Jumat, 24 Mei 2019

Posted by kholimi Posted on Mei 24, 2019 | No comments

Internet Itu Dari Dulu Tidak Aman, Jadi Jangan Khawatir

Internet adalah kumpulan beberapa jaringan komputer yang terhubung menjadi satu jaringan besar. Pada dasarnya, ketika kita melewatkan sebuah informasi melalui internet, maka otomatis informasi tersebut melalui berbagai jaringan-jaringan kecil yang bahkan kita tidak tahu apakah pemilik atau orang yang berwenang di jaringan yang dilewati itu bisa dipercaya atau tidak.

Ketika kita mengirim sebuah surat melalui jasa pengiriman pos, tentu kita paham, tidak semua oknum pegawai jasa pengiriman pos tersebut bisa dipercaya. Oleh sebab itu, kita memasukkan surat kita tersebut ke dalam amplop. Semakin berharga surat tersebut, amplop yang digunakan juga semakin bermutu, dan bersegel yang kuat.

Berbicara tentang surat elektronik (surel) itu hampir sama seperti berbicara tentang surat pada umumnya. Penyedia Jasa Layanan Internet yang kita pakai bisa jadi ada oknum yang tidak bisa dipercaya. Apalagi, informasi yang kita kirimkan tidak hanya melalui penyedia jasa layanan internet yang kita pakai. Untuk mengatasi hal ini, di internet berkembang teknologi https misalnya, yang akan merahasiakan isi dari informasi yang terkirim melalui internet. Walaupun https belum bisa menjaga informasi tentang dari dan ke perangkat mana informasi tersebut bergerak serta jenis informasi apakah yang dikirimkan (jenis informasi: text, gambar, video, dll), tapi isinya masih bisa terjaga dengan baik sehingga aman dari kebocoran informasi terlebih lagi dari perubahan isi informasi.

Virtual Private Network (VPN) adalah salah satu teknologi yang membungkus kelemahan https. Jika https menutup informasi tentang isi datanya, maka VPN menutup pintu informasi dari dan kepada siapa informasi tersebut dikirim serta jenis file apa yang dikirim. Hal inilah yang membuat VPN sulit diblokir ketika salah satu alamat di internet di blokir. Karena memblokir VPN berarti memblokir internet.

Pakai VPN dan Https, tapi kok masih kebobolan?
VPN dan HTTPS mungkin aman, namun masih ada potensi kebobolan. Ada dua kemungkinan sumber kebocoran informasi, pertama komputer pengguna dan kedua, server yang dituju. Komputer pengguna merupakan sumber terbanyak kebocoran informasi, mulai dari sistem di sisi pengguna yang tidak pernah diupdate, sampai terinstalnya malware di sistem pengguna tersebut. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan kesalahan di sisi sistem server. Sebagai misal, salah satu teman dekat penulis pernah mengalami kehilangan uang di bank. Pada awalnya pihak bank tidak mau mengakui kesalahannya, setelah berbagai bukti diberikan, akhirnya bank mau mengakui bahwa kesalahan memang ada di sistem transaksi mobile banking-nya.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa sistem VPN dan HTTPS sebenarnya cukup aman, dan kebocoran informasi biasanya berasal dari ujung ke ujung, yakni sistem pengguna atau sistem server. Terlalu menyalahkan teknologi VPN adalah kurang tepat. Bagi pengguna VPN gratis, cari aplikasi VPN yang terpercaya, yang dipastikan tidak menanam malware di sistem anda.

Malang,
20 Ramadhan 1440/ 25 Mei 2019
Ali S Kholimi

Minggu, 28 April 2019

Posted by hilmi Posted on April 28, 2019 | No comments

Pengajian PCM Dau; Hakikat Puasa adalah Menahan

Drs. M. Nurul Humaidi, M.Ag saat memberikan taushiyah pada pengajian rutin PCM Dau, Ahad (28/04/2019)

Malangmu.or.id -- "Ramadhan, Bulan Perbaikan Diri" menjadi tema pengajian rutin Pimpinan Cabang Muhammadiyah Dau dalam rangka sambut bulan suci Ramadhan 1440H. Kegiatan yang bertempat di Cafe Pan Java Mulyoagung, Ahad 28 April 2019 menghadirkan Drs. M. Nurul Humaidi, M.Ag sebagai pemateri.

