kenyataanya, kohevisitas antar orang Muhammadiyah sangat lemah. Inilah yang perlu dirumuskan kembali agar terjalin hubungan yang intim di atas kepentingan bersama, papar anggota Dewan RI ini.(Hlm)

0 komentar:

Posting Komentar