Kamis, 28 April 2016

Posted by Muhammadiyah Malang Posted on April 28, 2016 | No comments

Ka’bah dan Doa Aneh Umar bin Khattab

Aku hanyut dalam gelombang semangat ratusan ribu manusia yang datang dari segala penjuru mata angin, menuju satu titik, syukur kalau bisa mendekati bangunan berasitektur sederhana, namun dilapisi kiswah hitam beraksen benang kuning dan beraura emas. Mendekati Ka'bah,  pasti yang menjadi titik incaran gelora jiwa ratusan ribu manusia sebagai manifestasi simbolik keakraban dengan Allah.

Adzan subuh baru saja dikumandangkan. Hadir, apalagi ingin mendekat pada bangunan segi empat warisan Nabi Adam itu,  pada saat adzan subuh berkumandang, adalah pilihan berisiko. Sekedar mendapatkan ruang sempit laiknya duduk di antara dua sujud dalam sholat, bahkan hanya di pelataran Masjid al Haram yang megah itu, tidaklah mudah. Sudahlah, abaikan pilihan berisiko ini. Ka'bah adalah magnet. Pertama kali berdiri persis di depannya sekitar hampir dua dekade silam, aku tak kuasa menahan tumpahan air mata. Perjumpaan pertama dengan sesuatu yang dipikirkan dan dirasakan dalam rentang waktu yang lama, pasti memberi kerinduan yang membuncah. Kata dan kalimat tak lagi kuasa memerantarai gejolak rindu itu. Cukuplah diam dan air mata  sebagai pengganti bahasa verbal. Ratusan ribu pasang kaki tetap saja merengsek ke jarak yang lebih dekat lagi.

Aku berbahagia, aku bisa hadir dalam jarak yang begitu rapat, bahkan sedemikian rapatnya dengan artefak yang terajut kuat dengan sejarah Ibrahim, Siti Hajar dan Ismail. Aku tidak mengalami histeria seperti saat perjumpaan pertama, tetapi mataku mulai membasah.

Dalam jarak yang sedemikian rapat, aku tetap mendengar derap langkah kaki dari berbagai arah, kendati iqamat  telah dikumandangkan sebagai pertanda shalat subuh segera dimulai. Aku menyukai momen solat shubuh. Sholat shubuh yang hanya dua rakaat bisa berdurasi cukup lama karena bacaan imam yang panjang dan sangat merdu. Imam beserta alunan bacaan al Qur'an melengkapi magnet Ka'bah dan suasana masjid yang mewah.

Aku paling menyukai Bandar Balilah setelah Syeikh Abdul Rahman as Sudais jarang tampil sebagai Imam. Pengaruh as Sudais lumayan kuat di Indonesia. Banyak Imam shalat di tanah air yang menjadikan as Sudais jadi "benchmark", kendati akhir-akhir ini ada upaya me-mainstream-langgam Jawa sebagai secuil dari  langgam Nusantara yang beragam. Dengan tetap mengingat as Sudais, aku mulai menyukai Bandar Balilah. Jika aku merindukannya, aku menikmatinya melalui YouTube. Bahkan ketika menghdapi "drama malam", aku menenangkan diri melalui Bandar Balilah. Ini bukan dongeng, tetapi betul-betul nyata, setidaknya begitu yang kurasakan. Di sebuah vila tua di Bogor, tepatnya Mega Mendung, aku dibangunkan secara paksa oleh sosok hitam yang terjun cepat dari atas langit-langit kamarku. Dan dalam sekejab, sosok hitam itu bermetamorfosis menjadi wanita berhijab serba hitam. Aku berteriak kuat hingga kawan di kamarku ikut terangkat. Aku dibekap gemetar. Masih dalam gemetar, aku lalu mengingat sopir travel yang bercerita ihwal keangkeran vila yang kutempati. Istighfar tidak cukup kuat menghilangkan gemetarku. Aku meraih gawaiku dan aplikasi YouTube menjadi sasaran telunjuk tangan kananku. Mendengar suara Bandar Balilah, aku terbangun kedua kalinya setelah adzan Shubuh terdengar dari jauh.

Imam shalat Shubuh pada hari ini, Kamis, 28 April, sepertinya bukan Bandar Balilah. Aku paham betul karakter suara lembut dan merdu, Imam jebolan doktoral dari Universitas Islam Madinah ini. Tetapi aku tetap menikmatinya. Kualitas estetikanya kala membaca ayat al Quran selepas bacaan al Fatihah, 11/12 dengan Bandar Balilah.  Abaikan siapa pemilik suara yang dinikmati jutaan manusia pada shubuh itu. Ada suatu yang menambah vibrasiku kala Imam sampai pada bagian akhir ayat 249 surat al Baqarah: "Berapa banyak yang terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah."