Tempat kegiatan yang tidak seperti biasanya di masjid-masjid se-kecamatan Dau menjadi daya tarik warga Muhammadiyah. Lebih dari 200 peserta pengajian memadati ruang Cafe Pan Java yang tidak lama dibangun ini.

"Esensi Puasa pada hakikatnya terkandung dalam kata puasa itu sendiri", kata Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang ini. Puasa berasal dari kata Sanskerta yang bermakna menahan. Jadi, puasa itu berarti menahan, ngempet (bahasa jawa). Sehingga, kalau boleh dikatakan, rukun Islam keempat adalah ngempet, tegasnya, yang disambut geer (tertawa) hadirin.

Bulan Ramadhan adalah wahana ltihan ngempet. Kalau bapak-ibu semua ngempet berarti puasa. Ada orang yang tidak makan dan minum, tapi tidak dikatakan berpuasa, kerena tidak bisa menahan. Tegas Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang ini. Oleh karenanya, berpuasa itu menahan, menjaga lisan dan perbuatan dari hal-hal yang telah dilarang Allah SWT.

Suasana Pengajian PCM Dau di Cafe Pan Java Mulyoagung, Ahad (28/04/2019)

Dengan berpuasa, manusia menjadi mulia. Semakin besar kekuatan manusia untuk menahan, maka semakin mulia seseorang. Terangnya. Adam dan Hawa terkena rayuan iblis, yang mengakibatkan dikeluarkannya dari surga. Ada sifat serakah, tidak bisa menahan nafsunya. Ingin mendapatkan sesuatu yang lebih. Lanjutnya.

Nah, ketidakpuasan, tidak bisa ngempet  inilah yang kemudian menyebabkan seseorang jatuh, sengsara, turun derajatnya. Maka, kita sebagai manusia yang memiliki potensi tidak bisa menahan, diberikan pelatihan atau pendidikan yang bernama shaum (puasa).

Mari kita introspeksi, ajak Kyai yang humoris ini, kita sudah berapa kali melanggar aturan Allah? Adam hanya sekali melanggar sudah dihukum. Oleh karenanya, beribadah puasa hanya berharap ridla Allah SWT, bukan dikarenakan hal-hal lain yang menyebabkan gugur pahala puasa. (Hil)

Minggu, 20 Januari 2019

Drs. Nuruddin, M.Si, Dosen prodi Komunikasi UMM, Ketua MPI PDM Kab. Malang.

Malangmu.or.id - UMM. MINATNYA pada kajian media sosial dan media massa pada umumnya mendorong Nurudin untuk menelurkan banyak buku. Buku teranyarnya _Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial_ menyajikan ulasan menarik dan tuntas seputar kemunculan media baru satu ini. Salah satu perkembangan yang menarik untuk dikaji dari media sosial menurutnya adalah semakin marak beredarnya berita bohong atau hoaks.

Media sosial telah tumbuh dan sangat menentukan sikap dan perilaku masyarakat milenial. Bahkan, dijelaskan Nurudin, ia berkembang atau sengaja dikembangkan seolah sebagai agama. Karenanya, masyarakat cenderung mengaca pada media sosial, layaknya ajaran agama itu. “Padahal sebagian pesan media sosial perlu diyakini sebagai sebuah kebohongan yang dilegalkan,” kata dosen program studi (Prodi) Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini, Selasa (16/1).

Tentu saja, sambung Nurudin, dampak carut-marut pesan media sosial tidak hanya Hoaks dimana-mana, tetapi juga suasana saling membenci, mencaci, dan menghujat antar sesama. “Melihat perkembanganya, media sosial nyata telah mengancam disintegrasi bangsa. Media sosial telah menciptakan komunikasi di masyarakat berjalan dengan tidak tulus,” ungkap pria berkumis yang menerbitkan belasan buku ini.

Buku _Media Sosial: Agama Baru Masyarakat Milenial_ mengeksplorasi mengapa itu terjadi, bagaimana dampaknya dan apa yang harus dilakukan agar media sosial tidak dijadikan kambing hitam semua sebab. Buku yang ditulis berdasar penelitian dan tulisan-tulisannya di media massa ini merekam jejak pasang surut pengguna media sosial dan dampaknya di masyarakat serta solusi yang harus dilakukan.

Penyebaran hoaks, ternyata bisa dilakukan siapapun. Tak dipungkiri masyarakat tengah dimabuk dan dimudahkan dengan teknologi. Mereka kebanyakan menyebar berita, bukan berdasarkan benar-salahnya. Melainkan sesuai dengan kecenderungan dirinya. “Otak kita seringkali kalah cepat dari jempol kita. Apalagi di tengah situasi politik saat ini, tidak bisa dipungkiri hoaks menjadi sangat politis,” ungkapnya.

Media sosial menjadi lahan paling subur penyebaran Hoaks. Sementara di media mainstream hoaks dapat ditekan karena terduri dari sistem kemediaan yang dituntut profesional. “Mereka punya karyawan, punya pembaca, punya penonton, sehingga kalau menyebar hoaks, ya, mesti hati-hati. Kalau tidak, akan diingatkan oleh aparat hukum. Konsekuensi terberatnya, media itu bakal bubar,” bebernya.

Sementara hoaks, biasanya disebarkan oleh aktor individual. Jika terindikasi akun yang dikelolanya terbukti melakukan aksi penyebaran hoaks, mudah saja, yang lantas dilakukan adalah menghapus akunnya. “Masalahnya di manapun dan kapanpun, hemat saya media itu lebih banyak menginduk kepada penguasa. Kita tidak usah mengkritik fenomena sekarang, memang sejak dulu sudah seperti itu,” ungkapnya.

Tugas mencerdaskan masyarakat tentang melek media, tegas Nurudin, bukan cuma tugas para akademisi seperti dirinya. ”Kalau saya sendiri, dalam setiap perkuliahan, pergaulan dan diskusi saya selalu menekankan untuk selalu melek media. Melek media itu adalah kita sadar media selalu punya dampak negatif. Kalau sudah sadar, orang cenderung berhati-hati. Inilah yang kita sebut dengan praktik media literasi,” sebutnya.

Perhatian besarnya pada gerakan literasi media yang akhirnya mangantarkan Nurudin mendapat ganjaran ketua Prodi terbaik dari Kopertis Jawa Timur saat menjabat sebagai Ketua Prodi Ilmu Komunikasi beberapa tahun silam. “Beberapa kali kami lakukan kegiatan literasi media ke SMP-SMA yang menurut kami jadi sasaran empuk Hoaks. Meskipun disadari, menangkal penyebaran hoaks itu sangat sulit,” tuturnya. (rid)
Posted by Ridlo Posted on Januari 20, 2019 | No comments

Sekum PP Muhammadiyah Lantik Khusus PRM Baru

Sekum PP Muhammadiyah selesai melantik PRM Genengan menyempatkan waktu foto bersama
dengan jajaran pengurus Muhammadiyah kab. Malang

Malangmu-PAKISAJI. Ada yang istimewa pada acara pengajian daerah Muhammadiyah kali ini. Ini jarang sekali dilakukan. Sekretaris Pimpinan Pusat Muhammadiyah melantik  Pimpinan Ranting Muhammadiyah dan Aisyiyah Genengan serta Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 11 Pakiaji yang baru saja dibentuk dan dipilih. Idealnya pelantikan setingkat PRM hanya dilakukan oleh Pimpinan Cabang, tapi kali ini dilantik khusus oleh Sekretaris Umum PPM.

Dr. H. Abdul Mu’ti  M.Ed. dengan antusias dan bersemangat membacakan naskah pelantikan pimpinan ranting baru dibentuk baik Muhammadiyah maupun Aisyiyah dan Kepala Sekolah  SMP Muhammadiyah 11 Pakisaji. Pelantikan berjalan dengan hikmat dan lancar dan diakhiri dengan bersalaman dan berfoto bersama.

Bersamaan dengan itu, penandanganan prasasti pembangunan masjid al hikmah Lawing juga dilakukan oleh Sekum PP Muh dan ketua PDM kabupaten Malang. “Semoga pembangunan masjid ini akan bisa membawa kita ke surga, “harap  Abdul Mu’ti dalam pidato sambutannya.

Mursidi, Ketua PDM Kab. Malang mengatakan semoga dengan dialantiknya pimpinan ranting baru Muhammadiyah dan Aisyiyah serta Kepala Sekolah  bisa membrikan semangat dan niat untuk benar-benar bergerak untuk kemajuan Muhammadiyah (rid).
Atraksi Tapak Suci siswa SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen, memeriahkan pembukaan
Pengajian Daerah Muhammadiyah di Pakisaji.