Umar, Khalifah Rasyidah kedua, katanya pernah melafadzkan doa yang aneh. Dia panjatkan kepada Allah agar dimasukkan ke golongan,  alih-alih mayoritas, justru minoritas yang dipilihnya. Potongan ayat dan doa Umar mengingatkanku pada Arnold Joseph Toynbee, sejarahwan berkebabangsaan Inggris yang masyhur dengan beberapa publiksinya yang monomemtal , antara lain A Study of History. Dari Toynbee yang juga menulis buku tentang sejarah umat manusia, aku mengingat konsep tentang "creative minority".

Dengan penafsiran ala kadarnya, ayat 249 tadi mengingatkan pada konsep ini. Bukan mayoritas, tetapi minoritas yang kreatif yang berpengaruh dan memenangkan kontestasi dalam beragam aspek. Seorang kawan rupanya galau dengan gambar yang melesat cepat lewat medsos Whatsapp, besutan imigran Ukraina yang Yahudi dan menetap di Amerika Serikat,  Jan Kaum. Kawanku mengunggah gambar seorang pemilik tv swasta yang berpenampilan tidak ubahnya seorang muslim yang dikerubuti  santri, padahal dia tidak bisa dimasukkan dalam statistika populasi muslim di Indonesia. Di jejaring tv yang dikuasainya, dia dengan begitu leluasa membesut iklan untuk mendongkrak citra dan segmentasi dirinya, tentu terhadap muslim yang mayoritas.

Jauh sebelum menikmati gambar yang menyebar selepas shubuh waktu Indonesia bagian barat, saya pada telah lama mengikuti aliran "meme" dan pesan yang cenderung negatif tentang seorang gubernur beretnis minoritas tapi dengan jumlah pendukung yang fanatik. Gubernur yang nantinya disebut petahana, kalau betul menjadi kandidat gubernur pada pertarungan panggung pilgub di ibu kota negara kita tahun 2017 nanti, membuat galau kelompok mayoritas yang hingga tulisan ini dibikin, masih bingung menentukan bakal lawan sebanding yang mampu "head to head" dengannya. Sepertinya golongan mayoritas tiba-tiba dihadapkan pada krisis persediaan pemimpin yang bisa menyaingi, lalu tampil menggantikannya.

Akar masalahnya, aku kira terletak pada "mental block", entahlah apa itu sentimen golongan di kalangan internalnya sendiri sehingga layaklah kalau kita dibilang sebagai kelompok dengan mental low trust,  jika meminjam konsep Francis  Fukuyama. Apakah sama sekali jarang atau bahkan nihil,  sekedar menentukan seorang tokoh yang mampu  bertanding dengannya secara "head to head". Aku kira karena kita telah terbelenggu pada krisis "trust" yang begitu parah, sebagai akar yang mengakibatkan tiba-tiba kita merasakan mengalami kevakuman tokoh yang bisa diterima, bahkan oleh kelompoknya sendiri. Ini mental jelek kaum mayoritas. Belum lagi mental jelek lainnya seperti mudahnya membuat musuh dari luar secara imajiner, padahal musuh yang sebenarnya adalah dirinya sendirinya.

                  -------

Dari kursi meja kursi di ruang kantorku, aku duduk tegak seperti menyerupai orang yang sedang meditasi. Aku memejamkan mata yang basah dengan air mata. Sholat shubuh di Masjidil Haram yang  kudengar melalui tv berlangganan di kantor pagi tadi, hampir usai. Aku tetap dalam suasana meditatif. Aku seperti tidak mau meninggalkan Ka'bah, kendati bukan fisikku yang merapat. Kalau saja Mas Irji'i,  staf paling sibuk dalam mengatur "flow" surat yang keluar/masuk  dari kantorku tidak datang,  mungkin aku masih tetap dalam posisi demikian, setidaknya beberapa menit selepas sholat shubuh di masjid yang selalu menjadi jujukan jutaan muslim dari berbagai sudut dunia. (Syamsul Arifin, Guru Besar dan Wakil Rektor 1 Universitas Muhammadiyah Malang)

Kedai Bakso Perpustakaan UMM Kampus Tiga, 28/4/2016.
Categories: ,

0 komentar:

Posting Komentar