Malangmu-PAKISAJI. Dentuman suara bass drum dan sirine  dengan irama rancak drumband TK ABA 21 Pakisaji  menyemarakkan rangkaian pra acara pengajian  Daerah Muhammadiyah Kabupaten Malang (20/1/19). Berlokasi di area halaman pabrik Pusri Nggenengan Pakisaji , PCM Pakisaji telah menyediakan tenda besar dan panggung  memadai. Tenda itu bisa menampung   ribuan peserta pengajian yang terdiri dari pengurus PCM, PRM dan jajaran pengurus AUM serta warga Muhammadiyah semalang Raya.

Acara itu kemudian dimeriahkan juga dengan  atraksi Drumband TK ABA, Tari Saman Aceh, Lantunan Asmaul Husna, Alunan ayat Quran dari TPQ Darul Arqom Muhammadiyah, Puisi dari SMP Muhammadiyah Pakisaji serta Atraksi Tapak Suci SMK Muhammadiyah 1 Kepanjen. Disamping itu, hadir juga bus donor darah PMI Kota Malang yang bisa memberikan kesempatan kepada peserta untuk mendonorkan darahnya dan cek kesehatan gratis. Donor ini diprakarsai oleh Remaja Masjid Muhammadiyah  Darul Hikmah  Pakisaji.

Salah satu peserta pengajian sedang mendonorkan darah di mobil donor milik PMI Kota Malang.

Pengajian Daerah Muhammadiyah di Pakisaji ini dihadiri oleh Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Dr. Abdul Mu’ti, MED sekaligus sebagai pembicara utama.  Saat diminta pendapatnya terkait pembicara, Nurul Humidi, skretaris Umum PDM Kab. Malang  mengatakan karena ia memang capable untuk memberikan informasi strategis dan terkini mengenai perkembangan Muhammadiyah dan Negara.

“Pak Mu’ti tentu punya informasi akurat dan berguna bagi warga persyarikatan. Maka ia kita undang.  Harapan saya, semoga pengajian ini  memberikan banyak pencerahan tentang Muhammadiyah ditahun politik ini, ”pungkas Nurul yang juga Wakil Dekan III FAI UMM ini.

Menyemarakkan pengajian kali ini, di sekitar panggung  dilengkapi dengan  stand-stand bazar produk Muhammadiyah yang dibina oleh Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan PDM kabupaten Malang. Aneka olahan makanan, produk kerajinan, unit unit usaha, produk jasa dan serba serbi barang Muhammadiyah juga disuguhkan. KecapMu, salah satu produk usaha Muhammadiyah Singosari selalu hadir menyemarakkan bazar stand Muhammadiyah.

Pengurus Lazismu sedang menunjukkan kecapmu di arena stand Bazar pengajian PDM Kab Malang di halaman
pabrik Pusri Genengan Pakisaji

Seperti biasa, Lazismu kabupaten Malang telah menyiapkan paket bantuan untuk kaum duafa disekitar acara pengajian.  “Ini bagian dari kegiatan rutin Lazismu, dimana setiap ada acara event Muhammadiyah selalu kita sediakan paket paket bantuan yang akan diberikan kepada yang berhak”, jelas Imam, salah satu pengurus Lazismu kabupaten Malang kepada malangmu (rid).

Jumat, 28 Desember 2018

Posted by hilmi Posted on Desember 28, 2018 | No comments

Ada Empat Nilai Mendasar yang Ditanamkan Dalam Famgath

TR. Sengkaling UMM, Lokasi Famgath ke-7, 29-30 Des 2018
Malangmu.or.id -- Sabtu, 29 Desember 2018 adalah hari dimulainya Family Gathering (Famgath) Muhammadiyah Jatim  ke-7 yang bertempat di Taman Rekreasi Sengkaling UMM. Acara yang bakal dilaksanakan hingga Ahad, 30 Desember 2018 ini memiliki makna penting bagi persyarikatan muhammadiyah.

Apa maksud dan tujuan diaelenggarakan Famgath hingga terlaksana di tahun ke-7 ini? Berikut tulisan Nadjib Hamid selaku Koordinator utama kegiatan ini.

Famgath merupakan bentuk kegiatan perkaderan kultural, yang melibatkan keluarga aktivis, bernuansa rekreatif dan bermuatan ideologis. Tujuannya, merawat keluarga kader Sang Surya agar tetap solid dan dapat mewujudkan nilai-nilai ke-Islaman dalam kehidupan keseharian, di lingkungan keluarga. Sekaligus untuk menjaga kesinambungan antargenerasi, agar tidak terputus dengan generasi kedua, ketiga, dan seterusnya.

Kehadiran model perkaderan yang kali pertama diadakan pada 2011 ini, merupakan wujud ikhtiar jama’i, untuk menjaga dan merawat Keluarga Kader Sang Surya. Karena sifatnya yang kultural, kepesertaannya tanpa dibatasi oleh latar historis seseorang, ataupun jabatan yang sekarang disandang.

Siapa saja yang berminat, asalkan punya komitmen kuat dan kontributif pada gerakan dakwah, bisa bergabung. Karena justru sisi positif dari para “muallaf” seperti itu, kerap lebih militan dibanding yang mengaku kader asli.

Semula yang mengikuti terbatas, hanya sekitar 40 peserta dari 10 keluarga. Dalam perjalanannya menarik berbagai kalangan luas. Bukan saja dari daerah-daerah di Jawa Timur, tapi juga luar provinsi. Seperti Samarinda, Kaltara, Makassar, Jakarta, Klaten, dan Yogyakarta. Pada Famgath ke-6, lebih dari 450 peserta ikut memeriahkannya. Dan, tahun ini sudah terdaftar lebih dari 650 orang.

Banyaknya peserta yang hadir secara sukarela, menepis sinyalemen adanya krisis kader di lingkungan Muhammadiyah. Karena sejatinya memang banyak kader, cuma belum terhimpun dengan baik. Terbukti, melalui kegiatan ini, tergali banyak kader potensial.

Desain kegiatannya, bernuansa rekreatif. Agar di tengah kesibukan rutin masing-masing, kegiatan ini bisa menjadi alternatif refreshing bagi keluarga yang bersangkutan. Acaranya unik, berbeda dengan kegiatan formal, dan menggembirakan untuk semua usia, dipenuhi door prize menarik yang disediakan oleh sesama. Selain taushiyah, ada dongeng dan sulap, game, outbond, futsal, renang, dan lomba hafalan al-Quran. Penyelenggaraannya selalu di tempat terbuka, pada waktu liburan sekolah.
Materi acaranya, bermuatan Ideologis. Beberapa nilai ideologis coba ditanamkan. Antara lain:

Pertama, keteladanan. Semua peserta, tua muda, diajak shalat berjamaah, kemudian kultum bergantian. Dari forum ini, lahir gagasan segar, curhatan lucu, contoh-contoh amalan yang berkah. Juga kisah-kisah inspiratif mengenai perjumpaannya dengan Muhammadiyah.

Kedua, solidaritas sosial. Doktrin al-Ma’un mengenai kepedulian dan berbagi dengan sesama, dipraktikkan langsung. Misalnya, dari sisi pembiayaan. Seluruhnya ditanggung renteng oleh peserta sendiri dengan cara urunan sukarela sesuai kemampuan, tanpa mengganggu uang Persyarikatan. Ada yang nyumbang uang, barang konsumsi, dan aneka hadiah. Semua berlomba berbagi, menyumbangkan apa yang dipunyai. Jika lebih, disumbangkan untuk pemberdayaan kader.

Ketiga, kebersamaan. Tidak boleh ada yang merasa jadi tamu dan minta dilayani, tapi harus saling melayani. Peserta bisa tidur bersama di tempat sederhana, bersih-bersih bersama di ruang pertemuan, menyiapkan sarapan bersama, dan sebagainya.

Keempat, regenerasi. Seperti dinyatakan Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jatim, Saad Ibrahim, masa depan Muhammadiyah harus bisa diproyeksikan sejak awal. Karena segala sesuatu tidak ada yang ujuk-ujuk. “Famget ini bagian dari proyeksi masa depan keluarga Muhammadiyah, atau gerakan untuk mendesain generasi masa depan.”

Famgath sebagai salah satu contoh model, diharapkan bisa mengilhami daerah-daerah untuk melakukan hal serupa, dalam bentuknya yang khas, sesuai kondisi lokal masing-masing.

Penting dicatat, meski Famgath adalah gerakan kultural, tapi tetap perlu *manajemen yang bagus* dan *menggembirakan*, bukan manajemen bisnis. Jangan sampai ada yang merasa terintimidasi, lalu tidak nyaman bergabung. Misalnya, gara-gara sering _diobrak-obrak_ soal kontribusi dana, lalu memilih tidak ikut. Padahal, dari awal diniatkan untuk saling membantu. Bagi yang punya kemampuan lebih, terketuk hatinya untuk membantu yang kurang mampu, dengan senang hati.

Siapkah kita semua menyukseskan Famgath ke-7 ini? Semoga!

Minggu, 16 Desember 2018

Posted by hilmi Posted on Desember 16, 2018 | No comments

Beberapa Pesan Ketua PDM pada Acara Muspimcab Dau


Ketua PDM kab. Malang, Dr. Mursidi, M.M, (foto kiri) dalam acara Muspimcab Dau, Ahad 16/12/2018

Malangmu.or.id – Pimpinan Cabang Muhammadiyah dan Aisyiyah Dau kabupaten Malang menyelenggarakan Musyawarah Pimpinan Cabang (Muspimcab) di Perguruan Muhammadiyah Dau pada Ahad, 16 Desember 2018. Dihadiri oleh perwakilan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) & Aisyiyah (PRA) se-Dau serta pimpinan Amal Usaha di bidang pendidikan dan sosial se-Dau. Total lebih dari 100 peserta hadir dalam acara tersebut.

Hadir pula dalam acara ini, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) kabupaten Malang, Dr. Mursidi, M.M. Dalam sambutannya, Ketua PDM berharap agar acara Muspimcab bisa dimaksimalkan sebagai wahana evaluasi program kerja. Selain itu, Muspimcab dilaksanakan untuk menyelesaikan masalah penting yang sedang dihadapi. Bahkan, menurutnya, jika perlu pergantian pimpinan, forum Muspimcab bisa digunakan untuk mengganti kepengurusan.

Terkait dengan tema besar yang diangkat dalam Muspimcab ini, yakni Peluang dan tantangan Muhammadiyah Boarding School Dau, Mursidi mengingatkan bahwa falsafah K.H. Ahmad Dahlan tentang hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah, tidak bisa dibuat alasan untuk memajukan lembaga pendidikan. “Kita jangan terganjal dengan falsafah hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Sebab, kalau di sekolah itu beda. Jika mengelolah lembaga sekolah itu tidak maju akan dicaci maki. Sedangkan untuk memajukan sekolah itu perlu biaya. Maka, wajar jika sekolah itu mahal yang penting bisa maju berkembang”. Tuturnya.

Ongkos, biaya yang harus dikeluarkan sekolah yang unggul, maju itu besar. Dulu, cerita Mursidi, ketika Pak Menteri Pendidikan, Prof. Dr. Muhajdir Effendy, menjadi Rektor UMM, menaikkan SPP dikritik sana sini karena dianggap mahal. Tetapi, menaikkan SPP itu digunakan untuk memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya.Walhasil, UMM jadilah seperti ini. Ungkapnya.

Doktor Manajemen yang kini menjadi Direktur Rumah Sakit UMM ini juga berpesan kepada peserta yang hadir, bahwa bermuhammadiyah itu harus dengan perasaan senang dan gembira. Senang dan gembira akan memunculkan sikap yang produktif, dinamis demi persyarikatan. Selain itu, dengan masuk menjadi anggota Muhammadiyah, kita harus berani bersumpah layaknya kita berikrar inna shalaati wanushuuqi, wa mahyaaya, wa mamaati, lillaahi Rabbil ‘Alamin..... Ikrar ini dimaksudkan demi merawat gerakan dakwah kita. Perjuangan pengembangkan dakwah Islam melalui Muhammadiyah harus timbul dari hati yang ihlas lillaahi ta’ala.

 
Pesan lainnya adalah orang Muhammadiyah itu memiliki sifat pemaaf. Pribadi yang pemaaf biasanya senantiasa senyum, senang dan gembira. Juga, Tidak memiliki beban dalam melangkah. Sedangkan pesan terahir adalah menjaga tauhid. “Mari kita jaga tauhid kita.” Ajak Pria yang berdomisili di Tumpang ini. Muhammadiyah dari awal berdirinya bersikap tegas terhadap perilaku musyrik. Tauhid harus senantiasa dijaga agar aqidah kita tetap murni. Tidak tercampur dengan hal-hal yang mengarah kesyirikan yang itu semua merusak amal ibadah kita. jelasnya. (hil)